
Aura langsung dekat dengan Adam, mereka berdua seperti memiliki ikatan saudara. Yang biasa nya Aura tidak suka bermain kali ini dia bermain dengan Adam. Meninggalkan hobi nya untuk sementara waktu. Kalau Adam sendiri memang cukup mudah bergaul dengan orang baru, apalagi teman sepelantarannya, jadi tidak heran jika diri nya menerima Aura dengan sangat baik.
"Kakak sekolah dimana," tanya Adam.
"Aku tidak sekolah, kamu sekolah??"
"Iya aku sekolah, di sekolah seru sekali. Banyak mainan dan teman teman, nanti aku minta ayah agar kakak sekolah dengan ku."
"Oke, mainan kamu banyak sekali, tapi ini semua milik anak laki-laki, aku anak perempuan," kata Aura.
"Aku aku aku ada boneka, kemarin ayah beli. Ayo kita ambil.."
"Sayang mau kemana," tanya Austin.
"Mengambil boneka untuk kakak," jawab Adam.
"Jangan naik turun tangga ya, kalau di atas maun di atas saja," kata Austin.
"Iya ayah.."
Adam dan Aura naik perlahan ke lantai atas. Austin memperhatikan ke dua nya agar tetap aman.
"Jadi kapan aku mengurus semua nya, pasti ada perpindahan data. Banyak hal yang harus kau urus," kata Ryan.
"Nanti lah, aku akan meminta orang untuk mengurus semua nya. Pertama aku harus memasukan nya ke sekolah dulu, setelah itu baru lah aku mengurus yang lainnya."
"Austin aku boleh jujur, wajahnya mirip dengan istri pertama mu," kata Ryan.
"Ha iya... Iya aku mengingat nya, istri pertama mu. Tadi aku seperti tidak asing dengan wajahnya," ujar Fina.
"Apa istri pertama nya semirip itu dengan Aura," tanya Fanny.
"Iya mirip, tetapi karena sudah lama hampir 7 tahun tidak bertemu aku juga sedikit lupa," jawab Ryan.
"Sayang bagaimana? mirip tidak," tanya Fanny.
"Aku lupa lagi wajahnya, apa memang mirip,, aku rasa hanya rahang bawa nya mirip dengan ku," kata Austin.
"Mungkin hanya sekilas saja, sudah jangan jadikan hal ini pikiran," saut Ryan.
Austin meminta orang untuk mengurus semuanya, ia hanya akan mengurus sekolah Aura. Sisanya akan menjadi urusan anak buah nya. Kalau di tambah dengan Aura anak Austin akan menjadi dua, ia akan meminta dua anak lagi dari Fanny, jadi totalnya ada 4. Austin sedikit khawatir memiliki banyak anak, ia bukan takut harta nya akan kurang mengurus anak, tetapi ia takut tidak bisa memberikan kasih sayang yang sama pada anak anak nya nanti. Ia juga takut mengabaikan tanggung jawab nya sebagai seorang ayah.
Tetapi ada keyakinan di dalam hati nya kalau diri nya mampu merawat dan membesarkan semuanya dengan baik, seberapapun banyak anaknya nanti Austin akan berusaha menjadi ayah yang bertanggungjawab.
"Sayang kamu tidak masalah kan," tanya Austin.
"Tidak sayang, aku tak masalah kok, aku suka dengan anak kecil. Lagi pula Aura juga tidak terlalu kecil yang benar-benar perlu bantuan kita. Aku lihat tadi dia sudah bisa mandi sendiri, merapihkan tempat tidur nya. Kamar nya benar-benar sangat rapi sekarang."
"Syukurlah, aku memilih nya juga karena banyak alasan, pertama dia sangat memerlukan kita. Ke dua dia memiliki bakat yang luar biasa, kamu melihat dia mempunyai banyak perlengkapan melukiskan?"
"Iya banyak sekali, apa dia sangat suka melukis," tanya Fanny.
"Bukan hanya suka tetapi sangat pandai melukis, aku yakin dia akan menjadi seseorang yang sukses karena bakat yang luar biasa itu," jawab Austin.
"Amin aku dukung semuanya."
"Baby, apa kamu ingin ayah jenguk," tanya Austin sambil mencium perut Fanny.
"Aku semakin gemuk sayang," kata Fanny.
"Hahaha memang iya, semakin besar kamu tu, tapi aku suka kok," ucap Austin.
"Tadi aku timbang sudah 58, naik 13 kilo, biasa nya aku 45."
"Kalau melihat cara kamu makan dan lain sebagainya, aku rasa kamu bisa sampai 80/85," kata Austin.
"Sayang aku tidak mau ah, nanti kamu jadi tidak suka aku.."
"Hahaha tidak papa sayang, seumur umur aku belum pernah memiliki istri gemuk, kan juga kamu gemuk karena hanik. Kalau tidak hamil baru kamu bisa menolak nya, kalau hamil juga karena kesehatan bayi kita."
Austin malah sangat penasaran dengan Fanny kalau sampai Fanny gemuk. Ia tidak pernah mendapatkan wanita yang tubuh nya lebih besar dari diri nya, kalau sampai Fanny lebih besar dari nya, akan terasa lebih seru jika tidur dengan nya. Toh Fanny gemuk juga hanya saat hamil saja, Austin tidak mempermasalahkan hal itu.
"Sayang nanti kalau kamu gemuk pakaian kamu tidak akan muat, kita akan belanja pakaian yang besar besar untuk mu," kata Austin.
"Ahh sayang, kamu jangan mengatakan hal itu ah, aku tidak akan gemuk," ucap Fanny.
Austin melihat jam di handphone nya, malam ini ia memiliki janji dengan beberapa rekan bisnis ya, pertemuan privat yang akan membahas beberapa kerja sama yang akan menguntungkan ke dua bela pihak. Austin juga berencana mengajak istri nya Fanny.
"Sayang kita malam ini akan dinner dengan rekan bisnis ku," kata Austin.
"Kita berdua saja? atau anak anak akan ikut," tanya Fanny.
"Ya berdua saja, anak anak dengan Ryan."
"Ya sudah ini sudah mau malam, aku bersiap siap dulu."
Selagi menunggu Fanny bersiap siap. Austin memutuskan untuk menemui Aura dan Adam. Ke dua nya terlihat sedang melukis bersama. Adam yang tidak bisa melukis sama sekali hanya mengikuti Aura, beberapa kali terlihat Aura mengajari Adam melukis, ya walaupun hasilnya tetap sama.
"Kakak sangat pintar," ucap Adam.
"Kamu juga pintar."
"Kakak tidak bisa menggambar aku," tanya Adam.
"Tidak bisa, kamu terlalu menggemaskan," jawab Aura.
"Sayang kalian sedang apa," tanya Austin sambil mendekati mereka berdua.
"Ayah lihat kakak, kkakak sangat pintar melukis,," kata Adam.
"Kakak memang pintar sayang, kamu juga belajar dengan kakak."
"Adam tidak bisa, Adam tidak pintar seperti kakak," kata nya.
"Aura melukis apa," tanya Austin.
"Melukis taman ayah, taman di rumah ini sangat bagus."
"Bagus terus kan ya. Oh iya ayah dan mamah akan pergi. Adam dengan kakak di ruang saja ya, Aura harus menjaga adik dengan baik. Dan adik tidak boleh nakal dengan kakak. Ada paman Ryan yang akan bersama dengan kalian berdua."
"Ayah dan mamah mau kemana," tanya Adam.
"Ke hati Adam, hahaha tidak sayang ayah bercanda. Ayah dan mamah akan pergi bekerja, jadi Adam tidak boleh ada ikut."
"Oke jangan lupa ayah," ucap Adam.
"Iya sayang, nanti ayah belikan," kata Austin.
Austin kembali ke kamar nya untuk bersiap siap Saat melihat Fanny Austin terkejut Fanny memakai baju yang sangat seksi, tetapi sangat terlihat cantik. Fanny memakai gaun berwarna merah yang sangat menyatu dengan warna kulit nya. Rambut nya tergerai panjang yang membuat Fanny semakin terlihat sangat cantik saja. Orang orang tidak akan sadar jika Fanny sedang hamil jika seperti ini.
"Sayang kamu sangat cantik sekali," ucap Austin.
"Tapi seperti nya terlalu terbuka," kata Fanny.
"Tidak tidak papa, nanti akan kita tutup dengan jas milik ku," ucap Austin.
"Seperti nya memang pakaian berwarna merah sangat cocok dengan mu sayang," kata Austin.
"Aku ada satu lagi, kamu mau melihat nya," tanya Fanny.
"Boleh, kalau itu lebih tertutup pakai itu saja," jawab Austin.
Fanny menganti pakaian nya di depan Austin. Austin rasa sama saja, cukup terbuka tetapi sangat cocok di pakai oleh Fanny. Tetapi Austin rasa lebih cocok yang ke dua karena tidak terlalu mencolok, apalagi ini pertemuan antara beberapa pemimpin perusahaan. Yang pertama lebih cocok jika di pakai di acara Party.
"Yang ini saja lah, aku rasa lebih cocok saja, tinggal memakai perhiasan yang aku belikan, dah kamu terlihat sangat sempurna," kata Austin.
"Oke kalau begitu, kamu mandi gih, aku siapkan pakaian mu dulu."
Austin mengecup dahi Fanny dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Terkadang memang Austin cukup romantis, ia bisa meletakkan diri nya dimana pun sesuai dengan keadaan.
"Aku rasa dia sangat tampan, untung saja mau dengan ku," ucap Fanny.
__ADS_1
Kalau membayangkan bagaimana ekspresi wajah Austin saat menikmati nya terkadang membuat Fanny sampai malu sendiri. Ia sangat suka membayangkan hal itu, Austin benar-benar terlihat sangat tampan jika memasang wajah ekspresi seperti itu.
Setelah ke dua nya selesai bersiap siap mereka berdua pun pergi meninggalkan rumah. Austin juga sudah berbicara dengan Ryan tentang anak anak nya. Ryan harus menjaga anak anak nya dengan sangat baik.
"Sayang apa kata Ryan tadi," tanya Fanny.
"Tidak ada, biasa nya aku pergi dengan nya, tapi karena aku sudah mempunyai istri ya aku pergi dengan mu. Dia hanya membahas hal itu, kami sudah tidak saling tergantungan, kan sudah mempunyai istri masing-masing."
''Sayang aku rasa ya, kamu harus menyelidiki Aura deh, aku rasa orang tua nya masih ada, bukan aku tidak ingin Aura ada di keluarga kita, tetapi aku pikir Aura berhak bertemu dengan orang tua nya, atau setidaknya kita tau siapa orang tua nya. Jika dewasa nanti kita akan lebih mudah menjelaskan semua nya dengan Aura."
"Hmmm ya yang kamu katakan tu ada benar nya juga, tetapi aku tidak memiliki waktu untuk menyelidiki semua nya. Nanti aku akan meminta orang untuk menyelidiki semua nya,'' kata Austin.
"Oke sayang."
Sesampainya di tempat pertemuan mereka berdua langsung menuju ke ruangan private, pertemuan ini cukup penting yang mengharuskan mereka membahas nya di ruangan private. Seperti biasa nya kecantikan Fanny menari perhatian orang lain, mereka berpikir kenapa Austin sangat mudah mendapatkan wanita yang cantik cantik, image Austin memang sudah cukup jelek karena bolak balik menikah.
Di rumah Ryan dan Fina hanya menjaga ke dua anak ini agar tidak melakukan hal hal yang berbahaya, walaupun memang meraka juga tidak akan melakukan nya, hanya Aura dan Adam lakukan hanya bermain saja, Adam dengan berbagai macam mainan canggih nya dan Aura dengan boneka dan mainan milik Adam.
''Sayang mungkin ini gambaran kita kalau kita mempunyai anak nanti," kata Fina.
"Hahaha iya benar sayang, kalau ada istri satu lagi pasti lebih seru," ucap Ryan.
"Kamu ya, siapa lagi yang mau dengan mu aku tanya, hanya aku yang mau dengan bujang tu seperti mu," kata Fina.
"Hahaha kamu benar juga ya, tapi kalau ada yang mau dengan ku bagaimana? kamu tidak takut aku di ambil oleh wanita lain," tanya Ryn.
"Untuk apa aku takut, aku juga tanpa kamu masih bisa hidup, jadi untuk apa aku taku sayang ku. Nah atau Amel saja lah yang menjadi istri dua mu bagaimana? aku tidak masalah kamu menikah dengan Amel, asalkan kamu adil dan bisa membuat Amel menerima semua nya.'
"Tidak tidak, dari pada aku menikah dengan Amel, lebih bauk aku dengan mu selamanya, kamu tenang saja sayang, aku tadi hanya bercanda saja kok, sudah tida ada pikiran ku untuk memiliki dua istri,'' ucap Ryan.
Saat sedang mengobrol tiba tiba handphone Ryan berdering, terlihat panggilan dari nomor yang tidak di kenal.
"Halo..." Ryan mengangkat nya.
"Kembali kan anak itu, dia milik kami." Orang itu langsung memutuskan sambungan telepon itu.
"Siapa dia, apa yang dia maksud," ucap Ryan.
"Anak itu siapa, apa Aura."
Ryan mencoba untuk menghubungi kembali tetapi tidak bisa, ia juga mencoba untuk melacak nomor itu tetapi juga tidak bisa, nomor tidak tida memiliki jangkauan. Ada dua hal yang Ryan pikiran pertama orang yang menghubungi nya dari luar negeri sehingga tidak bisa ia lacak atau orang itu sangat berpengaruh.
"Kenapa sayang," tanya Fina.
"Tidak papa sayang, kamu jangan khawatir," ucap Ryan.
Ryan belum ingin mengatakan semua nya pada Fina. Ia akan mengatakan hal ini dengan Austin terlebih dahulu, mengingat Austin orang yang akan mengadopsi Aura. Jika ada apa apa Austin lah yang harus lebih tau dari pada diri nya.
Fina tau ada yang tidak beres, tetapi ia enggan bertanya lebih dalam karena ini pasti masalah penting, jika Ryan belum ingin bercerita ia tidak akan pernah memaksakan diri.
Pukul 9 malam sudah waktunya untuk Adam dan Aura tidur, ke dua nya tidur di kamar yang berbeda. Austin tidak ingin membiasakan ke dua nya tidur bersama karena tidak baik untuk masa depan ke dua nya. Mereka berdua jika dewasa bisa melakukan hal yang tidak tidak. Austin tidak ingin hal itu terjadi.
Pukul 11 malam pertemuan berakhir, sudah waktunya untuk mereka pulang ke rumah.
"Sayang," ucap Fanny.
"Iya, ayo sudah waktunya untuk pulang," kata Austin.
"Aku ingin makan bakso," ucap Fanny.
"Makan bakso?"
"Iya sayang, tadi aku hanya memikirkan bakso saja, yang besar terus di dalam nya ada sambal yang banyak dan bakso kecil kecil, ah seperti nya itu sangat enak sekali."
"Sayang ada kah yang jualan bakso malam malam begini," tanya Austin.
"Ada dong, dekat kampus ku ada sayang, kita ke sana saja ya," jawab Fanny.
"Ya sudah lah ayo.."
Dari pada ia yang ribet mencari bakso yang Fanny inginkan. Austin memutuskan untuk mengikuti saja apa yang Fanny katakan, toh jarak kampus Fanny dari tempat mereka berada tidak sampai satu jam, pasti bisa di tempuh dengan mobil.
"Sayang cepat napa," ucap Fanny.
"Sampai jam berapa dia buka sayang," tanya Austin.
"Aku rasa si sampai jam 2 an, soal nya dulu aku pernah makan sampai jam segitu di tempat itu," jawab Fanny.
"Kamu jam 2 ngapain, kamu pacaran ya? siapa mantan mu, berani beraninya mendekati istri ku.."
Fanny mengerutkan dahi nya.
"Ha pacaran dari mana, aku mana pernah pacaran. Kalau iya kan dia mantan ku, aku juga belum bertemu dengan kamu, dasar aneh," kata Fanny.
"Terus kamu ngapain di sana sayang, kan aku tanya," ucap Austin.
"Aku pulang dari kampus sayang, waktu itu masa orentasi mahasiswa baru jadi kami pulang malam. Ya karena lapar aku makan di sana, rasa bakso di sana sangat enak," kata Fanny.
Semenjak dengan Fanny Austin malah sering makan di pinggir jalan, ya walaupun ujung ujungnya diare, bukan karena makanan yang ia beli tidak bersih, Austin tidak ingin berburuk sangka. Tetapi memang anti imun nya sangat sensitif akan hal itu Makannya ia lebih suka makan masakan rumah dari pada beli di jalan ataupun restoran.
"Sayang kecelakaan tu," ucap Fanny.
"Jangan lihat, nanti kita tidak selera makan, pantas saja macet," kata Austin.
"Aku tidak mungkin melihat nya."
Setelah hampir sejam terjebak mecat, akhirnya mereka keluar juga dari kemacetan parah ini. Yang harus nya sampai sejak pukul 12 tadi, mereka belum sampai sampai sekarang. Perkiraan mereka akan sampai pukul 1 dini hari.
Sesampainya di sana mereka berdua langsung masuk ke dalam warung itu, seperti yang mereka berdua pikirkan tadi mereka berdua sampai pukul 1 dini hari dan untung saja warung masih buka walaupun tidak ada yang membeli.
"Fanny.."
"Halo ibu, apa kabar," tanya Fanny.
"Sangat baik Fanny, kamu sudah menikah ya, selamat ya.."
"Iya ibu, terimakasih.. Maaf tidak mengundang Oh iya buk, kenapa sepi sekali," tanya Fanny.
"Ya nama nya warung kalau malam pasti sepi, ya kadang juga ramai kalau ada kegiatan kampus sampai malam. Sudah resiko lah. Kamu mau makan??"
"Iya dong buk, sebelum nya perkenalkan suami saya Austin.."
"Wah tampan sekali ya, sangat cocok dengan mu.."
"Salam kenal ibu," ucap Austin.
"Salam kenal..."
"Bakso raksasa satu ya buk, teh es dua, dan jus jeruk juga satu," ucap Fanny.
"Oke.. Tunggu ya Fanny.."
"Sayang kamu hanya pesan satu saja," tanya Austin.
"Kamu tidak dengar saya, aku pesan yang raksasa, ya satu saja sudah cukup untuk kita," jawab Fanny.
"Sampai pagi tu ada tulisan nya, buka sampai jam 7 pagi. Dan tutup nya dari jam 7 sampai jam 3 sore, warung kebalik, tutup dan buka nya malah ketukar," kata Austin.
"Hahaha nama nya juga mencari rezeki sayang, setiap orang berbeda cara nya, mungkin dengan buka jam segitu warung ibu itu ramai, kita kan tidak pernah tau rezeki seseorang.."
"Fanny..."
4 orang wanita dan dua orang pria mendekati mereka berdua. Mereka adalah teman jauh Fanny, kenapa jauh karena tidak dekat. Fanny dan mereka juga malah sering berkonflik dari pada berteman.
"Iya.. Kalian apa kabar," tanya Fanny yang berusaha rama..
"Ih dengan om om, malam malam begini."
"Hahaha kau seperti tidak tau dia saja si, jangan kan om om satpam sekolah pun mau."
"Sttt jangan membuat om om nya marah."
__ADS_1
Austin menatap tajam ke arah mereka semua, sudah pasti ia tidak suka istri nya di katai seperti itu. Sambil membuang nafas nya dengan kasar Austin mengplak meja dengan sangat kuat.
Duak.....
"Siapa yang ingin mati terlebih dahulu!!!!"
"Kalian tidak tau siapa saya, atau kalian pura pura tidak tau. AUSTIN RAYMOND COLE..."
"Mampus kalian salah orang," ucap pria yang mengenal Austin.
"Tu.. tuan Austin.."
"Sayang sudah.. Jangan membuat keributan malam malam begini," ucap Fanny.
"Dia menghina istri ku, aku tidak akan rela istri ku di hina dengan orang yang jauh lebih Hina. Jangan salahkan aku jika keluarga kalian menanggung semua hal yang kalian lakukan sekarang!!"
"Sayang sudah, aku tidak mau masalah nya kemana mana. Dia suami ku, bukan om om yang kalian katakan, minta maaf pada nya, kalian tidak ingin semua masalah semakin melebar kan, jangan sampai kalian tidak bisa kuliah lagi.."
"Maaf tuan, maafkan kami maaf.."
"Kalian pikir dengan kata maaf sakit hati nya istri ku dan diri ku bisa hilang!!!"
"Kami akan melakukan apa saja, asalkan tidak sampai membawa masalah ini ke arah yang lebih serius.."
Fanny membisikkan sesuatu pada Austin. Fanny memiliki ide agar Austin bisa melepaskan mereka semua, ide itu juga sangat membantu orang lain
"Oke aku akan memaafkan kalian, tetapi aku ingin kalian semua menjual semua makanan dan minuman yang tersisa di warung ini sampai warung ini tutup.. Jangan kalian pikir saat aku pergi kalian bisa lari, aku akan meminta orang ku untuk mengawasi kalian semua.."
"Ba.. baik tuann."
"Selagi aku makan, jangan tampa kan wajah kalian di mata ku, bersihkan mobil ku menggunakan tisu ini. Sebelum itu berikan handphone kalian, jangan sampai ada yang lecet, harga mobil ku jauh lebih mahal dari pada harga diri kalian semua.."
Mau tidak mau mereka harus melakukan apa yang Austin katakan. Memang sangat tidak masuk akal, tetapi dari pada orang tua mereka jadi korban dan masalah kuliah mereka lebih baik mereka melakukan hal gila ini.
"Hahaha sayang kamu sangat galak sekali ya, tapi aku suka si dengan ke galak kan kamu," kata Fanny.
"Dia mau main main dengan istri ku, ada ada saja istri seorang Austin di hina seperti itu. Tapi aku heran juga kenapa mereka mengatakan aku om om. Aku tampan begini kok di katakan om om," ucap Austin.
"Ya juga ya, aku juga heran, mungkin karena pakaian kamu pakai pakaian kantor jadi di kira om om, tapi aku tidak papa si di kira dengan om om, orang om om nya juga tampan begini."
"Sayang sayang kamu bisa saja," kata Austin.
Tak lama bakso yang mereka berdua pesan datang. Austin terkejut melihat bakso yang begitu besar nya, pasti rasa nya sangat enak dan pedas, terlihat dari cabai yang begitu banyak. Austin sendiri tidak ada masalah dengan urusan lambung tetapi kalau makan seperti ini pasti lambung nya sakit.
"Sayang aku rasa aku tidak bisa makan," kata Austin.
"Kenapa? ini enak kok, memang kelihatan pedas tetapi tidak sepedas omongan mereka tadi kok, santai saja lah, jangan takut.."
Fanny memotong kan bakso itu untuk Austin. Ia sudah tidak sabar dengan rasa bakso yang sangat ia rindukan rasa nya ini, hampir sudah beberapa bulan Fanny tidak memakan bakso ini.
"Hmmm rasa nya sangat enak sayang. Kamu coba ini sudah aku potong kan," kata Fanny.
"Hahaha aku sangat takut sayang, kalau pedas bagaimana," kata Austin.
"Gak sayang enak kali sumpah." Fanny berusaha menyakinkan suaminya.
Austin mulai mencoba nya memang rasa nya sangat enak, cukup pedas tetapi bisa ia makan.
"Tidak buruk si, masih bisa aku tahan rasa pedas nya, oh iya sayang kita bungkus untuk anak anak yuk, besok mereka bisa makan, yang tidak pedas saja.."
"Sudah aku katakan enak kan, iya nanti aku pesan kan, sekalian untuk Fina dan Ryan. Sekarang kita habiskan saja dulu ini."
Fanny dan Austin memakan bakso itu dengan sangat lahap. Walaupun keringat sudah membasahi tubuh mereka berdua, mereka masih tidak menyerah. Semakin lama semakin membuat ketagihan.
"Sayang memang rasa nya sangat enak, kamu tidak berbohong.."
"Hahaha sudah aku katakan, nah kan sudah ma habis. Tidak berasa memang kalau makan begini," kata Fanny.
Setelah selesai makan. Fanny membayar semuanya. Ia juga membayar untuk mereka berlima yang mendapatkan hukuman dari Austin. Fanny rada membersihkan mobil Austin dengan tisu sudah sangat cukup. Tidak perlu sampai menjual semua nya sampai pagi. Mereka semua juga memiliki orang tua yang akan khawatir jika anak mereka tidak pulang ke rumah.
"Sayang sudah ayo, jangan teruskan hukuman mereka, sudah cukup nanti kalau berlebihan malam membuat mereka dendam lagi pada ku," kata Fanny.
"Istri ku sangat baik dan pengertian.."
Mereka berdua keluar dari warung itu. Austin langsung menghampiri mereka semua yang terdiam melihat Austin dan Fanny. Kalau seperti ini wajah Austin memang sangat menyeramkan.
"Sayang..."
"Iya iya, kalian semua sudah bebas. Jangan mengulangi hal yang sama pada istri ku ataupun pada orang lain. Ingat kalian ini mahasiswa, jangan mempermalukan kampus kalian semua. Satu lagi kalian harus menjauh jika bertemu dengan istri ku.."
"Baik tuan.."
"Masuk dan makan sana, semua nya sudah di bayar," kata Austin.
"Selamat menikmati.." Fanny masuk ke dalam mobil. Ia sangat bersyukur memiliki suami seperti Austin. Benar-benar sangat tegas dan di takuti banyak orang. Kalau tidak karena Austin mungkin ia masih di hina oleh mereka semuanya.
"Sayang kamu tidak dendam dengan mereka," tanya Austin.
"Tidak lah, untuk apa aku dendam, dendam tidak menyelesaikan semuanya," jawab Fanny.
"Wah wah kamu sangat berbesar hati, ya sudah aku tidak akan mempermasalahkan lagi, sekarang ayo kita pulang sudah mau pagi," kata Austin.
Mereka berdua sampai rumah pukul setengah tiga dini hari, sudah sangat pagi dan ke dua nya sudah sangat lelah, seperti nya Austin akan menunda masuk kantor besok arena ia yakin besok ia pasti aan bangun terlambat.
"Ryan kau belum tidur," tanya Austin.
"Sudah tadi dari jam 10 sampai jam 2, ini baru bangun lagi, aku pikir kau sudah pulan ternyata belum pulang. Kenapa sampai pagi begini," tanya Ryan.
"Ada hal lain, sayang kamu tidur dulu saja, ada yang ingin aku bicarakan dengan Ryan"
"Kebetulan juga ada yang ingn aku bicarakan dengan mu,'' kata Ryan.
"Iya, aku tidur dulu, jangan lupa basko nya masukan kulkas," ucap Fanny sambil pergi meninggalkan mereka berdua.
"KIta bicara di dapur saja lah, aku ingin minum," kata Austin.
"Aku mau lah tu bakso, kau membeli bakso tidak bagi bagi.''
"Ya ini makan lah," ucap Austin.
"Nanti saja, aku ingin membicarakan masalah anak mu Aura. Aku rasa Aura memiliki ikatan dengan seseorang yang penting.."
"Ha.. Bagaimana bisa kau bisa menduga hal itu," tanya Austin.
"Ya bisa lah, kenapa tidak bisa. Aku mengatakan hal seperti itu karena aku sudah mendapatkan teror, mana nomor nya tidak bisa aku lacak lagi," kata Ryan.
"Ha.. Ini sangat aneh, tetapi kalau memang Aura itu memiliki ikatan dengan seseorang yang penting siapa orang itu, pasti dia sangat berpengaruh sehingga kau tidak bisa melacak nya."
"Sebenarnya aku memiliki kecurigaan khusus pada seseorang tetapi aku malas mengatakan nya, aku belum bisa mengatakan nya jika aku belum benar-benar yakin, aku membahas masalah ini karena aku rasa kau bisa meminta orang tua mu untuk membantu mu. Hal pertama yang harus kita lakukan sekarang yaitu kita harus tau dari mama Aura berasal," kata Ryan.
Austin tidak heran jika Ryan tidak mengatakan siapa orang yang Ryan curiga, memang kalau Ryan belum yakin dia tidak akan mengatakan nya. Austin sudah sangat hafal betul dengan Ryan.
"Aku akan menyelesaikan semuanya dengan baik. Untuk sementara waktu perusahaan aku serahkan pada mu ya, kann juga sudah tidak terlalu ada kerjaan jadi kau bisa menghandel semua nya dengan baik."
"Iya kau selesai kan saja lah semuanya, aku akan membantu mu.." Ryan juga tidak mungkin membiarkan Austin begitu saja, tanggung jawab nya untuk menjaga Austin masih tetap ada.
"Ya sudah aku sudah sangat mengantuk, kau bisa makan bakso itu. Besok aku akan bangun terlambat, Adam juga tidak usah sekolah, toh besok juga hari terakhir sebelum wekeend."
"Hahaha kau tidak meminta jatah biasa nya Malam malam begini pasti minta nya jatah," kata Ryan.
"Tidak ah, aku lelah dan Fanny juga sudah sangat lelah, lebih baik kami beristirahat," ucap Austin..
Austin pergi meninggalkan Ryan sendiri, ia sangat sudah sangat lelah sekali, ia sangat memerlukan istirahat untuk saat ini. Ryan maklum dengan Austin, apalagi ini sudah mau pagi dan mereka asik membahas masalah saja.
Pukul 11 siang baru Austin dan Fanny bangun. Itu pun karena di bangunin oleh Adam yang kesal karena ayahnya pulang begitu lama kemarin. Ia benar-benar sangat marah pada Austin, tetapi untung saja Austin bisa membujuk Adam dengan memberikan nya bakso. Memang saat ini Bakso menyatukan keluarga mereka.
"Sayang..."
"Iya sebentar," ucap Fanny sambil membawa semangkok bakso untuk Adam.
"Dimana kakak mu," tanya Austin.
__ADS_1
"Sedang main dengan Paman Ryan, ayah lama sekali si kemarin, aku kan menunggu makanan dari ayah.."
"Kau ya makanan terus, ayah kan bekerja sayang. Ini ayah sudah membawa makanan untuk mu, jadi jangan marah marah terus ya. Makan dengan lahap rasa nya sangat enak kok," kata Austin.