FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS
Kangen Nggak?


__ADS_3

"Aku nggak mau selesai sama kamu, aku minta maaf Zurra," lirih Raka.


"Lepas!" Azzura berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Raka.


"Kita ngobrol ya, mau ngobrol dimana?" kata Raka melepaskan pelukannya tapi tidak dengan genggaman tangannya.


"Males."


"Ya udah kita ngobrol di sini aja," kata Raka kembali duduk. "Ayo, ngobrol."


"Nyebelin banget sih," gerutu Azzura.


"Kok nyebelin ... atau mau jalan-jalan naik Vespa baru aku?" Senyum manis khas Raka pun mengembang. "Ayo, kita jalan-jalan. Kemana? Neng mau kemana, Abang temenin. Ke hati Abang juga boleh, boleh banget malah," goda Raka.


Rasanya Azzura ingin tertawa, kala mendengar gombalan receh yang Raka lontarkan. Sudut bibir Azzura akhirnya mengembang, meski hatinya masih kesal.


"Aku ganti baju dulu," ucap Azzura dengan ekspresi wajah yang masih kesal.


"Gitu, dong ... aku tunggu di luar ya," ujar Raka.


Menunggu sekitar setengah jam, Azzura akhirnya keluar menghampiri Raka yang sedang berbincang-bincang dengan Udin. Mengenakan setelan yang hampir sama dengan Raka, jeans robek dipadukan dengan tank top hitam di balut cardigan berwarna lilac serta sepatu kets, Azzura melangkah mendekat.


"Udah, siap?" tanya Raka dengan tatapan mata yang tidak lepas dari Azzura.


"Iya."


"Kita jalan dulu, Pak Udin," pamit Raka menyalakan Vespanya.


"Ngomong apa lo?" Azzura menatap Udin dengan tatapan tajam, alih-alih takut Udin berkata yang membuat hubungannya dengan Raka kembali keruh.


"Nggak ada, Mbak ... hehe." Udin salah tingkah lalu buru-buru pergi.


"Ayo," ajak Raka menyerahkan helm pada Azzura.


Azzura menaiki Vespa berwarna hitam metalik itu menerima helm pemberian Raka.


"Udah?"


"Hhmm."


"Pegangan nanti jatuh." Raka menoleh sedikit ke belakang.


"Udah, ish."


"Mana? nggak berasa." Sudut bibir lelaki itu mengembang.


"Ini mau jalan, apa debat sih?" Kesal Azzura.


"Mau jalan dong, tapi kan harus pegangan biar nggak jatuh," ujar Raka.


"Iya ... iya. Nih, udah ... puas?" Azzura mengalah dan memilih melingkarkan tangannya pada pinggang Raka.


"Gitu dong ... kan Abang jadi tenang," goda Raka.


Matahari siang itu semakin terik, Raka membawa Azzura ke apartemennya. Selama perjalanan menuju apartemen Raka, Azzura hanya diam meski tangannya tetap melingkar di pinggang lelaki itu.


"Turun, yuk." Raka memarkirkan Vespanya di parkiran basemen apartemen.


"Kenapa kesini?"


"Loh, tadi aku tanya mau kemana kamu nya diem aja. Ya, aku bawa kesini. Ya udah kalo gitu kita kemana?"

__ADS_1


Raka yang tadi sudah menuruni Vespanya sekarang kembali naik lagi ke atas Vespa itu.


"Ya udah." Azzura lalu turun dan berjalan lebih dulu.


"Kan ... belum sembuh marahnya," gumam Raka berjalan terburu-buru lalu menekan tombol lift sambil melihat wajah Azzura yang masih cemberut.


*****


"Udah dong marahnya," ujar Raka meraih tangan Azzura saat pintu apartemen terbuka.


"Kamu pikir, ngedeketin Didi, terus jadi teman main skuternya, terus berhasil ngomong sama dia, kamu pikir aku udah nggak marah? terus apa tadi berani banget di rumah cium aku, kalo ada yang liat gimana?"


"Ya bagus," kata Raka semakin merengkuh pinggang Azzura.


"Bagus?"


"Ya bagus ... semakin ada yang liat semakin bagus, kan jadi lebih cepat." Raka menyibakkan kuncir rambut Azzura.


"Jangan berkhayal yang tinggi-tinggi. Lepasin, ah."


"Loh, aku nggak berkhayal tinggi juga, pasti Didi kamu restui kita kok," kata Raka semakin mengeratkan pelukannya.


"Raka!"


"Apa?"


"Lepasin nggak!"


"Nggak mau ... hampir dua minggu Ra, kita kayak anjing sama kucing."


"Aku kucing," jawab Azzura polos.


"Makanya ...."


"Apa?"


Hembusan hangat napas Raka menerpa wajah Azzura. Rasa rindu itu jelas saja masih ada, bahkan berkali-kali lipat. Azzura tidak akan mampu membohongi perasaannya.


"Kamu nyebelin."


"Aku tau."


"Kamu bikin hati aku sakit."


"Makanya aku minta maaf."


"Kamu nuduh aku yang nggak-nggak."


Raka terdiam. "Maka, biarkan aku menebus kesalahan aku."


"Aku nggak maafin kamu," kata Azzura dengan mata berkaca-kaca.


"Aku bakal terus berusaha minta maaf."


"Kamu ih—"


"Aku emang nyebelin." Raka memberikan sekilas kecupan di bibir Azzura. "Mukanya kamu kaya obeng tamiya."


"Hah?" Azzura mengerutkan alisnya.


"Imut banget."

__ADS_1


"Apaan sih."


Sudut bibir itu akhirnya mengembang, gombalan receh itu berhasil membuat Azzura melingkarkan tangannya pada leher Raka.


"Kangen, ya?" tanya Raka menatap mata Azzura lalu turun memandangi bibir kekasihnya.


Wajah Azzura merona merah, jantungnya yang sedari tadi berdegup kencang, serta desiran darah yang seakan bagai sengatan listrik itu mengalir membuat hatinya kembali merasakan gelenyar yang tak menentu.


"Jawab dong."


"Apa?"


"Kamu kangen nggak?"


Raka merapikan anak-anak rambut Azzura. Mendorong perlahan tubuh Azzura hingga kaki gadis itu tersudut tepat di sisi sofa.


"Bilang kalo kamu juga kangen, Ra."


Rona merah di wajah Azzura sudah tidak lagi dapat dia sembunyikan.


"Iya," jawabnya.


"Apa?" Raka mengangkat sedikit dagu gadis itu.


"Kalo aku juga kangen sama ka—"


Ciuman lembut itu memotong ucapan Azzura, tangan Raka menahan tengkuk leher kekasihnya. Sesapan dan gigitan kecil begitu membuai Azzura hingga terjatuh pada sofa yang berada di belakangnya.


Raka tersenyum ketika ciuman mereka terlepas begitu saja. Perlahan merebahkan tubuh Azzura lalu melanjutkannya kembali. Ciuman hangat itu perlahan saling berbalas dan sedikit lebih liar. Tangan Raka menyelinap masuk melalui celah kaos yang Azzura kenakan.


Dengan sekali gerakan, Raka berhasil membawa Azzura berada di atas pangkuannya. Ciuman mereka terhenti, namun tatapan mata itu seakan meminta untuk memulai kembali.


"Mau ikut aku?" bisik Raka dengan tangan mengusap punggung Azzura di balik kaosnya.


"Kemana?" tanya Azzura memajukan tubuhnya saat tangan Raka melepaskan kaitan braa Azzura.


Raka menahan tengkuk leher Azzura, membawanya sedikit menunduk hingga Raka mampu menggapai bibir Azzura.


Suara lirih lembut itu terucap kala Raka berhasil menangkup satu dada milik Azzura. Pijatan lembut itu membuat Azzura berani memulai kembali pagutan mereka.


"Ra," ujar Raka dengan deru napas yang memburu.


Azzura terdiam, tangan Raka menarik perlahan kaos yang Azzura kenakan hingga lolos dari kepala gadis itu. Tatapan mata Raka yang sendu pun tertuju pada helai pembungkus dada Azzura yang sudah terbuka.


"Boleh ya?" tanyanya.


Raka menurunkan satu tali braa hingga ke lengan gadis itu. Azzura menangkup rahang Raka, menautkan bibirnya kembali pada Raka. Satu tali lagi terlepas, hingga pembungkus dada itu pun terjatuh begitu saja.


Raka melepaskan ciumannya, matanya memandang sesuatu yang baru kali ini bisa dia lihat, terlepas dari helaian yang menutupinya. Raka membelai lembut pipi Azzura perlahan tangannya turun melewati leher jenjang Azzura lalu berhenti tepat di dada Azzura.


Pandangan mereka beradu, baru kali ini Azzura melakukan hal seperti ini. Tubuh Azzura menegang, Raka meremat dada itu lembut. Pijatan tangannya membuai Azzura hingga ke angkasa. Tubuh Azzura semakin maju ke depan, bergerak perlahan sementara kedua tangan gadis itu berada di pundak Raka.


"Ra," ucap Raka lirih saat menyadari tubuh Azzura bergerak bergesekan dengan benda yang semakin lama semakin mengeras.


Raka menjauhkan tubuh Azzura, "kamu mau ikut aku?"


"Kemana?"


"Bangka," ujar Raka.


Sudut bibir Azzura mengembang, dia lalu mengangguk tanda setuju. Awal dari hubungan mereka menjalin ke tahap yang lebih serius lagi.

__ADS_1


"Aku boleh ini?" tanya Raka mendekatkan wajahnya pada salah satu pucuk dada Azzura.


enjoy reading 😘


__ADS_2