
"Sayang tidak semua wanita sama, kalau aku karena kamu yang memaksa ku jadi aku mau, kalau orang lain mah aku tidak mau."
"Tu Fanny benar," ucap Ryan.
Ryan dan Austin banyak membahas pekerjaan, hal itu membuat Fanny tidak paham. Ia memilih meninggalkan tempat itu untuk beristirahat dengan Adam. Lagi pula waktu juga sudah mulai malam.
Pagi hari nya, hari pertama Fanny masak bersama dengan mamah mertua nya, meskipun belum resmi Fanny sangat bersemangat memasak bersama dengan mamah nya, ia jadi mengingat keluarga nya dulu.
"Sayang apa Austin sudah melamar mu," tanya Lia.
"Belum mah, langsung menikah saja mungkin," jawab Fanny.
"Mana bisa begitu sayang," kata Lia.
"Hahaha aku tidak tau mah, terserah mas Austin saja."
''Mana bisa begitu dong sayang, Austin ada ada saja ni. Kamu harus mendapatkan perhiasaan dari lamaran,nanti mas kawin nya beda lagi," kata Lia.
"Terlalu berlebihan mah, kan mas Austin juga sudah pernah menikah, mas Austin pasti sudah mengerti tentang pernikahan."
"Sudah kamu diam saja ya,ini urusan mamah dengan Austin, anak gadis kok tidak di berikan sesuatu yang mewah," ucap Lia.
"Mamah selamat pagi, wah mamah sudah mendapatkan calon menantu yang mamah inginkan, bisa membantu mamah di dapur," ujar Amel.
"Hahaha kau benar, abang mu belum bangun," tanya Lia.
"Sudah lagi main dengan Adam dan pria aneh,'' jawab Amel.
"Siapa pria aneh?"
"Ya siapa lagi kalau bukan Ryan, merea berdua tidak akur sayang, ntah sampai kapan merea berdua bisa akur," saut Lia.
"Kalau menikah mungkin mah, hahaha kalau mereka berdua menikah dan mempunyai anak pasti mereka berdua akan akur," kata Fanny.
__ADS_1
"Amit-amit menikah dengan nya lebih baik baku tidak menikah dari pada harus menikah dengan nya," ucap Amel.
"Amel kamu tidak boleh begitu, terlalu benci dengan seseorang itu tidak baik, benci juga memiliki arti yang berbeda loh, benci benar benar cinta, nah mana tau rasa benci itu berubah menjadi benar benar cinta," kata Fanny.
"Kakak jangan berkata seperti itu, aku sangat tidak suka, mana ada seperti itu," ucap Amel.
"Sudah sayang, biarkan dia, dia belum merasakan karma yang akan berjalan," kata Lia.
"Tidak akan," ucap Amel.
Di lantai atas Austin dan Ryan memang sedang bermain dengan Adam, bermain sambil berolahraga di ruang gym. Kecil kecil begini, Adam sudah di ajarkan olahraga oleh Austin.
"Nah begitu sayang," ucap Austin.
"Ayah ayah aku mau seperti ayah... Huaahhhh...." Adam memasang ekspresi ganas seperti ayah nya.
"Hahaha dia mau seperti mu," kata Ryan.
"Harus lah, kita harus rajin berolahraga," ucap Austin.
"Ayah mamah dimana," tanya Adam.
"Mamah sedang berada di bawa sayang, masak dengan nenek.."
"Satu dua tiga empat lima enam tuju delapan.." Adam menghitung setiap kotak yang ada di perut Austin.
"Kamu sudah pintar sayang."
"Dia sangat pintar," ucap Ryan.
"Oh iya kamu mau bertemu dengan tante Gisel," tanya Austin.
"Tidak mau, aku tidak suka dengan nya," jawab Adam.
__ADS_1
"Hahaha tidak suka ya, bagus Adam.."
"Ssstt kau jangan ikut ikut," ucap Austin.
"Tapi...
"Ryan..."
"Ya ya ya," ucap Ryan yang langsung diam seketika.
"Kenapa tidak mau," tanya Austin.
"Tidak asik seperti mamah," jawab Adam.
"Begitu ya, kalau Adam bertemu dengan nya lagi tidak papa kan??"
"Tidak papa, tapi harus ada ayah," kata Adam.
"Siap, ya sudah ayo kita mandi dan setelah itu sarapan.."
"Duluan lah.." Ryan masih ada ingin di sini.
Austin dan Adam sudah pergi meninggalkan ruang Gym meninggalkan Ryan.
"Halo," ucap Ryan.
"Iya, aku sudah di perjalanan ke sana," kata Fina.
"Aku menunggu mu sayang," ucap Ryan.
"Sayang sayang, aku datang untuk bertemu dengan Amel," kata Fina.
"Aku ingin membahas pernikahan kita."
__ADS_1
"Pernikahan??"
"Iya lah, aku mendekati mu karena ingin menikah dengan mu.."