
"Pesawat Lo besok jam satu siang, Ka. Dua tiket, kan?" Teddy menghenyakkan bokongnya pada kursi yang berada di hadapan meja kerja Raka.
"Lo kalo mau ikut juga nggak apa," ujar Raka memutar pena di jari tangannya.
"Nggak deh, gue ada acara."
"Cie, yang pedekate cieeee," goda Raka.
"Dia lagi marah sama gue," ujar Teddy mengalihkan pandangannya ke sudut meja.
"Melly?"
"Ck." Teddy berdecak.
"Susah hati banget lo." Raka menyipitkan matanya.
"Siti, Ka. Liat gue kemarin di Mall sama Melly."
"Nah ... mamam dah." Raka tertawa.
"Anjriitt, malah ketawa ... bantuin kek."
"Lagi lo aneh banget, deketin cewek masih jalan sama cewek lain," ujar Raka. "Lebih parah dari gue, kan?"
"Iya, tapi gue sama Melly kan dari dulu juga nggak jadian, Ka."
"Nggak jadian sih, tapi lo jamah." Raka meraih ponselnya.
"Jadi, gimana gue ini Ka?"
"Apa?"
"Bantuin ngapa," kata Teddy kesal.
"Lah, seorang Teddy loh ini minta bantuan Raka, selain pekerjaan itu suatu hal yang langka."
"Ka, lo cukup bantu gue, nggak usah muji-muji gitu," sungut Teddy.
"Dih, maksa."
"Ka, selama ini kan gue udah—"
"Iya, gue sadar diri ... gitu aja perhitungan lo." Raka menunggu panggilan teleponnya terhubung.
"Halo, Sayang." Raka menaik turunkan alisnya, seakan memamerkan kemesraannya di depan Teddy.
"Soyang Sayang ...," cebik Teddy.
"Siang ini makan bareng, mau?"
"Aku hari ini ada meeting di Kelapa Gading, kamu susulin kesini ya," jawab Azzura.
"Ok, meluncur. See you Bolo Bolo."
"Bolo-bolo? Apaan sih, Ka." Azzura tertawa mendengar panggilan sayang Raka untuknya.
"Ka, gue minta bantuan, bukan malah dengerin lo sayang-sayangan." Teddy mulai kesal lalu melangkah keluar ruangan.
"Ya terserah elo, mau ikut apa nggak. Kalo ikut ketemu Siti kalo nggak ya lo urus sendiri."
Teddy menghentikan langkahnya dan berbalik melangkah ke arah Raka.
"Gue ikut," ujar Teddy. "Lo nggak bilang kalo Siti pergi sama Azzura." Teddy lalu tersenyum. "Makasih ya, Bro."
Raka menirukan ucapan lelaki itu tanpa suara dengan ekspresi wajah yang aneh.
"Kali ini gue traktir," ujar Teddy lagi lalu melangkah pergi.
*****
Matahari siang itu menorehkan terik yang sangat pekat, meski jalanan Jakarta cukup lengang. CRV putih milik Raka terparkir di salah satu Mall terbesar di daerah itu. Makan siang kali ini, Teddy yang memilih tempatnya karena Teddy tahu jika Siti menyukai masakan Jepang.
"Sayang," panggil Azzura dengan melambaikan tangan pada Raka.
"Itu mereka, Ted." Raka menghampiri meja yang sudah di pesan oleh Azzura. "Sudah lama?" tanya Raka memberikan kecupan di kening kekasihnya kemudian menarik kursi tepat di sisi Azzura.
__ADS_1
"15 menit," jawab Azzura melirik jam tangannya. "Kamu mau pesan apa?" tanya Azzura.
"Apa aja," jawab Raka melirik Teddy yang baru kali ini diam seribu bahasa. "Pesan apa, Ted?"
"Apa aja, terserah ... pesan kesabaran juga boleh," ucapnya menoleh Siti yang duduk di sebelahnya.
"Mana ada yang jual, aneh lo. Samain aja deh, Ra ... ntar makin lama kalo nungguin dia."
Selama acara makan siang bersama itu, hanya Azzura dan Raka yang banyak bicara. Walaupun sesekali Teddy ataupun Siti ikut mengomentari.
"Nonton?" tanya Azzura.
"Kamu udah nggak ada kerjaan, kan?"
"Nggak sih, tapi aku belum packing," ujar gadis itu.
"Nonton cuma dua jam, ini masih jam dua. Pulang nanti aku antar, biar mobil aku di bawa Teddy."
"Gimana, Ti? ikut nonton, ya?" tanya Azzura pada Siti yang sedang menyesap minumannya.
"Em ...."
"Ikut. Eh, maksud aku ... aku ikut nonton. Gimana, Ti? ikut aja ya, nggak mungkin kan aku nonton sendiri terus kamu pulang naek bis," ujar Teddy menatap mata Siti.
"Bisa aja, Bambang," kekeh Raka.
Siti hanya bisa mengangguk, gadis pendiam itu hanya menurut perintah Azzura. Sudah dua tahun Siti menjadi assisten Azzura sekaligus merangkap sekretaris Langit jika Langit membutuhkan bantuannya.
"Tiket kita, dan ini tiket kalian," kata Raka memberikan dua tiket pada Azzura dan dua tiket lagi pada Teddy.
"Kok pisah?" tanya Teddy menunjukkan dua tiket miliknya dan Siti.
"Mau ikut orang pacaran?" Kedua alis mata Raka terangkat. "Gak usah sok polos lo," bisik Raka pada Teddy.
Lelaki berkulit putih dan bermata sipit itu hanya tersenyum samar. Dia tahu jika Raka yang merencanakan ini.
"Ayo, Sayang." Raka meraih tangan Azzura untuk berjalan lebih dulu meninggalkan Teddy dan Siti.
"Masih marah, ya? tanya Teddy ragu.
"Soal kemarin—"
"Aku nggak mau bahas, sebaiknya kita masuk ke studio sebelum film nya mulai," kata Siti berjalan lebih cepat.
"Ka, Siti sama Teddy pacaran?" tanya Azzura.
"Nggak, tapi kayaknya Teddy pedekate," jawab Raka menggenggam tangan Azzura dan menciumi punggung tangan gadis itu.
"Oh, pedekate."
"Kenapa?"
"Nggak, setahu aku di kantor juga ada yang deketin Siti, Manager Personalia gitu."
"Nah, mamam deh si Teddy," kekeh Raka.
"Kok gitu sih." Azzura memberikan cubitan pada perut Raka.
"Aw ... sakit, Sayang." Raka mengasuh kesakitan. "Maksud aku tuh, biar Teddy tau rasanya gimana kalo berada di posisi seperti itu, suka sama cewek eh ceweknya ada yang deketin. Jangan dia aja yang selama ini berasa di kejar-kejar cewek."
"Oh, gitu ... termasuk kamu?"
"Hah? ya nggak lah ... udah nonton aja, nggak usah di bahas, ntar panjang," seloroh Raka menyudahi pembahasan mereka, alih-alih berbuntut panjang dan di akhiri nantinya mereka yang akan bertengkar.
*****
"Bawa mobil sama lo, tapi besok jemput dan antar gue ke bandara," ujar Raka menyerahkan kunci mobilnya pada Teddy.
"Beres."
"Dianterin sampe rumahnya, jangan lo bawa mampir dulu itu anak gadis orang," pesan Raka meninggalkan Teddy dan Siti di pelataran basemen.
"Ayo," ajak Teddy.
Siti mengikutinya dari belakang, selama di dalam bioskop tadi mereka tidak banyak bicara. Anggota tubuh yang tanpa sengaja saling bersentuhan cukup membuat Siti merasakan desiran darah melaju ke seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Langsung pulang?" tanya Teddy.
"Iya," ucap Siti. "Tapi kalo kejauhan, turunin aku di halte busway aja, nanti biar aku naik busway," ujarnya.
"Seberapa jauh sih, Kelapa Gading ke Bekasi. Kamu di ujung dunia aja aku samperin," ujar Teddy menoleh pada gadis yang sedikitpun pun belum terlihat senyumannya.
"Receh, ya?" kata Teddy lagi.
"Iya," ujar Siti, mengulum senyumnya dan mengalihkan pandangannya keluar jendela.
"Aku serius, Ti ... kamu masih marah?"
"Gimana kalo kita luar dulu dari parkiran ini," ujar Siti.
"Nggak sebelum kamu jawab pertanyaan aku," kata Teddy merubah posisi duduknya menghadap Siti.
"Aku ngga marah, serius deh. Kamu bebas mau jalan sama siapa aja, kan emang kita nggak ada hubungan apa-apa. Cuma teman, ya kan?"
"Kalo kita cuma teman, kenapa dua hari telpon aku nggak kamu angkat, chat aku nggak kamu bales? kenapa?"
"Aku sibuk," jawab Siti singkat.
"Kalo kamu sibuk, Zurra juga pasti sibuk. Atau kamu sibuk dengan yang lain?" Teddy menyipitkan matanya.
"Iya, sana bagian personalia. Perusahaan ada acara,jadi aku harus mengatur jadwal beberapa direksi terkait."
"Aku percaya? Nggak ... aku nggak percaya. Apa sih susahnya bilang ... iya Teddy, aku marah. Aku marah liat kamu jalan berduaan sama cewek lain."
"Udah tau masih nanya, aneh." Siti menyandarkan kepalanya pada jendela mobil. "Kita mau pulang sekarang atau aku pulang naik taksi."
"Kenapa marah?"
"Nggak tau ah." Siti mulai salah tingkah.
"Cemburu?"
"Nggak."
"Bilang aja cemburu, kan simpel."
"Nggak ... aku nggak cemburu."
"Yakin?"
"Yakin dong, maksa deh." Siti meraih ikat rambut di kantung celananya.
"Jangan di kuncir, lebih baik di urai."
"Nggak usah lebay." Siti mulai kesal dan tetap mengikat rambut panjang sebahunya.
Teddy mendekatkan tubuhnya pada tempat duduk Siti.
"Teddy ... apaan sih."
"Bilang kalo kamu cemburu, bilang ke aku kalo perasaan kamu ke aku sama kayak apa yang aku rasain. Bilang, Ti."
Siti menahan dada lelaki itu, lelaki yang tidak pernah di tolak oleh gadis mana pun dan selalu mendapatkan keinginannya jika hal itu berhubungan dengan seorang gadis.
"Teddy, maaf— maaf aku nggak bisa," ujar Siti hingga membuat Teddy menarik kembali dirinya.
"Maksudnya?"
"Aku nggak— em ... perasaan aku sudah untuk orang lain, aku minta maaf," ujar Siti menatap dalam netra Teddy.
"Sebelum kamu mendekati aku, dia lebih dulu menyatakan cintanya ke aku. Dan, aku rasa— aku juga menyimpan perasaan yang sama untuk dia."
Siti menghela napas, tapi ini yang harus dia lakukan. Ini yang terbaik, karena tidak segampang itu dia memaafkan sifat Teddy yang masih seenaknya mempermainkan hati wanita.
"Oh ...." Teddy menyandarkan kepalanya pada kursi kemudi, jari jemarinya mengetuk kemudi. "Aku kira, kita punya perasaan yang sama," ujar Teddy menoleh pada Siti.
"Iya. Tapi sayangnya, nggak." Siti tercekat, dia menelan ludahnya kasar.
"Ok ... kita pulang?" tanya Teddy dijawab dengan anggukan kepala Siti dan senyum pedih keduanya.
Kandas sudah, Teddy pikir dengan Siti menerimanya maka berakhir sudah petualangan cintanya. Teddy pikir, dengan Siti menerimanya, maka cinta itu akan berlabuh pada hati Siti.
__ADS_1
enjoy reading 😘