
"Jenna," ucap Raka lalu menoleh pada Azzura.
"Kenapa?" Azzura membalas lambaian tangan Chila yang berlari ke arahnya. "Chila ... Tante seneng banget Chila bisa datang," ujar Azzura memeluk gadis kecil itu lalu menciuminya.
"Tante ... selamat ya," ujar Chila mencium pipi Azzura.
"Terimakasih, Chila sayang ... gemes." Azzura menyentil ujung hidung Arshila.
"Zurra," sapa Jenna, "selamat, ya." Wanita dengan postur tubuh yang hampir sama dengan Azzura itu saling menautkan kedua pipi. "Semoga langgeng sampe kakek nenek," ujar Jenna lagi.
"Aamiin ... makasih ya, Na. Makasih udah datang," kata Azzura.
Lalu pandangan Jenna beralih pada Raka, sudut bibirnya mengukir senyuman.
"Selamat ya, Ka," ucapnya lembut dan mengulurkan tangan pada mantan kekasihnya itu.
"Makasih, ya Na." Raka menatap Jenna dengan pandangan teduh, kali ini pandangan itu telah berubah. Pandangan seorang teman, ya hanya teman karena rasa itu memang perlahan memudar seiring waktu.
"Selamat ya, Ka." Suara itu membuat Raka menoleh, Radit memberikan kata selamat padanya. Lelaki bertubuh tinggi dengan satu tangan menggendong bayi laki-laki mereka.
"Makasih, Mas," ucap Raka.
"Kali ini sesuai dengan harapan, ya," ujar Radit tersenyum penuh arti.
"Tentu ... kali ini sesuai dengan harapanku," jawab Raka dengan senyum yang sama.
Rasa itu sekarang jelas sudah memudar, namun kisah Raka dan Jenna punya cerita tersendiri, dan itu hanya sebatas masa lalu yang lambat laun terkubur dalam-dalam.
"Na, di nikmati ya acaranya. Maaf kalo ada kurang-kurang, persiapan kita hanya seminggu," bisik Azzura.
"Hah? satu minggu?" tanya Jenna tak percaya.
"Iya, dan pengantin pria nya masih keluyuran ngurusin kerjaan," ujar Azzura cemberut.
Jenna tertawa kecil, karena dia pernah merasakan hal yang sama saat bersama Raka dulu.
"Sayang," panggil Radit pada Jenna mengisyaratkan sesuatu.
"Ah, iya ... kita kesana dulu ya, Ra. Chila juga entah dimana," ujar Jenna sambil matanya mencari-cari keberadaan gadis kecilnya.
Selepas kepergian keluarga kecil Jenna, Raka menatap Azzura menuntut penjelasan.
"Apa?" tanya Azzura dengan bola mata yang membulat diiringi tawa.
"Kamu yang undang?" tanya Raka.
"Nggak lah, kan ibunya Jenna teman Ibu, ya kelas Ibu yang undang, masa aku," ujar Azzura bergelayut manja di lengan Raka.
__ADS_1
"Percaya aku," kekeh Raka yang jelas tahu ini memang ulah ibunya tapi tentu saja seizin Azzura.
"Eh ...." Azzura melambaikan tangannya pada seorang lelaki yang mengenakan batik berwarna silver, yang baru saja tiba di sana.
"Siapa?" tanya Raka penasaran saat melihat tatapan berbinar yang Azzura tunjukan pada gadis dan lelaki berwajah oriental itu.
*****
Dari kejauhan Dirja datang menggandeng seorang gadis berwajah sangat mirip dengannya. Keduanya berwajah oriental. Bermata sipit dan berkulit putih. Dirja yang tinggi jangkung menyerupai bapaknya semasa muda, terlihat hadir mengenakan kemeja batik lengan panjang berwarna silver. Sedangkan Dita yang digandengnya, datang dengan kebaya warna senada yang menyerupai gadis Bali.
Saat sepasang anak muda itu mendekat, terlihat mereka sedang berbisik-bisik. Wajah Dita terlihat sedikit cemberut dan mengomel.
"Padahal aku udah bilang hari ini ada acara. Makanya cari pacar yang tetap. Jangan gonta-ganti terus," kata Dita, memukul pelan lengan kakak laki-lakinya.
"Kata Bapak pacar boleh banyak untuk kandidat yang diseleksi. Berisik banget. Tadi padahal kamu udah janji sama Ibu nggak bakal ngomel-ngomel ke Mas," balas Dirja.
"Kalo enggak karena Ibu yang minta, aku males. Bikin mati kartu aja. Dikira cowok-cowok, Mas pacar aku. Mbak Zurra udah nikah duluan, Mas kapan? Makanya jangan belagu."
Dirja menyentil dahi Dita dengan wajah sedikit kesal. Adiknya tak berhenti mengomel sejak mereka menuju resepsi Azurra.
Beberapa meter dari panggung pelaminan, Azurra terlihat melambai ke arah mereka. Dirja membalas lambaian itu dan berlagak menunjuk meja prasmanan untuk mengisyaratkan bahwa mereka akan makan lebih dulu. Padahal, Dirja merasa perlu sedikit mengulur waktu sebelum mengucapkan selamat pada gadis itu dan melihat suami Azurra dari dekat.
Bagaimana juga, dulu mereka sempat dekat dan nyaris menjadi sepasang kekasih.
(scene Dirja by juskelapa)
******
"Pacar kamu?" tanya Raka penasaran. "Setau aku memang si Bima tapi sebelum Bima aku belum tau."
Azzura hanya tersenyum, "anak Om Dean, teman masa kecil."
Apapun dulu yang pernah terjadi padanya dan Dirja, hanya cukup mereka saja yang tahu. Sama seperti yang kisah yang pernah terjalin antara Raka dan Jenna.
Lagi-lagi Azzura semakin terperangah saat matanya menangkap sosok yang dulu pernah singgah di hatinya.
"Siapa yang undang?" gumam Azzura lalu tatapannya beralih pada Arkana yang sudah tertawa bersama Kalla. "Abaaaang," ucapnya tanpa suara dengan mata yang membulat ke arah Arkana, kakak sepupunya.
*****
"Aku udah bilang kita nggak usah datang atau aku aja yang datang," bisik Rozak saat melihat betapa ribetnya Nama berjalan mengenakan pakaian kebaya yang menampakkan lekukkan tubuh istrinya.
"Ih ... nggak, enak aja kalau kamu datang sendiri, mata kamu bisa jelajatan ke mana-mana," ucap Nama sembari berjalan seanggung mungkin.
Pokoknya Nama ingin terlihat secantik dan seanggun mungkin di pernikahan Zurra si kuntilicing mantan kekasih suaminya yang entah mengapa selalu membuat Nama cemburu padaha dia sama sekali tidak mengenal Zurra.
"Aku mau jelalatan ke mana?" Rozak menahan lengan Nama karena dia goyah saat melangkahkan kakinya di tanah, "Kan ... ngapain juga pake hak tinggi? Aku udah bilang pakai sepatu yang biasa aja, ini nikahannya di hutan pinus bukan di hotel bintang lima."
__ADS_1
"Akang mah, ih ... ya, biarin aja. Pokoknya aku harus keliatan lebih cantik dari pada pengantinnya," ucap Nama yang semenjak menikah dengan Rozak mulai mengikuti logat Sunda suaminya.
"Kalau kamu lebih cantik dari pengantin, terus kamu mau gantiin Zurra buat nikah? Mau nikah sama suaminya Zurra kamu, tuh?" tanya Rozak gemas dengan perkataan Nama.
"Yah nggak gitu juga, tapi, aku mau nunjukin aja kalau aku lebih cantik dari Zurra, dan kamu lebih banyak bersyukur karena nikah sama aku bukan sama Zurra."
"Astaga ... udah dua tahun, loh, kita nikah. Anak udah satu, masih kamu cemburu sama Zurra? Akang udah nggak pernah ketemu sama dia lama," ucap Rozak seraya merangkul pinggang Nama agar bisa berjalan dengan baik di sampingnya.
Nama hanya memicingkan matanya pada Rozak seolah mencari sesuatu yang menunjukkan kebohongan dari perkataan suaminya itu.
"Nama ... tolonglah, udah dua tahun ini kita nikah," ungkap Rozak sembari membantu Nama menaikki undakan yang akan membawa mereka ke tempat Zurra dan suaminya menjadi raja dan ratu semalam.
"Eh ... Nama, Rozak ... makasih udah datang," ucap Zurra yang pura-pura tidak menyadari kedatangan Rozak dan Nama.
"Selamat, yah, Zurra ... aku doakan kamu langgeng, boleh foto?" tanya Nama sembari mengeluarkan ponselnya dan melakukan welfie dengan Zurra.
Rozak hanya bisa menatap Nama dengan tatapan gemas, seingatnya baru semenit yang lalu istrinya itu cemberut dan berbicara tanpa henti mengenai Zurra, namun, saat bersama Zurra tiba-tiba Nama terlihat sangat ceria. Hah ... dasar wanita.
"Selamat, yah," ucap Rozak sembari menjabat tangan suami Zurra dan Zurra. "Langgeng, yah."
"Makasih, Rozak." Senyuman sama sekali tidak luntur dari wajah Zurra yang manis dan cantik. "Aku senang kamu datang, Zak. Makasih, yah."
"Sama-sama, sekali lagi selamat, yah," ucap Rozak sembari berjalan mengekori Nama yang asik mengutak atik ponselnya sembari tersenyum.
"Kenapa kamu senyum-senyum?" tanya Rozak.
"Nggak ... nggak apa-apa," ucap Nama sembari menyembunyikan ponsel di balik tubuhnya.
"Hah ... paling kamu kasih foto tadi ke WAG yang isinya Taca, Iis, Laura dan Cicil," tebak Rozak sembari menahan tubuh Nama dengan cara menyentuh pinggang Nama agar tidak jatuh akibat mengenakan sepatu hak tinggi.
"Kok tahu?" tanya Nama, "dan mereka bilang aku juga cantik."
Rozak tersenyum sembari berbisik di telinga Nama pelan, "Kamu akan selalu cantik di mata aku, karena kamu istri aku dan ibu dari anak-anak aku. Kamu cantik, Sayang ...."
Dan Nama pun tersipu-sipu mendengarnya. Dia sekarang yakin kalau suaminya menyukai dirinya apa adanya, dan dia bahagia akan hal itu.
(scene Rozak by Gallon)
*****
"Kenapa aku ngerasa, banyakan mantan kamu di banding aku," ujar Raka memicingkan matanya kearah Azzura.
Azzura tertawa kali ini dia benar-benar tertawa, siapa sangka jika orang-orang dari masa lalunya hadir memberikan selamat padanya, meski rasa itu sudah tidak pernah ada lagi namun masa lalu sejatinya memang selalu akan ada untuk di kenang.
enjoy reading π
**semoga cukup menghibur yaaaa... terimakasih untuk tim MMZ (juskelapa dan Gallon) yang sudah meramaikan part ini dengan gaya cerita kalian yang ngangenin.
__ADS_1
Dan buat yang kangen sama keluarga Pak Dean semoga terhibur ya, aku yakin setelah ini juskelapa di teror untuk bikin novel Dirja versi dewasa π€ dan yang kangen dengan kocaknya Rozak semoga bisa melampiaskan rindunya melalui sepenggal tulisan dari Gallon yang hobi kelon ππ
matur tengkyu buat teman-teman pembaca yang masih setia hingga detik ini dan dengan segala support dari kalian πππ**