
Usia kandungan Azzura sudah memasuki umur delapan bulan. Selama masa kehamilan tidak banyak yang di keluhkan oleh Azzura, mengidam yang sewajarnya hingga membuat Jingga dan ibu mertuanya terheran-heran.
"Seharusnya hamil kembar itu ngidamnya lebih aneh dari yang hamil normal," ujar Ibu Citra. "Bener kan, Mbak Jingga?"
"Iya, ingat Mima dulu minta nya aneh-aneh sama Didi, tapi bagus juga sih hamilnya Zurra nggak bikin repot," balas Jingga.
Ya, percakapan semacam itu yang sering kali Azzura dengar dari orang tua mereka. Namun, hingga detik ini dua janin yang dia kandung semuanya sehat dan baik-baik saja. Hanya satu yang Azzura rasakan di kehamilannya ini, dia tidak pernah mau berjauhan dari Raka. Kemana Raka di situ Azzura, seperti pasangan yang saling melengkapi, begitu juga dengan Raka.
*****
Bunyi petasan beberapakali terdengar begitu nyaring, di susul dengan alunan tanjidor yang berarakan menuju ke arah kediaman Siti. Teddy berjalan dengan gagahnya mengenakan baju pengantin pria adat Betawi.
Di belakang Teddy berjalan Raka mengenakan setelan batik sementara Azzura menunggu di mobil. Tidak mungkin baginya ikut berjalan dengan perut buncit yang sudah sangat besar itu.
Padahal ingin sekali Azzura mengikuti proses dari awal acara pernikahan dengan mengusung budaya Betawi itu. Adanya acara Palang Pintu, dimana kedua keluarga mempelai saling berbalas pantun dan adu silat sebelum calon pengantin pria di persilahkan masuk.
"Buset, kenapa nggak lo aja yang silat,Ted," ujar Raka pelan dari balik tubuh Teddy.
"Berisik lo, perjuangan pake baju adat begini di bawah terik matahari aja gue kudu sabar, di suruh silat pula ... nggak bisa apa langsung ketemu sama Siti," keluh Teddy.
"Dih, semua itu harus lo jalani Ted. Itung-itung ini tuh bentuk lo bertobat dan bersyukur karena mendapatkan gadis baik-baik," ujar Raka.
"Iya ... iya, gue bersyukur banget. Tapi gue rindu nggak ketemu satu minggu."
"Sstt ... berisik, ikutin acaranya, malah ngobrol," sergah Pandu, ayah Raka yang menjadi saksi pernikahan Teddy.
__ADS_1
Menit berlalu hingga ucapan sakral itu terlontar dari bibir Teddy. Senyum sumringah terpancar dari wajah kedua pengantin yang duduk bersisian. Siti nampak begitu cantik dengan balutan pakaian adat Betawi. Sambil menunjukkan jari manis keduanya, Teddy berkata tanpa suara pada Raka.
"Akhirnya," ucap Teddy dengan menaik turunkan alisnya.
Raka tergelak, jika saja dia tidak sadar mungkin tawanya akan membuat para tamu undangan menoleh padanya.
"Resepsinya nanti malam di hotel Sahid," bisik Raka lalu Azzura menatapnya curiga.
"Jangan bilang kamu juga ikutan booking kamar, ikutan pengantin baru," ujar Azzura diikuti anggukan dari Raka.
"Di rumah rame, Sayang. Ada ayah, ada ibu belum lagi Wita, bisa jadi Reyhan juga menginap di rumah," ujar Raka dengan wajah cemberut.
"Emang mau ngapain coba, perut aku sudah segede ini," ujar Azzura mengusap perutnya, tubuh Azzura terlihat begitu gempal dan menggemaskan.
"Terserah kamu ah, aku mau foto sama pengantin dulu. Aku sudah cantik belum?"
"Kamu selalu cantik, Sayang," jawab Raka menjawil ujung hidung Azzura.
"Boong banget, aku tau aku tuh sekarang bentuknya nggak karuan, awas aja macem-macem ya, aku begini karena kamu," gerutu Azzura meninggalkan Raka.
Memang semenjak kehamilannya menginjak usia tujuh bulan, tubuh Azzura mulai berubah. Perut yang semakin membesar dan dia yang tidak dapat mengontrol makannya. Dokter bilang semua normal, mengingat dia mengandung dua anak sekaligus.
"Salah terus, tapi emang nyatanya masih cantik kok, malah seksi," gumam Raka mengikuti langkah Azzura dari belakang.
*****
__ADS_1
Resepsi pernikahan itu nampak begitu meriah, Teddy dan Siti bak raja dan ratu bersanding berdiri di pelaminan hanya dalam waktu satu hari.
"Kamu udah capek belum?" tanya Raka ketika dia melihat wajah lelah Azzura yang terduduk di kursi undangan.
"Perut aku kok kencang ya, Ka." Azzura mengusap-usap perutnya.
"Kamu kecapekan, sebaiknya kita istirahat aja," ujar Raka mengulurkan tangannya pada Azzura.
"Kita pamit dulu ke yang lain dan Teddy, ya," kata Azzura.
"Yakin masih kuat?" tanya Raka memandangi wajah istrinya.
Azzura menggigit bibir bawahnya saat dia baru melangkahkan kakinya menuju tempat dimana keluarganya berkumpul.
"Aduh, Sayang ... kok nggak enak gini rasanya ya." Azzura meringis.
"Sayang, kamu jangan nakutin aku dong," ujar Raka dengan ekspresi wajah panik.
"Ka ... panggil Mima, cepat! aku rasa aku mau melahirkan ... cepat, Ka!" Azzura terdiam di tempat saat dia merasakan sesuatu mengalir dari sela pahanya.
"Hah? melahirkan ... ini baru delapan bulan, kok cepat?" tanya Raka kebingungan.
"Raka! panggil Mima!?" Azzura berteriak membuat tamu undangan menoleh pada mereka.
enjoy reading 😘
__ADS_1