
"Kau...."
"Apa Ryan..."
"Dimana," tanya Ryan.
"Di rumah orang tua ku, kau mau ke sini tidak? Amel sudah di rumah ni," jawab Austin.
"Bagus lah kalau kau di rumah orang tua mu, aku akan ke sana malam ini, aku sudah kenalan dengan sepupu mu," kata Ryan.
"Siapa," tanya Austin.
"Fina... Rumah nya tidak jauh dari rumah orang tua mu, ternyata dia bekerja di perusahaan," jawab Ryan.
"Ah iya, kenapa aku melupakan nya, iya dia masuk bulan lalu, dia masih muda, tapi dia sangat cocok dengan mu."
"Baru kenal sudah berkata sangat cocok, kau ini ada ada saja lah," kata Ryan.
"Datang malam ini, aku ingin mendengar cerita dari mu, bagaimana kau bisa kenal dengan nya," ucap Austin.
"Hahaha oke tunggu aku di rumah orang tua mu," kata Ryan.
Ryan langsung bersiap siap ke rumah orang tua Austin. Jarak antara rumah orang tua Austin dengan rumah nya malah tidak terlalu jauh, kalau dari rumah Austin sekitar 3 jam perjalanan, tetapi kalau dari rumah Ryan hanya separuh dari rumah Austin.
"Mamah aku pergi," ucap Ryan.
"Mau kemana," tanya Ika.
"Ke rumah orang tua Austin, aku akan bertemu dengan calon mantu mu," jawab Ryan.
"Ya sudah, jangan membuat harapan palsu lagi pada kami," ucap Ika.
Ryan memberikan kabar pada Fina kalau ia akan ke rumah orang tua Austin. Ia sangat berharap Fina bisa ke sana, mana tau kalau sering bertemu mereka berdua jadi lebih dekat dan bisa menikah bersamaan dengan Austin dan Fanny.
Sesampainya di rumah orang tua Austin, Ryan harus menelan pil pahit karena Fina tidak bisa datang Memang jarak rumah mereka tidak terlalu jauh, tetapi karena Fina ngekos yang membuat nya tidak bisa ke rumah orang tua Austin.
__ADS_1
"Ya sudah lah.." Ryan langsung masuk ke dalam, keluarga Austin sudah seperti keluarga untuk nya, ia tidak akan canggung dengan keluarga ini. Oleh sebab itu Ryan benar-benar memantau orang orang yang berniat buruk pada Austin, jika bukan karena keluarga Austin, ia tidak mungkin bisa hidup dengan mewah seperti ini.
"Hey cantik," ucap Ryan.
"Kau!! untuk apa kau datang, pasti kau ingin bertemu dengan ku kan," kata Amel.
Ryan menaikan satu alis nya, seperti nya wanita ini masih marah pada nya. Memeng apa yang ia lakukan dulu pada Amel cukup jahat, walaupun niat nya hanya bercanda saja.
"Ih kau sangat percaya diri ya, aku ingin bertemu dengan abang mu, bukan dengan mu."
"Ya sudah sana, kenapa malah diam di situ, katakan saja kau ingin melihat ku, ya aku akui aku sangat cantik, tapi kau bukan selera ku, aku tidak mau menikah dengan pria tidak bertanggung jawab seperti mu," kata Amel.
"Mohon maaf ni, bukan nya apa apa, ya aku juga tidak ada niat mau menikah dengan mu, jangan berharap dengan ku ya."
"Sampa mati pun aku tidak akan berharap dengan mu, lebih baik aku tidak menikah dari pada menikah dengan mu," ucap Amel.
Lia berjalan mendekati mereka berdua, ia tidak heran melihat pertengkaran itu, memang kalau mereka berdua bertemu pasti akan bertengkar.
"Kalian ya, bisa berhenti untuk bertengkar tidak, lama lama kalian berdua benar benar berjodoh loh," kata Lia.
"Ya kalau kamu meu menikah dengan nya, mamah mah setuju saja, mamah sudah kenal Ryan bagaimana," ujar Lia.
"Maaf tante, saya mah tidak jual mahal ya, tetapi memang kami berdua mustahil bersatu, lebih baik saya dengan Fina saja keponakan nya Austin." Kalau di rumah seperti ini memang Ryan bisa lebih santai dengan Lia.
"Fani?? Yakin Fani mau dengan mu? jangan sampai lah."
"Amel sudah lah, biarkan saja mereka berdua dekat, Ryan AUstin ada di ruang teater ke sana saja," ucap Amel.
"Siap tan." Sebelum pergi meninggalkan Amel, Ryan menjulurkan lidah nya sedikit.
''Pria aneh," ucap Amel.
"Amel dia sangat tampan loh, mirip Chris Evans," kata Lia.
"Terus aku tidak peduli mah, ya memang dia sangat tampan, tapi aku tidak suka semua tentang nya, kecuali wajah tampan nya," ucap Amel.
__ADS_1
"Hahaha wanita wanita, nanti kalau sudah di kejar pasti luluh juga."
"Dia mengejar ku, itu semakin tidak mungin mamah, aku tidak mau juga ah, lagi pula dia sudah dengan Fani, aku tidak mau menjadi perusak hubungan mereka berdua."
Austin melihat kedatangan Ryan dengan wajah yang tidak enak, dapat di pastikan jika Ryan sudah menghadapi adik nya.
''Kenapa tu wajah, kalau begitu wajah mu akan kalah dengan wajah ku," kata Austin.
''Siapa lagi kalau bukan karena ulah, tuan ratu Amel yang merasa paling cantik dan harus di hormati."
Fanny hampir tertawa mendengan celotehan Ryan, seperti nya memang permasalahan di antara mereka berdua cukup rumit yang membuat Ryan sampai seperti ini.
"Hahaha dia sangat lucu, wajah nya semakin tampan saja," kata Fanny.
"Sayang, kamu memuji pria lain tampan."
"Ya memang dia lebih tampan dari mu, tetapi kamu jangan khawatir aku tetap menyayangi kamu, kamu yang aku cintai bukan dia," kata Fanny.
''Tetap saja, kamu tidak boleh mengatakan pria lain tampan."
"Bisa kalian berdua diam, aku sudah pusing dengan Amel. Malah kalian berdua berdebat tidak jelas begini,'' kata Ryan.
"Hahaha ya sudah maaf maaf, cerita lah bagaimana kau bisa bertemu dengan Fina dan dimana Fina sekarang? dia tidak ikut dengan mu?"
"Pelan pelan, pertama aku kenal dengan nya karena teman ku yang kenal dengan nya, kami bertemu di kantin perusahaan, baru dua hari si dan sekarang dia berada di kosan nya yang membuat nya tidak bisa datang ke tempat ini," kata Ryan.
''Oh begitu, kalau menurut mu kau cocok dengan nya, ya sudah ajak saja dia menikah, sekalian dengan kami," kata Austin.
''Hey mengajak anak orang menikah itu tidak mudah, aku harus kenal dengan orang tua nya dulu, harus ini itu, kalau kau mah enak," ucap Ryan.
"Hahaha enak bagaimana si. Kalau aku mah sistem paksa jadi ya kalau tidak mau harus mau, ya kan sayang," ujar Austin.
''Ya itu kau, coba ajalah aku ajak dia menikah dengan sistem paksa bukan nya dia mau malah aku yang kena gampar, jadi menikah tidak di gampar wanita iya," kata Ryan.
"Kalau dia jatuh cinta dengan mu aku yakin dia mau menikah dengan mu, nanti aku yang akan berbicara dengan nya."
__ADS_1
"Ajaran sesat," ucap Fanny.