
Austin memiliki ide gila yang seperti nya bisa membantu nya. Ia mengambil 4 batang lilin dan menyusunnya sedemikian rupa, ia akan memasak telur itu di atas lilin. Dari pada ia bingung bagaimana cara menghidupkan kompor lebih baik ia melakukan hal ini saja..
Austin memecahkan beberapa butir telur ke dalam mangkuk, ia mengambil beberapa bumbu agar telur itu memiliki rasa.
"Penyedap rasa, semoga saja benar." Austin mengambil sedikit penyebab rasa dan ia masukan ke dalam telur, lalu telur itu ia kocok menggunakan tangan kanan nya, ia sangat pandai jika sudah berurusan dengan kocok mengocok.
Austin ingat saat makan telur ada beberapa sayur berwarna hijau di dalam nya, ia ingin mencari sayur itu tetapi ia takut salah mengambil sayur malah akan membuat nya gagal. Austin memutuskan langsung memasak telur itu tanpa tambahan apapun.
Ke empat lilin ia nyalakan dengan korek api. Setelah itu ia mengambil teflon dan meletakan sedikit minyak goreng, untung saja minyak itu tidak tersembunyi. Kemudian Austin meletakkan telfon itu di atas lilin yang menyalah, tangan kiri nya memegang telfon agar tidak jatuh dan tangan kanan nya mengambil telur itu, ia memasukan telur itu tanpa menunggu minyak panas.
Karena menggunakan lilin minyak itu cukup lama panas, rasa nya Austin sudah mulai bosan menunggu, tetapi kalau ia tinggal masakan ini juga tidak akan matang. Austin memang harus lebih bersabar dari biasanya.
"Kau sedang apa," tanya Ryan.
"Kau tidak lihat aku sedang masak," jawab Austin.
"Kau gila, kapan masak nya kalau kau masak di atas lilin," tanya Ryan.
"Kebetulan ada diri mu, bisa memakai kompor," tanya Austin.
"Bisa lah, sebentar," jawab Ryan sambil menghidupkan kompor itu, tetapi tidak menyalah, Ryan juga tidak tau kenapa kompor itu tidak menyalah, biasa nya sekali saja sudah menyala.
"Gas nya habis mungkin," kata Austin.
"Seperti nya ini kompor listrik, sudah lah lebih baik kau tunggu saja sampai matang."
"Temani aku," ucap Austin.
"Aku ingin tidur sangat lelah, habis olahraga ni."
"Halah olahraga ranjang mana ada lelah nya, kau tunggu aku atau kau.."
"Iya iya.." Ryan mendekati Austin dan membantu nya memasak. Mereka berdua sudah seperti bermain masak masakan.
"Nanti jemput Adam ya," ucap Austin.
"Kau kan tidak bekerja, kau seharusnya yang menjemput anak mu," kata Ryan.
"Sesekali, aku lagi ngurus ibu hamil," kata Austin.
"Ngurus ibu hamil, apa sulit," tanya Ryan.
"Sangat sulit dia suka meminta banyak hal yang tidak penting, bukti nya sekarang ini, aku di minta untuk masak. Sudah tau aku tidak bisa masak, kau tunggu saja lah," jawab Austin.
__ADS_1
"Semoga saja kehamilan istri ku tidak akan merepotkan seperti kehamilan istri mu."
"Kau tunggu saja lah, jangan mengajak ku mengobrol, aku sedang sibuk, kalau gosong bagaimana," kata Austin.
"Itu cepat di balik, nanti gosong tidak jadi matang."
"Pegang ini, aku tidak kuat kalau sambil membalik," kata Austin.
Mereka berdua seperti sedang bermain masak masakan sambil bertengkar, apalagi Austin menggunakan suara tinggi nya pada Ryan.
Setelah hampir setengah jam memasak akhirnya telur goreng mereka matang juga. Mereka lama karena beberapa kali lilin yang mereka berdua gunakan mati.
Sudah bereskan semuanya, aku akan memberikan nya pada istri ku."
"Rasanya bagaimana? kau tidak ingin mencoba nya," tanya Ryan.
"Tidak papa, yang penting aku sudah berjuang, enak tidak enak itu bukan urusan ku, kalau tidak di makan aku beli saja di online," jawab Austin sambil pergi meninggalkan Ryan.
Ryan membuang nafas nya dengan kasar. Memang untuk menghadapi Austin harus lebih sabar lagi, apalagi jika sudah seperti ini, nanti seterusnya kesabaran nya akan terus teruji.
"Sayang makanan nya sudah jadi," kata Austin sambil berjalan mendekati istri nya.
"Lama sekali sayang, kamu masak pakai apa, pakai lilin," tanya Fanny.
Fanny cukup terkejut mendengar nya, ternyata suaminya hanya pintar dalam urusan kantor dan membuat anak, kalau urusan dapur Austin sangat bodoh.
"Sayang hanya ini, aku pikir kamu masak apa. Ntah sosis atau nuget," kata Fanny,
"Oh iya ya, kenapa aku tidak menggoreng itu saja, betapa bodoh nya aku," ucap Austin.
"Hahaha tidak papa aku hargai perjuangan kamu." Dengan semangat Fanny mengambil makanan itu.
Dari bentu nya memang tidak menyakinkan, tetapi Fany tidak mau melihat apa apa dari cover nya saja, seperti Austin saat pertama kali ia kali lihat sangat kalem dan dingin eh sekarang malah sangat receh sekali.
Fanny mulai mencoba nya, rasa nya tidak ada yang aneh malahan lebih tidak berasa apa apa, tetapi ntah kenapa ada rasa puas di hati nya, ia seperti sangat bersemangat memakan masakan suami nya ini. Austin cukup terkejut melihat Fanny makan dengan lahap, kalau begitu berarti masakan nya sangat enak.
"Enak sayang," tanya Austin sedikit ragu.
"Ya enak saja rasa nya, walaupun lebih tidak berasa," jawab Fanny.
"Enak ya, aku ingin coba." Austin mengambil sepotong dan memakan nya.
Memang apa yang Fanny katakan benar, tidak berasa apa apa, ia kurang menambahkan penyedap rasa di masakan nya ini, tetapi Austin heran kenapa Fanny memakan dengan sangat lahap. Bukan nya makanan ini tidak ada rasa nya.
__ADS_1
"Hmmm aku suka sayang, makasih sayang," kata Fanny.
"Sa...sama sama, aku sangat senang masakan ku kamu makan dengan lahap, ya walaupun tidak ada rasa nya, seperti nya memang anak kita menginginkan masakan ku."
"Sudah mau jam 2 jemput Adam mas, nanti dia menunggu mu, nah nanti saat pulang jangan lupa membeli makanan lain nya, seperti pisang keju, martabak, bakso bakar, mie ayam, apa saja yang ada di jalan."
"Kamu mau maan lagi, bukan nya sudah makan," tanya Austin.
"Ya ini baru hidangan pembuka sayang, aku belum makan hidangan utama dan penutup," kata Fanny.
Karena takut terlambat menjemput Adam, Austin langsung pergi meninggalkan rumah, jarak sekolah Adam dengan rumah malah cukup jauh, tetapi karena arah ke sana tida macet ia bisa lebih cepat sampai.
Sepanjang jalan memang ia melihat banyak sekali orang berjualan, mungkin tadi saat mengantarkan Adam tadi Fanny melihat semua nya. Austin menandai satu tempat yang menjadi pusat mereka berjualan, nanti setelah menjemput Adam ia akan mampir ke tempat itu.
''Ayah,,, Mana mamah," tanya Adam.
"Mamah ya di rumah sayang, kamu sudah lama menunggu ayah," tanya Austin.
"Belum," jawab Adam.
"Maaf pak Austin ayah nya Adam," ucap seorang wanita.
"Iya ada apa buk," tanya Austin.
"Tadi Adam bertengkar dengan teman sekelas nya, jadi di dahi nya ada bekas pukulan penggaris."
"Apa!!" Austin langsung memeriksa nya, memang ada bekas pukulan penggaris di sana.
"Kamu tidak menangis sayang," tanya Austin.
"Tidak, dia yang menangis aku pukul dia kembali," jawab Adam.
"Kenapa dia bertengkar buk?"
"Dia sedang bermain dengan teman nya, tetapi ada anak lain yang menganggu teman nya, dia membela nya dan malah terkena pukulan."
"Siapa yang kamu bela sayang, dia wanita," tanya Austin.
"Benar pak, seperti nya teman baru nya."
"Bagus, ayah sangat bangga pada mu," ucap Austin.
Austin sangat bangga pada Adam yang berani membela teman wanita nya, seperti nya bibit bibit playboy sudah mulai muncul di dalam diri nya.
__ADS_1