
"Austin.."
"Ryan aku harap kau bisa mengerti semua nya, ini soal nyawa. Kalau kata dokter dengan operasi nyawa Fina lebih terjamin kenapa tidak."
"Kau tidak tau apa yang aku rasakan, jangan ikut campur Austin, ini urusan pribadi ku," kata Ryan.
Austin tidak bisa ikut campur lebih dalam lagi karena Ryan suami Fina, semua nya sudah di atur oleh Ryan. Hak nya hanya sebatas mengingat kan saja.
"Sayang sudah..." Fanny memeluk Austin agar Austin lebih tenang lagi. Ia tau Ryan sedang tertekan yang membuat nya seperti ini.
Ryan mengambil dua pengobatan selain operasi, ia sangat ingin istri nya sembuh dan tetap bisa memberikan nya anak. Mereka semua kembali ke ruangan Fina yang sudah bisa di jenguk.
"Semua nya akan baik baik saja sayang," ucap Ryan.
Fina hanya menggelengkan kepala nya, ia tidak yakin semua nya akan baik baik saja. Semua tak baik baik saja, tidak ada yang baik baik saja saat ini.
"Kamu kuat Fina, kami ada di sini untuk mu," ucap Fanny.
Beberapa hari telah berlalu, bukan nya membaik kondisi Fina semakin menurun saja. Hal utama yang membuat Fina seperti itu karena beban pikiran nya, ia sangat takut membuat suami nya kecewa dan tidak berguna sebagai seorang istri.
Ryan juga malah semakin tidak bisa mengendalikan emosinya, Austin dan Fanny lah yang membakup ke dua nya agar tidak semakin kacau saja. Sesekali Amel dan keluarga yang lainnya juga datang untuk menjenguk Fina.
__ADS_1
"Ryan, aku dengar sudah lebih buruk dari sebelumnya, kau masih mempertahankan ego my," tanya Austin.
"Aku.. Aku tidak tau Austin aku tidak tau. Bukan hanya aku, istri ku juga tidak ingin melakukan operasi, dia tetap ingin mempertahankan rahimnya.. Aku sangat bingung Austin, aku sangat bingung.."
Austin memeluk Ryan dan menepuk nepuk punggung nya, memeng membuat keputusan seperti ini tidak lah muda, banyak hal yang harus di pikirkan sebelum membuat keputusan besar ini.
"Amel," ucap Fina.
"Iya Fin, ada yang bisa aku bantu," tanya Amel.
"Menikah dengan Ryan..."
"Fina kamu apa apaan si, jangan memikirkan hal yang tidak tidak," kata Amel, ia berusaha untuk tenang.
"Fina." Fanny berjalan mendekati Fina, ia yakin Fina sedang overthinking saja saat ini.
"Aku mohon, aku mohon Amel.. Aku mohon bantu aku, bantu meringankan beban di pundak ku.." Fina tidak bisa menahan tangis nya.
"Amel...." Fanny mengusap punggung Amel, ia memberikan kode agar amel jangan sampai membuat Fina semakin drop.
"Fanny aku.. akun tidak bisa," ucap Amel.
__ADS_1
"Aku mohon Amel, aku mohon. Sudah sangat lama Ryan ingin mempunyai anak, aku tidak yakin bisa memberikan nya anak, pikiran ku benar-benar sedang kacau Amel, aku terus memikirkan nya.."
Amel sedang berada di pilihan yang sangat sulit, bagaimana bisa diri nya menikah dengan seseorang yang tidak ia cintai, malahan musuh nya sendiri.
"Sayang, kamu menangis lagi." Ryan berlari mendekati Fina, wajah Fina sangat pucat sekali, baru beberapa hari terkonfirmasi kanker ia sudah seperti ini, sebenarnya kalau Fina bisa lebih tenang dan tidak memikirkan hal yang tida tidak kemungkinan besar Fina bisa lebih kuat menghadapi kanker ini, tubuh nya tidak akan drop seperti saat ini.
"Menikah dengan Amel sayang," ucap Fina.
"Sayang kamu apa apaan si, menikah lagi bukan solusi.."
"Memang bukan solusi sayang, tetapi itu bisa membuat beban ku sedikit berkurang, aku bisa fokus untuk penyembuhan penyakit ku tanpa harus memikirkan mu," kata Fina.
"Ryan, berkata dengan perlahan, jangan membuat nya semakin drop.."
"Tidak aku tak mau, aku ingin berjuang bersama dengan mu.."
"Tidak sayang jangan bodoh, berhenti bersikap seperti itu.. Kamu semakin membuat ku merasa tidak berguna."
Alat yang terpasang di tubuh Fina berbunyi lebih cepat, Fina hampir kehilangan kesadaran nya. Hal itu membuat Ryan tidak bisa berkata apa apa lagi..
"Yah aku akan menikah dengan Amel, jangan seperti ini.." Ryan memeluk Fina dengan erat, meskipun begini cinta nya pada Fina tidak berkurang, malahan semakin cinta saja.
__ADS_1