FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS
Teddy Bilang Juga Apa


__ADS_3

"Jadi bertengkar lagi?" tanya Teddy pagi itu, Raka menjawab dengan anggukan. "Udah kayak orang nikah aja, bertengkar terus kalo nggak masalah SPP bulanan, kalo nggak ya nggak ada setoran, bisa gue bayangin itu kemelut rumah tangga," ujar Teddy menggelengkan kepalanya.


"Sembarangan lo." Raka masih mengetukkan penanya di meja kerja.


"Kenapa sih? eh iya, gue udah pesan tiket ke Bali ya ... pekerja udah sampe semua di sana, proyek udah bisa kita mulai," kata Teddy.


"Ya lo atur lah, itu yang di Cibubur sudah lo serahin ke pelaksana proyek, kan?"


"Udah itu mah, udah beres. Jadi, apa penyebabnya?"


"Azzura mau di jodohin," kata Raka menatap mata Teddy.


"Ah, serius lo?"


"Serius lah, kalo nggak serius nggak mungkin gue gini," ujar Raka.


"Cerita dari awal, itu gimana bisa tercetus jodoh-jodohan, terus siapa jodohnya."


"Rey lah, siapa lagi." Raut wajah Raka nampak kesal.


"Wuih, bener-bener dia geraknya lebih cepet dari lo, Ka. Terus sekarang gimana?"


"Nggak tau, Ted."


"Kok nggak tau? emang Azzura nggak hubungin elo?"


"Hubungin."


"Terus?"


"Ya nggak gue angkat," jawab Raka meletakkan penanya.


"Alamak jang," ujar Teddy menepuk keningnya. "Ya udah lah, diambil orang itu Azzura."


"Gue marah Ted, coba lo kalo liat siapa itu si Melly apa siapa dulu nama pacar lo jalan sama orang yang suka sama dia, marah nggak? cemburu nggak? Ok, gue dulu ke Jenna nggak kayak gini, gue akui dulu gue nggak sama sekali memperjuangkan dia, tapi saat liat dia jalan sama cowok lain, bahagia sama orang yang benar-benar ngasih perhatian ke dia, hati gue sakit, Ted."


"Lah, si bego ... udah tau pernah di gituin, lo lakuin lagi ke Azzura. Kalo lo cinta, kalo lo nggak mau orang yang elo sayang, yang elo cinta di ambil lagi sama orang lain, ya lo perjuangin. Apa itu egois, apa itu malu, apa itu mana mungkin. Dih, di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin. Gampang aja lo tinggal bilang ke Langit Kelana, lo udah pacaran sama Azzura, mau tunangan apa mau nikah pasti di jawab sama dia." Teddy berkata begitu menggebu-gebu.

__ADS_1


"Ya di jawab pasti, Ted. Masalahnya jawabannya apa?"


"Ya lo siapin hati lo, banyak doa banyak usaha, jangan cuma menang tender doang yang lo bisa, tapi menangin hati anak gadis orang lo kagak bisa. Elaaah, gemes gue." Teddy memukul meja kerja Raka lalu beranjak dari kursi.


"Mau kemana lo?"


"Mau keramas, otak gue panas ... panas," ujar Teddy berlalu dari hadapan Raka.


Raka memutar kursi kerjanya menghadap jendela kaca yang langsung berhadapan dengan gedung-gedung pencakar langit di sekitarnya. Berpikir dengan apa yang sudah Teddy katakan tadi, ada benarnya tapi sayangnya rasa kesal di hatinya masih merajai.


Dua hari setelah kejadian itu, memang Azzura tidak henti-hentinya menghubungi ponselnya. Belum lagi kesibukan Raka di akhir bulan membuatnya harus lembur di kantor, mungkin begitu juga dengan yang Azzura kerjakan. Kadang saat dia pulang ke apartemennya, sudah ada beberapa makanan cepat saji terhidang di meja makan, Raka tahu Azzura yang melakukannya. Tepi entah mengapa enggan sekali Raka memulai untuk membicarakan semuanya, hatinya masih belum baik-baik saja.


****


"Tiket lo," kata Teddy menyerahkan tiket pesawat mereka menuju Bali hari ini.


"Lo kenapa sih, nggak asik banget," sungut Raka.


"Nggak ah, biasa aja gue."


"Masih kesel lo sama gue?"


"Sok tau lo."


"Iya lah, ini aja lo belum hubungi balik, kan?"


Raka menghela napasnya.


"Tuh kan, waktu cepat berlalu Ka, ingat itu. Hati orang bisa berubah dalam hitungan detik," kata Teddy lalu berjalan mendahului Raka menarik travel bag menuju boarding pass.


Pukul satu siang, Raka dan Teddy sudah mendarat di Bali. Kota yang akan sering Raka kunjungi karena di sini proyek terbesarnya sepanjang tahun.


"Dari bandara kita langsung di antar ke Nusa Penida," ujar Teddy. "Oh ya, jangan lupa lo bakal ketemu Rey di sana."


Raka menoleh pada lelaki berparas tampan. itu, bagaimana bisa dia lupa jika proyek itu dia dan Rey yang diberikan tanggung jawab.


"Lupa kan lo, mamam dah." Teddy jelas-jelas masih terlihat kesal pada Raka.

__ADS_1


Raka hanya diam hingga perjalanan menyeberangi pulau selama 45 menit. Raka tidak banyak bicara, percuma saja kalau dia menyanggah semua yang di katakan oleh Teddy, karena yang lelaki itu katakan adalah semua benar.


"Pak Raka," sapa salah seorang supir yang mereka sewa mobilnya selama mereka berada di Nusa Penida. "Mari saya bawakan tasnya," ujar lelaki yang bernama Nengah itu.


"Kita langsung ke proyek saja, Bli," ujar Teddy.


"Baik, Pak."


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, butuh waktu sekitar 30 menit untuk mencapai tempat itu. Pemandangan yang indah di sepanjang jalan sedikit banyak membantu Raka meredam kekesalan di dalam hatinya.


"Ted, gue liat gambar lo," ujar Raka yang duduk di kursi tengah penumpang. Teddy menyerahkan drafting tube pada Raka.


"Kita sudah sampai, Pak."


Teddy yang memang sudah pernah ke tempat ini pun turun lebih dulu, sedangkan Raka masih menggulung kertas gambar yang dia lihat tadi.


"Bli Nengah, kita nggak lama kok."


"Iya, Pak."


Raka turun dari mobil dengan membawa tas punggung berisi laptop dan beberapa berkas serta drafting tube milik Teddy tadi. Langkahnya dia percepat saat melihat Teddy dan Kalla sudah lebih dulu berbincang-bincang di depan salah satu tiang pemancang bangunan.


"Raka," sapa Kalla lalu mengulurkan tangannya.


"Kal, sorry baru bisa datang sekarang, biasalah akhir bulan kemarin."


"Nggak masalah, yang penting para pekerja udah ready, tinggal di komando ya kan?"


"Oh ya, nggak ada yang berubah dari gambar kita ya, tiang pancang sudah beberapa di pasangkan," ujar Teddy sambil menunjuk beberapa titik di depan mereka.


Pandangan mata Raka jatuh tepat pada dua orang yang cukup dia kenal, di sisi timur berjarak sekitar 20 meter dari tempat dia berdiri.


"Jadi— Ka?" Teddy ikut mengalihkan pandangannya searah dengan tatapan mata Raka. "Ka," tegur Teddy menepuk pundak Raka.


"Eh, iya," jawab Raka. "Gimana?"


"Semua berjalan sesuai yang kita inginkan, untuk beberapa supplier kita akan meeting dengan mereka besok," ujar Kalla menimpali lalu melirik pada Teddy seolah mengerti dengan apa yang sedang terjadi antara Raka dan kembarannya.

__ADS_1


enjoy reading 😘


__ADS_2