
"Fanny..." Ika sangat senang melihat kedatangan Fanny ke rumah nya. Walaupun gagal jadi calon menantu Ika tetap suka dengan Fanny. Wanita cantik yang benar-benar sangat ia harapkan jadi menantu nya, tetapi Ryan malah mendapatkan wanita lain yang juga tidak kalah dengan Fanny.
"Tante, aku datang ingin mengundang tante langsung ke acara pernikahan ku minggu depan," ucap Fanny.
"Tanpa kamu minta pun tante pasti akan datang, jangan takut Fanny. Oh iya kamu tau Ryan sudah membawa wanita ke rumah."
"Hahaha aku sudah tau tan. Tante tau wanita itu sepupu jauh nya Austin, aku sudah bertemu dengan wanita itu."
"Oh begitu pantas saja lah Ryan sangat serius pada nya," kata Ika.
"Iya tan, Ryan nya ada," tanya Fanny.
"Ada, tunggu sebentar ya.. Tante panggil kan, dia masih tidur," jawab Ika.
Fanny menunggu Ryan di ruang keluarga. Sudah menjadi kebiasaan Ryan tidur sampai siang jika tidak ada kegiatan apa apa.
"Eh ada tamu agung," ucap Ryan.
"Ya ampun, bagaimana mau menikah Tidur saja masih siang terus," kata Fanny.
"Hahaha nama nya juga jomblo, yang ingin menikah kan kau bukan aku," ucap Ryan.
"Dan seperti nya ada yang ingin kau katakan ni.." Ryan duduk tak jauh dari Fanny.
Jika Fanny datang menemuinya langsung tidak mungkin jika tidak ada apa apa, Fanny pasti ingin mengatakan sesuatu hal yang cukup penting ke pada nya.
"Ada apa," tanya Ryan.
"Biasa lah," jawab Fanny.
"Gisella lagi? dia masih datang ke rumah," tanya Ryan.
"Iya Ryan, sebenarnya aku tidak masalah tetapi karena Austin terlalu welcome pada nya dan terlalu dekat dengan nya membuat ku overthinking. Belum lagi dia yang sangat sibuk, dia sangat sibuk tetapi ada waktu jika Gisella datang, waktu nya yang seharusnya untuk ku malah di ambil oleh gisella."
__ADS_1
"Wah wah ini kau yang overthinking atau memang Austin yanng sudah kelewatan batas," ucap Ryan.
"Kau pikir saja sendiri aku yang salah atau dia yang salah, kalau memang aku yang terlalu berpikir yang tidak-tidak. Aku bisa mencoba untuk berpikir lebih positif lagi," kata Fanny.
"Menurut ku kau memang harus berpikir lebih positif lagi saja, agar tidak menganggu pikiran mu, untuk urusan Austin dan Gisella aku yang aan turun tangan, kau jangan khawatir ya," ucap Ryan.
"Jangan katakan kalau aku yang mengatakan nya pada mu,nanti dia malah marah pada ku."
"Tenang saja, aku tidak akan mengatakan apa apa tentang mu, aku bisa mengatasi nya, aku sudah sangat tau bagaimana Austin, dan aku sudah sangat tau bagaimana cara mengatasi nya," kata Ryan.
Seperti yang Fanny harapkan Ryan selalu memberikan nya ketengan setiap ia bercerita. Ryan memang bisa ia andalkan, selalu memberikan solusi di setiap masalah yang sedang ia hadapi.
"Tidak pulang," tanya Ryan.
"Kau mengusir ku??"
"Hahaha tidak bukan begitu maksud ku, biasa nya setelah bercerita kau langsung pulang," kata Ryan.
Ryan pikir memang Austin sudah sangat keterlaluan, ia akan memberikan Austin pelajaran agar tidak seperti ini lagi, semua yang ia lakukan juga demi kebaikan Austin sendiri.
"Sabar, ya sudah makan siang dulu sana, mamah ku sudah masak."
"Aku sudah makan di cafe bersama teman ku, wanita yang mengenalkan ku dengan Austin," kata Fanny.
"Ohh begitu, makan nya jangan buru buru menikah, lebih baik saling mengenal dulu saja," ucap Ryan. Ia tidak sadar jika ia juga yang memaksa agar mereka berdua cepat menikah.
"Ryan kau sangat lawak sekali ya, kau juga yang meminta ku untuk menikah dengan Austin dengan cepat, ini malah berbicara yang lain pulak," kata Fanny.
"Hahaha aku lupa, maaf maaf. Sekarang saja aku dan Fina lagi di tahap saling mengenal lebih dekat lagi, aku juga tidak ingin dia kaget dengan sifat ku, nah mungkin kau sedang kaget dengan sifat asli nya."
"Kalau sifat asli nya seperti itu ya pantas saja, pernikahan nya selama ini tidak bertahan lama, semoga saja aku tahan dengan semua sikap nya itu," ucap Fanny.
Setelah berbincang cukup lama dengan Ryan, Fanny memutuskan untuk pulang ke rumah,ia sangat berharap jika Gisella sudah tidak ada di rumah, Dan harapan nya terkabul saat ia masuk ke dalam rumah, Gisella sudah tidak ada di dalam rumah, hanya ada Austin yang duduk sendiri di kursi dekat tangga.
__ADS_1
"Dari mana?"
"Dari mana mana lah, aku ingin istirahat," ucap Fanny yang berusaha untuk cuek.
"Aku bertanya serius sayang, kenapa kamu tida memberikan ku kabar, aku pikir tadi kamu hanya sebentar," kata Austin.
''Kenapa aku memberikan mu kabar, kamu saja tidak bertanya aku mau kemana saat aku meminta mu izin tadi, kamu juga tidak ada niat mengantarkan ku, ya aku pahan kamu sibuk dengan wanita itu."
"Sayang apa si maksud nya, kamu sedang marah pada ku ni??"
"Tidak lah, untuk apa aku marah pada mu. Aku tidak marah pada mu, aku tidak berhak untuk marah pada mu. Kalau aku marah pada mu, kamu pasti hanya berkata sayang mengerti lah, aku sedang membantu Gisella untuk dekat dengan Adam, tolong mengerti." Fanny mulai terbawa dengan perasaan nya.
"Ya aku sedang berusaha untuk mengerti diri mu, tetapi coba untuk mengerti aku, bagaimana perasaan ku saat menjelang pernikahan nya pria yang ia cintai malah banyak menghabiskan waktu dengan mantan istri nya, kamu akan datang kalau kamu ingin tidur dengan ku." Fanny pergi meninggalkan Austin, ia tidak mau semain meledak tidak jelas lagi.
Austin hanya terdiam saat Fanny pergi meninggalkan nya, otak nya masih mencerna semua ucapan Fanny, awalnya memang ia tidak merasa bersalah sama sekali.
''Bodoh," ucap Ryan.
"Ryan, sejak kapan kau di situ," tanya Austin.
"Sejak Fanny mengatakan semua nya, kau tidak pernah berubah Austin kau masih saja bodoh jika berurusan dengan perasaan mu, kapan kau mulai belajar Austin," ucap Ryan.
"Maksudnya," tanya Austin.
"Kau mau rumah tangga mu gagal lagi, kau mau Fanny meninggal kan mu karena kau tidak bisa mengendalikan diri mu. Jika kau tidak serius dengan Fanny, jangan lanjutkan aku bisa menggantikan mu."
"Ryan jangan macam macam!!"
"Siapa yang macam macam Austin, kau saja tidak bisa menghargai nya sebagai kekasih mu, kau malah sibuk dengan masa lalu mu."
"Aku hanya membantu Gisella untuk dekat dengan Adam, apa itu salah? dia ibu kandung nya, dia berhak atas Adam," ucap Austin.
"Ya dia memang berhak atas Adam, tapi dia tidak berhak atas waktu mu. Kau juga tidak memiliki kewajiban untuk mendekatkan Adam dengan Gisella, kau tau kenapa Adam sangat sulit dekat dengan Gisella karena kesalahan Gisella sendiri, biarkan dia menebus semua kesalahan nya sendiri. Yang harus kau lakukan sekarang fokus dengan pernikahan mu, ini bukan pernikahan pertama mu, seharusnya kau sudah mengerti dan belajar dari masa lalu mu.."
__ADS_1