
"Adam...." Austin kebingungan mencari keberadaan anak nya.
Austin berjalan sana sini mencari keberadaan Adam, ia sangat takut sekali, tubuh nya gemetar karena sangat takut kehilangan anak tercinta nya.
"Sayang dimana kamu..." Austin meremas rambut nya dengan kasar.
"Ayah..." Adam berlari mendekati Austin.
"Adam..." Austin langsung menarik Adam dan memeluk nya dengan erat.
"Sayang kamu membuat ayah khawatir pada mu," ucap Austin.
"Ayah... Ayah lama sekali.."
"Maafkan ayah sayang, ayah terjebak macet sayang.."
Austin memeriksa tubuh Adam, dari ujung rambut sampai dengan ujung kaki. Tidak ada yang kurang satu pun dari Adam, wajahnya masih tampan dengan ke dua pipi gembul nya. Bibir nya masih suka maju sendiri karena terlalu sering merengek pada nya.
"Syukur lah tak ada yang berubah dari mu," kata Austin.
"Kamu dari mana sayang, kamu pergi dengan siapa," tanya Austin.
"Dengan taman ku dan mamah nya, tetapi sudah pergi tadi saat aku melihat ayah," jawab Adam.
"Oh bagus lah kalau dengan mamah teman mu, ayah janji lain kali ayah tidak akan menjemput mu terlambat," kata Austin.
"Ayah jalan kaki, ayah berkeringat," tanya Adam.
"Iya sayang, ayah berlari dari ujung sana karena sangat khawatir pada mu, untung saja kamu baik baik saja," jawab Austin.
Tak lama Fanny datang karena jalan sudah tidak se macet tadi. Ia turun dari dalam mobil dan berjalan mendekati mereka berdua.
"Adam tidak papa kan mas," tanya Fanny.
"Lihat wajahnya masih gembul, bibirnya masih suka maju sendiri, dia tidak papa," jawab Austin.
"Ayah ayo pulang aku mau main mobil ku.."
"Tidak usah kamu tidak boleh main mobil," larang Austin.
"Ayah..." Adam kembali merengek, seperti yang sudah di duga bibir Adam maju ke depan.
Saat seperti itu lah Austin sangat merasa gemas dengan Adam, ingi sekali ia mencaplok bibir menggemaskan milik Adam.
"Iya iya ayo kita pulang."
__ADS_1
"Aura pulang jam berapa mas," tanya Fanny.
"Jam 4 sore, ini baru setengah tiga, nanti aku akan meminta supir saja menjemput nya, takut nya kalau kau nanti terlambat lagi, kalau supir sebelum jam 4 sudah aku minta ke sana," jawab Austin.
"Oh iya sudah ayoo kita pulang.."
Mereka bertiga langsung kembali ke rumah. Di rumah Adam berlari mendekati mobil mainan nya yang sangat mewah, lebih mewah dari yang di pajang di mall kemarin.
"Aku mau naik yah, gimana caranya," tanya Adam.
Austin mengangkat Adam dan menaikan Adam ke dalam mobil. Ia memberikan penjelasan pada Adam bagaimana cara memakai mobil ini, untung saja halaman rumah Austin sangat luas yang membuat Adam bisa bergerak dengan bebas membawa mobil nya.
"Hati-hati ya, jangan sampai kau menabrak mobil ayah," kata Austin.
"Sayang itu milik siapa," tanya Fanny.
"Hahaha milik ku sayang, aku sudah lama memesannya dan baru datang tadi seperti nya, mahal sayang hampir 13 m," jawab Austin.
"Untuk apa mobil seperti itu, hanya bisa dua orang saja, kamu saja mempunyai 2 anak," kata Fanny.
"Hahaha tidak papa sayang, untuk kita berpacaran saja, kan tidak masalah," ucap Austin.
"Ayah tak hidup," kata Adam.
Sebelum Austin melepaskan Adam, Austin mengajari Adam bagaimana cara menyetir nya, nanti kalau tidak bisa malah menabrak saja sini. Untung saja karena kepintaran yang Adam miliki ia berhasil membawa mobil itu dengan hanya 5 menit belajar saja. Adam sudah seperti pembalap yang sangat keren sekali.
"Anak ayah mah pintar," ucap Austin.
Austin dan Fanny duduk di dekat pohon pohon sambil memperhatikan adam, mereka tidak mungkin meninggalkan adam sendiri, sangat berbahaya jika Adam di luar pengawasan.
"Ayah..." Teriak Adam.
Duar... Adam menabrak mobil baru Austin.
"Mobil ku.." teriak Austin.
Kaki Austin terasa sangat lemas, ia tidak bisa berkata apa apa lagi, mobil seharga 13 M yang belum pernah ia pakai sedikit pun sudah penyok karena anak nya sendiri.
"Sayang kamu tidak papa kan," Fanny langsung mengeluarkan Adam dari dalam mobil nya, untung saja mobil itu memiliki tingkat keamanan yang sangat kuat sehingga walaupun mengalami benturan yang cukup kuat Adam tidak papa.
"Mobil ku rusak..." Adam merengek melihat mobil nya yang penyok bagian depan nya.
"Adam.. Kenapa kamu tidak bisa hati hati, mobil ayah sayang mobil ayah.."
"Ayah... Mobil ku yang rusak, ahkkkkk aku mau baru.."
__ADS_1
Dengan wajah yang tidak bersalah Adam meminta yang baru lagi, Austin tidak menghiraukan Adam, ia masih nyesek dengan mobil nya yang sedikit penyok dan lecet berat.
"Ayah.."
"Sayang diam minta kakek mu." Austin sedikit kesal dengan Adam.
Dengan cepat Adam berlari masuk ke dalam rumah, ia mencari paman nya Ryan.
"Paman..."
"Iya.." Ryan berjalan mendekati Adam.
"Kamu nangis sayang," ucap Ryan sambil memeluk nya.
"Mau nenek.."
Ryan mengambil handphone nya dan langsung menghubungi nenek Adam.
"Iya Ryan.."
"Nenek hiks hiks hiks..."
"Eh sayang kenapa, kenapa Adam menangis," tanya Lia.
"Ayah jahat, Adam mau mobil yang besar, ayah marah.."
"Anak itu ya, ya sudah kamu tunggu ya, coba berikan pada paman Ryan.."
"Iya tan," ucap Ryan.
"Mobil seperti apa Ryan," tanya Lia.
"Yang bisa di naiki itu tan, nanti saya kirim gambar nya."
"Secepatnya ya.."
"Adam.." Austin mengerti anak nya ngambek karena ia marahi.
Adam berlari naik ke lantai dua, ia masuk ke dalam kamar nya agar Austin tidak bisa menemuinya.
"Dimana Adam" tanya Austin.
"Seperti nya di dalam kamarnya, kenapa dengan mobil nya," tanya Ryan.
"Baru saja mobil baru yang aku pesan sajak lama datang, dan sudah di tabrak dengan nya sampai penyok," jawab Austin.
__ADS_1