
Tak lama Aura bergabung dengan mereka berdua, ia berjalan mendekati Austin dan Adam yang sedang makan bakso yang Fanny buat tadi.
"Kakak makan bakso," ucap Adam.
"Mau..."
"Sini makan dengan Adam, kamu suka bakso tidak,* tanya Austin.
"Suka.."
"Aura mau sekolah tidak," tanya Austin.
"Sekolah dengan ku ayah," ucap Adam.
"Tidak sayang, kamu kan sekolah anak kecil. Kakak kan sudah tidak kecil seperti kamu"
"Sekolah apa ayah," tanya Aura.
"Sekolah melukis, nanti kamu akan banyak belajar melukis." Austin memang ingin memasukan Aura ke sekolah khusus. Ia ingin mengembangkan bakat Aura agar lebih berkembang lagi.
"Mau ayah aku suka melukis," kata Aura.
"Ayah aku mau dengan kakak.."
"Adam sayang tidak bisa, kamu kan di sekolah biasa sudah banyak teman," kata Austin.
"Eh anak mamah pada berkumpul.."
"Mamah, ini sangat enak," kata Adam.
"Enak dong, kalian berdua suka," tanya Fanny.
"Suka.." jawab Aura dan Adam.
Meskipun ke dua nya bukan anak kandung Fanny. Fanny benar-benar sangat menyayangi ke dua nya, terutama Adam yang memang lebih dulu ia kenal. Adam sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, ia sudah tidak nakal lagi dan sudah lebih mudah bergaul dengan orang baru. Semua itu berkat diri nya yang banyak memberikan pelajaran berharga untuk Adam.
"Sayang kamu dengan mereka dulu ya, aku akan menemui Ryan, ada beberapa pekerjaan," ucap Austin.
"Iya kamu pergi lahh.."
Austin pergi meninggalkan kamar. Ia berjalan ke arah Ryan yang sedang fokus dengan pekerjaan nya, Austin tidak tau apa yang sedang Ryan kerjakan, ia tidak ada memberikan Ryan pekerjaan kantor hari ini.
"Kau sedang apa," tanya Austin.
"Aku sedang menyelidiki nomor yang menelepon ku kemarin, aku tau mereka berada di Singapura, mungkin kita harus ke sana," jawab Ryan.
"Jangan terlalu fokus Ryan, mereka bisa saja menjebak kita. Mereka bisa menyewa orang sana untuk mengelabuhi kita, nah kalau kita ke sana kita tak akan fokus ke rumah. Bisa saja mereka mengambil kesempatan ini untuk melakukan hal buruk pada orang di rumah kita," ucap Austin.
Ryan menganggukkan kepala nya, apa yang Austin katakan benar apa ada nya. Memang Austin cukup bisa memberikan nya saran agar tidak terburu buru mengambil keputusan.
"Benar tidak??"
"Iya kau benar, nanti saat kita ke sana, mereka malah menyerang rumah kita."
"Ya begitulah, nama nya juga permainan orang jahat, kita tidak ada yang tau apa rencana mereka sebenarnya, apa mereka hanya ingin mencari masalah pada kita atau memang mereka ingin mengambil Aura dari kita karena Aura orang penting," kata Austin.
"Kalau Aura orang penting kenapa merea tidak mengambil Aura dari panti sebelum kita datang, mengapa mereka malah membiarkan Aura di panti begitu saja," ucap Ryan.
"Mungkin memang mereka sengaja membiarkan Aura di panti, jika sudah watu nya mereka akan mengambil Aura dar panti," jelas Austin.
"Hmmm benar juga ya. Terus rencana mu apa," tanya Ryan.
"Aku ingin mengajak kau k rumah orang tua ku, ya aku ingin meminta ayah ku untuk membantu masalah ini, semain cepat di selesaikan semakin bagus. Aku tidak tau ya, ini masalah serius atau hanya permainan orang saja, tetapi memang lebih baik ayah ku tau semua nya," kata Austin.
''Oke ayo lah, tunggu apa lagi.."
Merea berdua pun pergi ke rumah orang tua Austin, Mereka berdua tidak perlu takut dengan keadaan rumah jika mereka berdua tinggal pergi, komplek rumah ini sudah di jaga ketat oleh orang suruhan ayah nya Austin, mereka takut terjadi apa apa pada Austin sekeluarga semenjak penembakan yang Austin dan Fanny alami.
Di rumah orang tua Austin mereka langsung membahas semua nya, ayah nya Austin menerima semua laporan dari mereka berdua, untuk mempermudah penyelesaian masalah Ryan dan Austin menjelaskan dari mereka mengambil Aura sampai sekarang.
Mereka berdua di minta untuk menunggu satu hari saja untuk mengetahui semua nya, Austin sangat lega, ia tidak suka masalah di keluarga nya berlarut larut, apalagi Fanny sedang hamil, ia sangat takut kehamilan Fanny terganggu kerena masalah ini.
"Akhirnya aku sedikit tenang, tapi ayah mu sangat menyeramkan sekali sama seperti mamah mu,'' kata Ryan.
"Sttt jangan kau berkata seperti itu, kalau mereka dengar bagaimana, jangan kan kau orang lain lah aku ana nya sendiri saja aku sangat takut."
"Pantas saja Amel galak seperti itu, lah mamah dan ayah nya sangat seram."
''Hahaha kau mau tidak menikah dengan Amel, mana tau Amel mau menjadi istri ke dua mu,'' kata Austin.
"Hahaha kau tidak bercanda, aku bisa mati jika aku menikah dengan nya, dia sangat galak malam pertama ku bisa menjadi malam terakhir."
''Apa dimata mu dia segalak itu, aku rasa tidak lah, tetapi mungkin karena kalian berdua tidak akur sejak awal jadi ya begini jadi nya."
"Memang iya, dimana dia? aku tidak melihat nya," tanya Ryan
"Apa!! kau mencari ku," tanya Amel
"Apa kabar cantik, sini mendekat," kata Ryan.
Bagaimana Amel tidak galak pada Ryan, Ryan saja sangat suka mengejek nya. Sudah dari awal bertemu Ryan sudah seperti ini.
"Apa??"
"Begini Amel, Ryan sedang mencari istri ke dua ni, kau mau tidak," tanya Austin.
"Kau abang macam apa, masak adik nya diminta untuk menjadi istri ke dua, aku menjadi istri e dua nya tidak akan mungin sangat najis," jawab Amel.
"Hahaha kau pikir aku mau, aku rasa aku akan mati jika menikah dengan mu."
"Kau datang hanya membuat ku jengkel saja, abang bawa dia pergi dari sini, ntah kenapa pun kau mengajak nya ke rumah," ucap Amel dan pergi meninggalkan mereka berdua. Ia memang sudah setidak suka itu dengan Ryan.
"Hahaha ayo, kita lama lama di sini juga ngapain, semua nya sudah kita serahkan pada ayah ku," ucap Austin.
"Kemana kita," tanya Ryan.
"Mencari sekolah untuk Aura," jawab Austin.
Mereka berdua pun kembali pergi meninggalkan rumah Austin,jika lama lama di sana yang ada Amel malah menarik Ryan keluar dari rumah, ke dua nya sudah tidak bisa di satukan lagi.
Di tempat lain sebuah keluarga besar berkumpul. Mereka semua membahas tentang Aura yang sedang mereka awasi, ada hal yang selama ini mereka sembunyikan. Mereka takut kalau Aura bersama dengan Austin Aura akan tau siapa dia sebenarnya.
''Bagaimana pun cara nya kita harus mengambil Aura, sudah bagus Aura di panti asuhan, dia tidak aan tau siapa jati diri nya."
"Ya Austin dan keluarga nya sangat berpengaruh, mereka bisa melakukan apa saja."
"Ahh, ini sangat membuat ku pusing, mamah nya juga sudah melupakan nya, kalau sampai tau mamah nya akan sangat marah.."
Sore hari nya Austin dan Ryan baru kembali ke rumah, mereka berdua sudah mendaftarkan Aura ke sekolah khusus yang tidak jauh dari rumah. Semua nya sudah Austin pikirkan matang matang, semua nya demi kebaikan keluarga nya.
''Ayah...." Aura berlari memeluk Austin.
"Iya sayang, kenapa kamu merindukan ayah ya," tanya Austin sambil memeluk AUra dengan erat, ia juga menggendong Aura.
"Iya, Aura ingin main dengan ayah.."
"Dimana adik mu dengan mamah," tanya Austin.
''Ada di atas, tadi Aura langsung turun ke bawah karena melihat ayah pulang."
"Sepertinya kalian sudah memiliki ikatan ya, aku ke kamar dulu.." Ryan pergi meninggalkan ke dua nya.
"KIta main apa, AUra ingin main apa," tanya Austin.
"Main apa saja, asalkan dengan ayah.."
Austin merasa sudah seperti bermain dengan anak kandung nya sendiri, Aura sudah seperti anak kandung nya. Ia hampir tidak bisa membedakan rasa sayang nya pada Aura dengan Adam karena ke dua nya sama sama besar.
Selagi Adam masih bermain dengan Fanny, Austin memutuskan bermain berdua dengan Aura di lantai bawa, ya seperti jenis kelamin nya, apa yang Aura mainkan dengan apa yang Adam mainkan sangat berbeda, Austin harus menyesuaikan diri, hitung hitung latihan jika nanti anak nya dengan Fanny wanita ia sudah bisa bermain dengan anak perempuan.,
''Aura kamu akan segera sekolah melukis," ucap Austin.
__ADS_1
"Wah aku sudah tidak sabar ayah, aku sangat suka melukis."
''Kau mengingatkan ku pada seseorang, ya walaupun dia bukan wanita yang sangat baik seperti Fanny karena dia selingkuh tetapi dia memiliki hobi yang sama dengan mu," batin Austin.
Beginilah jika memiliki mantan istri yang sangat banyak, Austin jadi mengingatnya jika ada hal yang membuat nya ingat. Mau bagaimanapun, mau sebentar atau lama ia menikah dengan mantan istri nya, ia sempat merasakan bahagia bersama mantan mantan istri nya, jadi kalau ia sedikit mengingat masa lalu nya tidak perlu heran.
"Sayang kamu sudah pulang," ucap Fina.
"Sudah baru pulang, sayang kita menikah sudah berapa hari ya," tanya Ryan.
"Mungkin 5-6 hari, ada apa?"
"Kira kira kamu sudah hamil belum," tanya Ryan.
"Hahaha kamu ada ada saja sayang ya belum lah, mana mungkin aku hamil secepat itu," jawab Fina.
"Hahaha mana tau kan, kalau kamu belum hamil kamu tau kan apa sebabnya," tanya Ryan.
"Apa itu..."
"Hahahaha jangan pura-pura tidak tau sayang, yuk satu ronde saja," bujuk Ryan.
"Kamu y dasar otak mesum,ini masih sore sayang, nanti malam saja napa," kata Fina.
Fina baru saja selesai mandi ia malas mandi lagi jika Ryan meminta sekarang, toh kalau di kasih sekarang nanti malam Ryan akan minta lagi, bagus sekalian malam nanti.
"Nanti malam saja ya sayang, aku baru saja mandi, kalau nanti malam 2-3 ronde aku tidak masalah," ucap Fina
"Kamu yakin nanti malam 2-3 ronde tidak masalah," tanya Ryan.
"Iya sayang tidak masalah, sekarang kamu mandi gih, kamu bauk tau," kata Fina.
"Hahaha iya iya tadi aku ke rumah nya Austin dan bertemu dengan mamah mu,m ya walaupun hanya sebentar," ucap Ryan.
"Mamah ada tanya aku tidak? jangan bilang hanya kamu yang di tanya, masa ana sendiri tidak mau tanya."
"Hahaha tapi memang benar sayang, hanya aku yang di tanya, mamah bertanya aku dari mana dan mau apa, begitu saja tidak ada menanyakan kamu. Mamah sudah yakin kamu bahagia dengan mu jadi mamah tidak perlu bertanya lagi kabar mu."
"Ngarep, emang nya aku bahagia dengan mu, orang hampir tiap malam aku menangis,'' kata Fina.
"Hahaha kamu ada ada saja, menangis karena apa dulu ni, tiap mal;am kan kamu menangis arena enak, bukan karena aku berbuat kasar pada mu. Nah kalau istri ku Amel mungkin aku bisa kasar dengan nya, orang dia sendiri sangat galak. Kalau kamu jangan aku kasar, aku marah saja tak bisa, kamu terlalu sempurna untuk aku kasarI.''
"Tapi nyata nya memang kamu agar kasar loh,'' kata Fina.
"Sudah nanti kita bahas, aku mandi dulu.." Ryan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Fina sangat suka dengan Ryan, ntah apa yang membuat nya sesuka itu pada Ryan, padahal awal ia bertemu dengan Ryan saat bekerja di kantor ia memiliki pikiran yang buruk tentang Ryan.
Di kamar Adam dan Fanny masih main dengan asik, tadi ia sempat panik karena Aura tiba tiba menghilang, tetap ternyata Aura sudah bersama dengan Austin, ia jadi tenang bermain dengan Adam.
"Mamah bagaimana kabar adik," tanya Adam.
"Kabar adik? sayang kan kamu punya nya kakak bukan adik, siapa adik yang kamu maksud," tanya balik Fanny.
Fanny belum paham jika adik yang Adam maksud adik yang ada di dalam perut nya.
"Kata ayah saat Adam berusia 5 Adam akan mempunyai adik, dimana adik Adam, apa kabar nya?"
"Hmmm oh itu ya ya ya, mamah paham kabar adik sayang baik sayang, ya walapun mamah belum tau apa jenis kelamin adik mu, perempuan atau laki laki," kata Fanny.
"Kenapa lama sekali sekali si mah, Adam saja cepat mendapatkan kaka, kenapa Adam lama mendapatkan adik?"
"Hmmm adik yang ini spesial sayang, dia akan sangat mirip dengan mu," kata Fanny. Fanny hanya bisa menjawab seperti itu, ia sangat takut salah memberikan jawaban Adam.
Austin dan Aura bergabung dengan mereka berdua, Austin liat ke dua nya sedang membahas hal cukup penting, ia jadi penasaran apa yang mereka berdua bahas.
"Sayang kalian berdua sedang menceritakan ku ya," tanya Austin.
"Ayah sangat percaya diri ya, aku dan mamah sedang membahas adik ku, lama sekali datang nya, dia naik apa si kenapa sangat lama datang nya."
"Hahaha ya namanya adik sayang, pasti akan sangat lama, banyak yang harus dia lalui, nanti kamu akan bertemu dengan nya sabar saja ya," kata Austin.
"Adik siapa ayah," tanya Aura.
"Kata paman Ryan, paman akan segera mempunyai anak kecil, dan akan menjadi adik Adam, Jadi adik Adam ada satu dua.." Adam menunjukan dua jari tangan nya.
"Hahaha iya benar, kalau Aura akan tiga adik, ayah harap kalian semua akan tetap akur ya, jangan ada yang bertengkar satu sama lainnya," ucap Austin.
"Kalau kita mendidik mereka berdua dengan baik pasti merea berdua akan akur, ya pasti juga akan ada selisih paham tetapi jika masih wajar mah tidak masalah," ujar Fanny.
Di usia nya yang masih sangat mudah Fanny sudah memiliki tanggung jawab yang sangat besar, untung saja Fanny sangat mampu dan sudah berpikir jauh lebih dewasa di bandingkan dengan umur nya, terkadang perkataan umur itu hanya angka ada benar nya juga.
Malam hari nya mereka semua berkumpul di ruang makan, mereka sedang makan malam bersama. Semua masakan di masak langsung oleh Fanny dan Fina. Fanny mengajari banyak hal tentang masak pada Fina yang tidak bisa memasak sayur, tetapi kalau membuat kue dia jago nya. Memang terdengar aneh tetapi memang itu yang terjadi.
"Sayang rasa nya tidak pernah mengecewakan," kata Austin.
"Iya dong, mana mungkin rasa nya mengecewakan, apalagi Fina membantu ku memasak.."
"Ah kau bisa saja, padahal aku hanya membantu my saja, aku tidak melakukan hal yang penting."
"Sayang bukan nya kamu sangat jago membuat kue tetapi kenapa kamu tidak bisa memasak," tanya Ryan.
"Sebenarnya Fina bukan tidak bisa, dia terlihat sangat pawai menggunakan peralatan dapur, hanya saja dia hanya perlu sedikit belajar tentang rasa. Kalau membuat kue mah dia sudah sangat jago sekali, nanti kita akan memakan makanan penutup dari nya."
"Nah itu lah apa yang di katakan Fanny benar semuanya, aku kurang bisa mengatur rasa makanan. Kalau kue kan hanya asin atau manis. Kalau sayuran kan lebih spesifik lagi," kata Fina.
Ryan menganggukkan kepala nya, ia sangat senang istri nya mau banyak yang belajar. Fanny sudah sana cukup menjadi contoh yang baik untuk istri nya, ia yakin tak lama lagi Fina akan jago dalam dalam semua hal.
"Ada acara malam ini Austin," tanya Ryan.
"Tidak ada, kau ada acara," tanya balik Austin.
"Ada dengan istri ku, kau jangan menganggu ya," jawab Ryan.
Kalau sudah dengan istri Austin langsung paham. Ia tidak heran karena bujang tua memerlukan hal itu. Austin sangat maklum sekali, berbeda dengan dirinya yang sudah pernah menikah berulang kali, jadi tidak gas gasan.
"Ayah aku mau membeli buku," kata Adam.
"Sayang kita belanja dengan mereka yuk. Banyak hal yang harus di beli, apalagi Aura akan sekolah.
"Ya sudah ayo lah, aku juga ingin belanja, masak anak anak saja yang berbicara belanja mamah nya tidak belanja," kata Fanny.
"Hahaha iya kamu juga bebas berbelanja apa saja yang kamu suka sayang.."
"Sayang..."
"Hmmm tadi kamu sudah janji ke pada ku ya, jangan aneh aneh kamu sayang, besok baru kita belanja gantian dengan mereka. Tidak baik jika rumah kosong, nanti ada yang datang," kata Ryan.
"Hahaha benar, nanti jadi tempat hantu," ujar Austin.
Setelah selesai makan mereka langsung melakukan hal yang sudah mereka rencanakan tadi. Austin dan Fanny membawa anak anak mereka ke mall terbesar di kota ini. Sebelum Fanny berbelanja mereka akan ke toko khusus untuk anak anak terlebih dahulu.
"Ayah mamah lihat aku mau yang itu," kata Adam.
"Sayang tadi janji nya apa, kamu kan sudah berkata untuk membeli buku, bukan membeli mainan sebesar itu." Austin enggan membeli mainan lagi untuk Adam, Adam hanya penasaran saja, hanya bermain sebentar kalau sudah bosan ia akan kembali ke pada mainan yang lama nya.
"Ayah aku mau ayah," ucap Adam.
"Adam sayang dengarkan ayah, kalau kata ayah tidak ya tidak. Nanti kalau kamu sudah Tia ingin bermain mainan sebesar itu akan tidak berguna. Lebih baik kamu membeli apa saja yang kamu mau asalkan tidak mobil sebesar itu," kata Austin.
"Hmmm apa yah, aku mau itu aku mau itu aku mau itu..." Adam mulai merengek. Kalau sudah seperti itu Austin tidak bisa, nanti juga kalau Adam ngadu pada neneknya malah bahaya untuk diri nya.
"Ya sudah iya iya pulang nanti kita beli," ucap Austin.
Fanny tidak bisa ikut melarang, ia takut Adam malah marah pada nya, lagi pula yang mencari duit juga bukan diri nya, tetapi Austin.
"Sayang kamu yakin," tanya Fanny.
''Aku sangat yakin, ya mau bagaimana lagi, kalau dia malah mengadu pada nenek dan kakek nya bukan hanya satu di belikan oleh mereka, bisa bisa pabrik nya di bawa ke rumah," jawab Austin.
"Hahaha iya juga ya, Adam juga cucu satu satu nya, mau apa pun yang ia mau kalau gak kamu masih ya merea yang memberikan nya," kata Austin.
__ADS_1
Sebelum membeli mobilan sebesar itu, mereka masuk ke teman yang khusus untuk perlengkapan sekolah. Hal yang pertama mereka lakukan adalah membeli perlengkapan melukis untuk Aura. Untuk Adam sendiri hanya buku buku kecil yang khusus untuk anak paud.
''Ayah banyak sekali," kata Aura.
"Hahaha tidak papa sayang, kan kamu akan sekolah, kalau untuk membeli perlengkapan sekolah kamu boleh meminta apa saja yang kamu mau, jangan seperti Adam," ucap Austin.
"Aku.. aku salah apa," tanya Adam dengan wajah tidak bersalah nya.
"Hahaha kamu tidak pernah salah sayang, kamu itu sangat sempurna,'' ucap Austin.
Fanny hanya bisa menahan tawa nya, kalau melihat wajah Adam yang seperti ini mirip sekali dengan Austin, ya nama nya juga anak yang pasti akan mirip.
"Sayang..."
"Iya iya ayo, anak nya sudah sekarang giliran mamah nya," kata Austin.
"Hahaha iya ayo sayang ku..." Fanny sangat bersemangat.
Anak anak mereka berdua letak di taman bermain dengan di jaga oleh orang yang Austin percaya, bagaimana tidak Austin percaya mereka sudah sangat sering bermain di sana. Mall ini juga tidak jauh jauh dari milik anggota keluarga nya.
"Tidak papa sayang, anak anak kamu letakan di sini," tanya Fanny.
"Tidak papa sayang, jangan khawatir ya."
Toko yang akan mereka datangi juga tidak terlalu jauh, jadi Austin lebih merasa aman, anak anak nya masih bisa ia awasi dari kejauhan.
"Nah masuk lah, kamu mau apa? kamu bisa mengambil apa saja yang kamu mau," ucap Austin.
"Yes aku sangat suka kalau begini, ini pertama kali nya kamu mentraktir ku seperti ini," kata Fanny.
Austin baru sadar jika semenjak mereka berdua menikah ini pertama kali nya ia mentraktir Fanny.
"Mahal mahal sayang," ucap Fanny.
"Hahaha tidak papa sayang, kamu jangan berkata mahal jika dengan ku, kamu membuat aku malu sayang," kata Austin.
"Oh begitu ya, maaf sayang aku tidak tau."
Memang beda jika menikah dengan orang kaya, mengatakan mahal saja membuat nya malu.
Fanny asal mengambil saja apa yang ia rasa bagus, toh ia jarang jarang belanja seperti ini, ia juga tidak ada melihat harga harga barang itu agi, nanti akan membuat suami nya malu jika membeli barang melihat harga lebih dulu.
Mata Austin tertuju pada pakaian haram yang berwarna warni semua nya menarik di mata nya, ia rasa Fanny bisa memakai nya berbeda setiap hari nya, pasti setiap malam nya mata nya akan termanjakan dengan pemandangan yang indah dan menggemaskan.
"Bagaimana sayang," tanya Austin.
"Bagiamana apa nya?"
"Coba kamu lihat apa yang aku ambil ini, kamu akan sangat suka," jawab Austin.
Fanny melihat ke arah Austin, mata nya terbelalak melihat pakaian haram yang berwarna warni, kurang lebih ada 7 warnah berbeda.
"Bagaimana sayang," tanya Austin.
"Ah kamu jangan ada ada saja lah," jawab Fanny.
"Ada ada bagaimana semua nya sangat bagus jika kamu pakai, setiap hari bisa ganti warna dan model, jangan menolak sayang ini perintah dari ku," kata Austin.
Fanny membuang nafas nya perlahan, ia tidak bisa menolak nya lagi mau bagaimana pun Austin suami nya dan Austin yang memenuhi semua keperluan nya, lagi pula ini juga tugas nya sebagai seorang istri yang harus membuat suami nya senang.
"Sayang, kamu suka kan," tanya Austin.
"Ya aku suka," jawab Fanny walaupun memang sedikit terpaksa.
Setelah selesai berbelanja mereka berdua langsung kembali menemui ke dua anak mereka, semua belanjaan dari perlengkapan sekolah sampai mobil Adam nanti akan di kirim langsung ke rumah, jadi mereka tidak perlu membawa barang belanjaan, hanya pakaian haram Fanny saja yang Fanny tenteng.
"Sayang sudah yuk, sudah waktunya untuk pulang," ucap Austin.
"Sudah ayo kak," kata Adam.
"Sudah puas kan," tanya Austin.
"Sudah ayah, kenapa harus pulang mobil ku bagaimana," tanya Adam.
"Hadeh anak ini memang ya."
"Iya sayang sudah ayah minta orang untuk mengantar kan nya pulang ke rumah, kalau ayah bawa tidak mungkin bisa sayang," kata Austin.
"Oke aku akan menunggu nya," ucap Adam.
Mereka berdua pun langsung pulang ke rumah. Sebelum masuk ke dalam mobil Fanny menyempatkan membeli beberapa cemilan di depan pintu mall, ia kasihan dengan anak anak yang tidak ada membeli makanan.
"Sayang kalian makan bersama ya.." Fanny memberikan nya pada Aura karena Aura lebih bisa memegang makanan.
"Apa itu," tanya Austin.
"Tidak tau, yang penting enak," jawab Fanny.
Fanny memberikan satu suap pada Austin, dan Austin langsung mencoba nya, memang rasa nya enak tetapi masih enakkan masakan Fanny.
Sesampainya di rumah Austin ingin langsung abai anak nya tidur, ia ingin melihat Fanny mencoba pakaian haram yang mereka beli tadi, tetapi Adam malah tidak mau tidur sampai pagi mobil yang ia inginkan sampai di rumah.
"Sayang ya tidak sekarang juga, bisa jadi besok pagi. Adam harus tidurr besok pagi pasti mobil Adam sudah datang.."
"Ayah tidak bohong kan, ayah membeli nya untuk Adam kan," tanya sekali lagi, ia takut ayahnya berbohong pada nya.
"Tidak sayang ayah tidak berbohong pada Adam, Adam Jangan begitu dong. Ayah kan tidak pernah bohong pada Adam, kenapa Adam malah berkata seperti itu.."
"Sudah ayo tidur besok kita sekolah," kata Aura.
"Nah kakak saja mau tidur.."
"Ayah temanin Adam tidur," ucap nya, kali ini dia kembali manja dengan Austin.
"Iya ayo.."
"Sayang kamu dengan Aura ya.."
"Iya, ayo Aura.." Fanny juga membawa Aura ke kamar nya.
Di dalam kamar Adam langsung nemplok pada Austin yang sudah seperti kangguru anak kan. Adam sudah seperti dari bayi Austin urus tidak heran ia sangat manja pada ayah nya.
"Ayah kata kakak aku tidak boleh merengek seperti tadi.."
"Nah itu kakak benar, kamu memang tidak boleh merengek seperti tadi. Kenapa kamu tidak boleh, karena kamu itu laki laki, seorang laki laki harus kuat, tidak boleh manja dan menangis tidak jelas.."
"Begitu ayah, tapi kalau Adam tidak merengek ayah tidak memberikan apa yang Adam inginkan," kata nya.
"Sudah berakhir tidur sudah tidur," ucap Austin.
Setelah Adam tertidur dengan lelap ia keluar dari dalam kamar, Adam sudah biasa tidur sendiri sejak masih balita. Austin menunggu Fanny yang belum keluar dari dalam kamar Aura, ia memilih mengambil minum untuk mengisi energi nya sebelum ada nya pertempuran.
Saat melewati depan kamar Ryan ia mendengar suara yang sangat menggoda, Austin mendekati kamar Ryan, otak nakal nya ingin sekali berulah. Kalau sampai terdengar dari luar berarti pintu tidak di kunci.
"Sedikit mengintip mungkin tidak papa, hahaha aku penasaran."
Austin sedikit mengintip Ryan, mata nya terbelalak melihat betapa ganas nya Ryan, ya walaupun terlihat punggung nya Ryan saja, Dengan cepat Austin kabur dari sana sebelum ketauan tadi ia hanya penasaran biasa saja.
''Dia ganas seperti ku, hahaha sebentar lagi dia akan segera mempunyai anak."
Setelah selesai minum Austin langsung kembali masuk e dalam kamar nya, ternyata di dalam kamar sudah ada Fanny yang juga sudah menunggu nya, hanya saja Fanny masih memakai pakaian yang lengkap.
"Sayang pakai lah, nunggu apa lagi," ucap Austin.
"Yang mana," tanya Fanny.
''Warna merah sayang, aku sangat suka kamu memakai yang berwarna merah."
"Kamu memang ya." Fanny nurut saja apa yang suami nya katakan, semua perintah suami nya adalah kewajiban nya, ia juga cukup senang melakukan apa saja yang Austin perintahkan.
"Sayang kamu tau Aura mengajarkan hal yang baik bai pada Adam, tetapi karena Adam ngeyel ya tetap saja tidak berpengaruh."
__ADS_1
"Hahaha tidak papa masih anak kecil, kita harus lebih maklum saja ya," kata Fanny.
Mata Austin terbelalak melihat Fanny yang begitu seksi nya, malam ini ia akan makan enak.