FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS
Gara-gara Udin


__ADS_3

Azzura dan Rey berjalan menghampiri Kalla, Raka dan Teddy yang sedang membahas proyek. Sebenarnya hati Raka sudah tidak nyaman dengan keadaan yang dia hadapi sekarang, namun bagaimanapun dia harus tetap profesional.


Raka masih mengamati gambar dan berdiskusi dengan Kalla saat Azzura sudah berada bersama mereka. Ekor matanya menangkap tatapan gadis yang hampir satu minggu itu tidak dia tanggapi.


"Jadi gitu aja, Ka. Lo bisa tambahin taman di depan resort sih menurut gue, jadi nggak begitu terlihat lempeng aja saat memasuki resort ini," ujar Kalla.


"Gue pikir juga gitu, coba nanti gue ubah gambarnya. Ted, setelah ini kita bahas sebentar," kata Raka pada Teddy.


"Dan satu lagi, Rey. Untuk sisi sebelah timur yang udah kita bicarakan tadi, gue mau lo ubah tampak depannya aja," kata Kalla.


"Siap," ujar Rey.


"Oh ya, cottage untuk kalian sudah di siapkan ya, gue harap kalian suka, karena kita lumayan akan sering ke sini, jadi ... enjoy it," kata Kalla lagi, lalu merogoh kantung celananya. "Halo, Dan ... dimana?" tanyanya pada seseorang di seberang sana. "Ra, jadi ikut?" tanya Kalla pada Azzura.


"Eh, jadi," ujarnya melirik Raka.


"Kami duluan ya, ada janji dengan teman," kata Kalla lalu meninggalkan ketiga lelaki tampan itu di sana.


"Cottage nya dimana Ted?" tanya Raka.


"Nggak jauh dari sini, bareng aja," ujar Rey.


"Nah iya, bareng aja." Teddy menimpali.


Benar memang tidak jauh dari lokasi proyek mereka. Cottage dengan pemandangan kolam renang dan hamparan laut luas di bawah sana sungguh sangat indah untuk di nikmati.


"Cottage kalian di sebelah sana." Tunjuk Rey.


"Makasih, Rey," ucap Raka lalu melangkah menjauh meninggalkan Teddy dan Rey.


Memasuki kamar yang hanya di isi dengan satu tempat tidur besar dan ruangan dengan ciri khas ornamen kayu. Raka berjalan ke arah balkon kamarnya, kolam renang berada tepat di depan kamar itu, jauh ke bawah adalah hamparan lautan. Bagi sebagian orang penikmat senja ataupun fajar tempat ini adalah pilihan yang baik.


"Gue heran ya, kenapa sih suka banget nggak di kamar hotel, cottage seneng banget buat angsa-angsa an di atas kasur," celoteh Teddy yang masuk begitu saja. "Lo nggak ngerasa aneh apa, Ka?"


"Anggap aja kita lagi honeymoon," jawab Raka asal. "Ted, ini satu tempat tidur?"


"Kenapa? mau protes? dulu jaman kecil aja lo paling takut tidur sendiri, sekarang sok-sok an," gerutu Teddy.


"Kalo tidurnya nggak sama elo mah gue ayo aja," kekeh Raka.


"Eh, Ka ... tadi lo liat Azzura ngelirik lo terus."


"Iya, biar aja ... kayaknya lagi seneng dia," ujar Raka meraih handuk berbentuk angsa di atas tempat tidur mereka.


"Yakin biarin aja, emang lo nggak takut apa, dia sama Rey—"

__ADS_1


Raka menghela napasnya, sebenarnya ada perasaan takut di hatinya. Namun kali ini, Raka tidak ingin terburu-buru seperti yang lalu, dia harus berbicara dengan Azzura dengan kepala yang dingin.


"Gue mandi dulu, terus mau tidur sebentar," ujar Raka masuk ke dalam kamar mandi.


*****


"Proyek terbaru Langit Kelana?" tanya Danar, sahabat Kalla yang mempunyai perusahaan furniture terbesar di Bali. " Gue ngajuin proposal lagi kalo gitu," kekeh Danar.


"Lo kasih ke Zurra, dia yang handle untuk desain interior, kali harga cocok bisa lo ikut tender," ujar Kalla.


"Asiik, gue siapin deh. Zurra, gimana? udah ada yang nyantol lagi?" tanya Danar pada Azzura. "Seinget gue dulu, lo gebukin si Alvin itu ya sama Rey?" Lagi-lagi Danar tertawa.


"Jangan diinget lagi dong," rengek Azzura ketika dua orang lelaki yang dulu sempat membuat Alvin mantan pacar Azzura saat SMA. "Yang ini umur berapa, Phia?" tanya Azzura pada Sephia istri Danar ya g sedang menimang bayi mereka.


"Umur delapan bulan," jawab Sephia.


"Dan, istri gue ini sedang hamil anak kedua," ujar Danar memberi kecupan di pipi Sephia.


"Serius?" tanya Kalla. "Sama dong dengan Nami," ujarnya menatap Sephia.


"Oh ya, berarti jarak umur anak-anak kita nggak jauh ya," kata Danar.


"Iya kemarin Nami udah kasih tau ke aku," ujar Sephia.


"Nggak ada niat buat kita jodoh-jodohin, kan?" Kalla melirik Azzura.


"Nggak, dasar aja Kalla nyari bahan buat di obrolin," kekeh Azzura yang melihat Kalla salah tingkah.


"Bahan apaan?" tanya Danar yang pura-pura tidak tahu menahu.


"Berisik lo," gerutu Kalla diiringi tawa Azzura, sementara Sephia hanya bisa tersenyum.


Malam semakin larut saat Azzura dan Kalla tiba di cottage yang sama di tempat Raka menginap. Kamar mereka pun jaraknya tidaklah terlalu jauh.


"Gue masuk dulu, mau nelpon Nami," kata Kalla, Azzura pun mengangguk.


Langkah kaki gadis itu mendekati pinggiran kolam, memasukkan sedikit ujung kakinya pada kolam. Dingin malam itu cukup terasa belum lagi angin laut yang bertiup lumayan kencang.


"Anginnya kencang, kalo masuk angin bahaya," ujar Raka yang berdiri tidak jauh dari tempat Azzura berdiri.


Azzura menoleh ke asal suara, lelaki yang mengenakan sweater berwarna coklat dan celana Jogger dengan warna senada itu tersenyum.


Raka melangkah menghampiri Azzura, tangannya dia lipat di depan dada begitu juga Azzura.


"Masuk gih, anginnya kencang," ujar Raka lagi.

__ADS_1


"Pengen di sini dulu sebentar," jawab Azzura.


Lalu mereka kembali terdiam menatap gelapnya malam dan mendengarkan deburan ombak. Menikmati lampu-lampu dari penginapan yang berada di bukit-bukit dan lampu-lampu kapal nelayan di lautan lepas.


"Makasih ya," kata Raka.


"Apa?"


"Makanan yang beberapa hari ini kamu taruh di meja makan aku," ujar Raka menoleh pada Azzura.


"Oh itu, bukannya seperti biasa memang seperti itu," kata Azzura tersenyum tipis.


"Gimana acara makan malamnya?"


"Tadi? biasa aja, cuma ketemu teman Kalla dan istrinya, dia juga bakal ajuin proposal untuk furniture, kebetulan dia pengusaha furniture di Bali."


"Bukan yang tadi, yang beberapa hari lalu dengan keluarga kamu," ucap Raka lagi.


Azzura mengerutkan keningnya, tahu darimana Raka sampai tahu dia dan keluarganya ada acara makan malam dengan Rey dan Om Riza.


"Kok tahu?" tanya Azzura.


Raka berjalan menuju pagar pembatas antara kolam, Azzura mengikutinya dari belakang.


"Jangan bilang, kamu ada di sana," ujar Azzura berusaha menyamakan langkahnya.


"Nggak, memang aku nggak ada di sana," ujar Raka.


"Terus, kok bisa tau?".


"Kenapa kalo aku tau?" tanya Raka berhenti melangkah dan berhadapan dengan Azzura. "Salah kalo aku tau? aku masih pacar kamu, kan? apa sudah di ganti posisinya?" tanya Raka bertubi-tubi.


Tadinya dia ingin membicarakan hal ini baik-baik dengan Azzura tapi entah kenapa mengingat kembali kejadian hampir satu minggu lalu membuat hatinya kesal.


"Lalu darimana kamu tau? kenapa kamu nggak samperin aku kalo kamu tau aku di sana, kenapa?"


"Aku bilang aku nggak di sana," ujar Raka dengan suara sedikit meninggi.


"Lantas kamu tau dari siapa? apa yang sudah orang itu katakan sama kamu sampe kamu nggak sedikit pun angkat telepon aku, tanya keadaan aku, berusaha untuk berbicara dan menyelesaikan semuanya baik-baik. Kamu tau dari siapa?" tanya Azzura sekali lagi.


Raka terdiam, mengalihkan pandangannya ke lain tempat, sungguh dia tidak ingin berlama-lama menatap gadis itu dengan mata berkaca-kaca.


"Dari siapa?" tanya Azzura lirih.


"Penjaga rumah kamu," jawab Raka.

__ADS_1


"Astaga ... Udiiiin!"


enjoy reading 😘


__ADS_2