
Raka buru-buru melangkah keluar dari ruang kerjanya. Perasaan gundah gulana memenuhi pikiran dan hatinya.
"Loh Ka, mau kemana? baru juga nyampe," ujar Teddy yang kebetulan berpapasan di koridor menuju anak tangga.
"Pulang," sahut Raka menuruni anak tangga dengan sedikit berlari kecil.
"Lah, kenapa woii!" teriak Teddy.
"Penting, lo urus dulu semuanya!" jawab Raka tak kalah berteriak.
Melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, jarak tempuh yang biasanya 45 menit dari rumah ke kantornya dalam keadaan normal, kali ini hanya butuh waktu 30 menit mobilnya terparkir di pekarangan rumah.
"Sayang," panggil Raka begitu sampai di depan pintu yang terbuka begitu saja.
Terdengar suara Jingga di ruang dapur sedang berbicara dengan seseorang.
"Sayang," ujar Raka yang mengira ada Azzura di sana. "Eh, Mima ...."
"Loh Ka, kok sudah pulang?" tanya Jingga bingung begitupun wanita berkulit sawo matang yang berdiri di samping Jingga.
"Eh iya Ma, Zurra?"
"Zurra di kamar atas, dia sedang—"
"Raka tinggal dulu, Ma," ucap Raka membalikkan tubuhnya lalu berlari kecil menaiki tangga menuju salah satu kamar yang belum terisi barang satu pun.
Raka membuka pintu kamar itu perlahan, dilihatnya Azzura sedang mengusap dinding kamar lalu berdiri sambil menunjuk sisi satu ke sisi berikutnya seolah sedang merencanakan sesuatu. Persis seperti dia mendapatkan ide ingin mendesain sebuah ruangan.
"Kamu mau taruh lemarinya di sebelah mana?" tanya Raka lalu memeluk wanita itu dari belakang, menciumi tengkuk lehernya yang jenjang dengan rambutnya yang di gulung tinggi ke atas.
Azzura merapatkan pelukan Raka, sedikit menoleh ke samping hingga Raka bisa menciumi pipi Azzura. Azzura menguluum senyuman, lalu memutar tubuhnya. Mata wanita itu berkaca-kaca, dia rogoh saku kemeja tunik yang digunakannya lalu memberikan alat tes kehamilan yang dibelikan Jingga pagi tadi.
Raka meraih alat itu, menatapnya lama dengan mata berembun. Raka tak mampu. berkata apa-apa selain merengkuh tubuh istrinya lalu meluapkan bahagia dan haru itu menjadi satu dalam setitik air yang menetes dari mata keduanya.
"Selamat ya, kamu akan segera menjadi Bapak," ucap Azzura menarik dirinya lalu menatap wajah suaminya.
Raka mengangguk sambil mengusap air mata di pipi Azzura. "Selamat juga, sebentar lagi kamu akan menjadi Ibu," ucap Raka lembut dan menyematkan sekilas ciuman pada kening Azzura.
__ADS_1
Raka menautkan bibirnya pada bibir Azzura dengan sangat lembut, perlahan tangannya turun menuju perut rata istrinya. Pelan dia menarik dirinya, mengusap perut Azzura.
"Dia ada di sini?" tanya Raka menatap mata Azzura lalu turun menciumi perut istrinya.
"Iya, dia ada di sini. Anak kamu, buah cinta kita," ucap Azzura.
"Baik-baik di dalam, Sayang," bisik Raka di hadapan perut Azzura. "Jangan rewel, jangan bikin Mama susah ya Nak."
Air mata Azzura kembali menetes, rasa bahagia ini luar biasa. Mengetahui ada malaikat kecil di dalam rahimnya seolah tak lagi bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.
"Bilang sama Papa kalo adek mau sesuatu, Papa siap melakukan semuanya buat kamu, Nak," ucap Raka lembut lalu mendongakkan kepalanya dan tersenyum pada Azzura.
"Kamu mau kita periksa kapan?" tanya Raka melingkarkan tangannya pada pinggang Azzura.
"Sore ini?"
"Kenapa nggak sekarang?" tanya Raka lagi.
"Karena mima sudah siapin sop buntut yang aku mau," ujar Azzura manja.
"Ah iya mima, hampir aku lupa, tadi ketemu di bawah terus aku tinggal gitu aja," ujar Raka menepuk dahinya.
Raka memeluk kembali tubuh istrinya, memberikan kenyamanan pada wanita yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai seorang ibu.
Menjelang sore, sepasang suami istri itu di temani Jingga mengunjungi Nami di rumah sakit tempat dia bekerja. Nami yang notabenenya adalah istri Kalla dan kebetulan seorang dokter spesialis kandungan itu yang akan menangani Azzura hingga sampai melahirkan nanti.
"Aku ada kabar gembira," kata wanita yang sedang mengandung anak kedua Kalla itu.
"Gimana, Mi?" tanya Jingga diangguki oleh Raka dan Azzura.
"Mima dengar ini," ujar Nami mengeraskan speaker pada alat USG lalu mengarahkan alat USG yang berada di perut Azzura. "Ada dua detak jantung di rahim Azzura," ujarnya tersenyum.
"Hah? Serius?" Jingga benar-benar tak mampu lagi membendung rasa bahagianya.
"Jadi maksud Mbak Nami, aku mengandung anak kembar?" Rasa keterkejutan Azzura sama dengan yang Jingga rasakan.
Ucap syukur Raka ucapkan, bukan hanya satu jelas dia dan Azzura mendapatkan dua sekaligus seperti yang mereka inginkan selama ini.
__ADS_1
"Usia kandungannya ternyata sudah delapan minggu. Apa selama ini nggak ada keluhan?" tanya Nami.
"Makan terus lebih banyak dari sebelumnya, sering merasa lelah aja sih. Karena haid aku juga kan kadang maju kadang mundur jadi aku kira belum ada isi sama sekali. Jadi selama ini aku dan Raka santai aja," jelas Azzura.
"Tapi semua sehat, tapi aku hanya ingin memastikan kembali, dua minggu lagi kita cek ya. Hanya ingin meyakinkan saja, meski detak jantung jelas dua namun kantung janin harus aku lihat lagi," terang Nami.
"Selamat ya Zurra dan Raka, semoga lancar sampai waktu melahirkan nanti," ujar Nami lagi.
"Makasih Mbak." Raka dan Azzura menjawabnya bersama.
Jingga sibuk menghapus air mata harunya. Dia teringat kembali masa-masa dimana susahnya dia mendapatkan keturunan, hingga harus kehilangan rahimnya ketika sudah memiliki Kalla dan Azzura.
"Mima kenapa?" tanya Azzura mendekat.
"Nggak kenapa-kenapa, Mima bahagia kamu dan Raka akhirnya mendapatkan keturunan, dua sekaligus," ujar Jingga memeluk Azzura. "Mi, tapi kandungan Azzura baik-baik saja kan? Mima cuma takut—"
"Baik-baik aja Mima, jangan khawatir. Selama ini kan Zurra tidak pernah ada keluhan menstruasi dan lainnya," jelas Nami.
"Ah baiklah, Mima tenang sekarang. Mima harus kabari Didi kalian dulu, Mima sampai lupa saking senangnya."
Keluar dari ruangan praktek Nami, Raka tak lepas menatap wajah istrinya. Ingin rasanya dia membawa Azzura ke dalam pelukannya, menyematkan ciuman bahagia untuk istrinya itu, lalu mengucapkan kata-kata yang indah di telinga Azzura. Andai saja Jingga tidak menemani mereka, mungkin saja saat Nami mengatakan bayi yang di kandung Azzura ada dua, bisa jadi saat itu Raka akan memeluk Azzura tanpa malu-malu.
"Kenapa?" tanya Azzura menelisik lebih dalam senyuman yang Raka berikan padanya.
"Aku mau kita cepat pulang," bisik Raka.
"Ngapain?"
"Biar bisa berdua sayang-sayangan sama anak-anak aku yang ada di sini."
"Memang kenapa kalo di sini?"
"Malu sama mima," ujar Raka menyipitkan matanya.
Azzura tertawa, sempat beberapa kali dia bersitatap dengan Jingga yang sedang menghubungi Langit.
"Sayang," ujar Azzura tiba-tiba teringat sesuatu.
__ADS_1
"Apa?"
"Kabarin ibu, astaga ... kenapa kita bisa melupakan semuanya," kekeh Azzura menepuk dahi suaminya.