FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS
Usaha Teddy


__ADS_3

"Makasih ya," ujar Siti saat mobil itu berhenti di depan sebuah rumah minimalis.


"Iya. Tapi harusnya aku yang makasih," ucap Teddy.


"Kok kamu?"


"Makasih atas harapan yang kamu kasih," kata Teddy tersenyum.


"Aku—"


"Nggak apa-apa, Ti. Tapi, yang pasti aku belum mau mundur selagi kamu belum sah milik siapa-siapa."


"Hah?"


"Kamu masih bebas, dan aku masih punya kesempatan, jadi biarkan aku sama dia— siapa namanya?"


"Hah?"


"Nama cowok yang sekarang jadi pacar kamu itu," kata Teddy.


"Yudi ... Wahyudi," jawab Siti.


"Wahyudi ... anak kantor juga?"


"Iya, tapi aku bel—" Kata-kata itu sudah lebih dulu di dahului oleh Teddy.


"Jadi, biarkan aku sama dia, bersaing secara sehat. Gimana?"


"Hah?"


"Hah mulu, gimana? Deal? Kamu pacaran ya pacaran aja, tapi tidak menutup kemungkinan untuk usaha aku buat dapetin hati kamu," kata Teddy.


Rasanya Teddy memang harus membuang kata malu dalam hidupnya kali ini. Demi Siti, kali ini dia rela menurunkan sedikit gengsinya dalam mengejar wanita. Yang biasanya dia selalu mendapatkan wanita manapun, namun kali ini Teddy yang akan mengejar wanita idamannya, labuhan cinta terakhirnya.


Siti hanya terdiam, bagaimana mungkin keadaannya akan seperti ini. Wahyudi, manager personalia itu sudah satu tahun ini mendekatinya. Dua hari yang lalu saat Siti memergoki Teddy jalan berdua dengan seorang gadis, rasa marah di hati Siti benar-benar terasa.


Tidak memungkiri Teddy punya sejuta pesona, dan Siti sudah terbuai akan hal itu. Saat itu juga bertepatan Wahyudi kembali menyatakan cinta padanya untuk kesekian kalinya.


"Jadi kalian pacaran apa nggak nih?" tanya Teddy curiga. "Kalo nggak, makin terbuka lebar dong kesempatan aku." Lelaki itu pun tersenyum.


"Aku—"


"Pikirin aja dulu, tapi selama kamu mikir. Jangan pernah menutup pintu hati kamu saat aku mendekati kamu."


Teddy menatap mata gadis itu, sungguh kali ini Teddy memang benar-benar jatuh cinta. Tidak perduli Siti sudah berpacaran ataupun belum, yang penting baginya jangan mundur sebelum berperang.


"Mau tau motto Pak Teddy?" Sudut bibir lelaki itu mengembang.


"Apa?"

__ADS_1


"Pepet terus kayak sopir angkot." Teddy terkekeh.


Gadis berusia 25 tahun itu hanya bisa tersenyum. Harus dia akui Teddy memang pantang mundur.


"Makasih ya, udah nganterin." Siti membuka pintu mobil.


"Iya, sama-sama. Aku nggak usah di mimpiin, tanpa kamu mimpiin aku pasti bakal dateng," gombalnya.


Siti turun dari mobil itu, jendela kaca mobil pun terbuka.


"Masuk gih, biar aku pastiin kamu pulang sampai dengan selamat." Teddy menatap wajah gadis itu begitu teduh.


Siti mengangguk, desiran rasa di hati memang tidak bisa di pungkiri jika perasaan mereka sama-sama terpaut. Namun, Siti harus benar-benar meyakinkan dirinya apakah Teddy benar pantas menjalin hubungan untuk lebih serius lagi dengannya, atau Siti hanya tempat persinggahan saja bagi Teddy.


*****


"Kenapa muka lo?" tanya Raka pagi itu.


"Nggak apa-apa, biasa aja."


"Ke bandara terus sesudahnya lo yang temui Kalla di kantornya, ya," titah Raka.


"Beres."


"Tumben singkat, padat, jelas jawabnya." Raka memperhatikan wajah lelaki bermata sipit itu. "Semalem baik-baik aja kan, anak gadis orang lo anterin pulang?"


"Bagus, tapi muka lo rada aneh gitu." Raka memperhatikan wajah itu dengan seksama. "Ah, jangan bilang kalo lo—"


"Ditolak?"


"Nah." Raka menjentikkan jarinya.


"Ditolak, tapi gue nggak nyerah."


"Serius? ditolak?"


"Iya, nggak percaya banget."


"Lo ditolak tapi lo nggak nyerah? Keren sepupu gue ini, apa itu janur kuning depan rumah, pepet terus sebelum sah, " ujar Raka menepuk-nepuk pundak Teddy. "Selamat berjuang, ya."


"Sombong lo." Teddy menepis tangan Raka dari pundaknya, Raka hanya bisa tertawa.


"Gue mau liburan dulu sama calon mantu Ibu Citra, jangan iri." Raka kembali tergelak.


"Sompret."


Teddy melajukan mobilnya ke kantor Langit Kelana setelah mengantarkan Raka ke bandara. Siang itu rencananya, setelah menemui Kalla, Teddy akan mengajak Siti makan siang di kafe seberang kantor itu.


"Berarti udah oke, ya Ted?" tanya Kalla lalu berdiri dari sofa ruang kerjanya.

__ADS_1


"Sudah oke, nggak ada masalah dengan pajaknya." Teddy melirik jam tangannya.


"Lagi buru-buru kayaknya." Kalla membubuhkan tanda tangannya pada sebuah kertas kerjasama untuk material besar proyek mereka di Bali yang dikerjakan oleh Raka dan timnya. "Udah selesai, kapan ke Bali lagi?"


"Minggu depan, Raka hari ini tiba di Bangka setelah dia pulang baru ke Bali."


"Oh oke, aku perhatiin kamu liat jam tangan terus, ada janji?"


"Oh, nggak ... nggak ada," ujar Teddy malu-malu.


"Gelagat cowok kalo lagi deketin cewek emang begini," kekeh Kalla.


Teddy pun ikut tertawa, setelah menghabiskan waktu selama satu jam di ruangan wakil direktur itu, Teddy memutuskan menuju ruangan Siti yang jaraknya tidak jauh dari tempatnya berada.


Ketukan di pintu yang sedikit terbuka itu membuat pemilik ruangan mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang datang. Siti menarik sudut bibirnya, dia beranjak dari kursi kerjanya melangkah mendekati lelaki yang semalam mengikrarkan diri untuk berusaha lebih giat lagi mendapatkan hatinya.


"Ada meeting?" tanya Siti bersandar di meja kerjanya.


"Cuma tanda tangan kerjasama material aja sama Pak Kalla," kata Teddy. "Udah makan siang?"


"Aku—"


"Ti," ujar suara yang datang dari ambang pintu.


Teddy menoleh ke asal suara begitu juga Siti yang menatap pada lelaki yang membawakan tempat makan di tangan kanan dan kiri - nya itu.


"Mas Yudi," ucap Siti salah tingkah.


"Oh, ada tamu," ujar lelaki berkacamata bernama Yudi itu.


"Ternyata kalian ada acara makan bersama, kalo gitu silahkan," kata Teddy menarik tubuhnya diantara Siti dan Yudi. "Next time," ujar Teddy tersenyum samar meninggalkan Siti dan Yudi di ruangan itu.


Raut wajah kecewa itu tidak dapat dia tutupi, Teddy melangkah menuju lift, baru saja dia akan melangkah masuk, Siti menahan tangan lelaki itu.


"Hari ini aku ijin pulang cepat, mau nunggu?" tanya Siti.


"Hah?"


"Hari ini aku ambil ijin setengah hari, kamu mau nunggu sampe aku selesai-in kerjaan aku?"


"Oh, iya ... iya," jawab Teddy tidak dapat menutupi perasaan senangnya. "Aku tunggu kamu di lobby atau dimana parkiran atau—"


"Di lobby aja," ujar Siti.


"Oke, kalo gitu ... sampai ketemu nanti," ujar Teddy melambaikan tangannya, tingkah lakunya membuat Siti tertawa.


Persetan dengan rencana makan siangnya yang hari ini bahkan belum sempat dia utarakan pada Siti, yang terpenting saat ini Teddy sudah duduk manis menunggu kedatangan Siti di lobby. Pikiran Teddy bergerak cepat untuk menyusun rencana berikutnya agar hari ini, waktu yang dia punya bersama Siti bisa dihabiskan dengan lebih bermanfaat.


enjoy reading 😘

__ADS_1


__ADS_2