
Sesampainya di hotel ke dua nya langsung beristirahat, hari ini memang sangat melelahkan, Ryan saja sampai malas untuk membersihkan dirinya. Otak nya juga masih ke arah istri nya di rumah sakit.
"Ryan kau tidak mandi, sana mandi kau bauk sekali," kata Amel.
"Hey aku suami mu ya, bicara lah yang sopan pada suami mu."
"Kalau ada Fina saja aku akan memanggil mu mas, kalau tidak ada ya biasa saja lah. Toh kita menikah bukan keinginan kita. Aku rasa lebih baik di bawa santai saja dari pada membuat kita semakin pusing."
"Ya kau benar, aku rasa memang seharusnya begitu, Fina sudah cukup membuat ku pusing, jangan sampai kau malah menambah beban pusing ku," kata Ryan.
"Hahaha tu kau tau, ya sudah mandi sana," ucap Amel.
"Ah untuk apa mandi, kan nanti ahem.."
Mata Amal terbelalak mendengar hal itu, ia tau betul apa yang Ryan maksud.
"Kenapa," tanya Ryan.
"Sekarang," tanya Amel.
__ADS_1
"Tidak tau, aku tidak memiliki nafsu," jawab Ryan dengan santainya, ia mengatakan apa yang ia rasakan sekarang, memang ia tidak memiliki hal itu. Mungkin beda cerita kalau Amel menggodanya.
"Bagus lah.. Aku masih gadis malam ini," kata Amel dengan tenang.
"Hahaha tidak semudah itu Ferguson, kan aku bilang saat ini, tidak tau nanti malam atau setelah ini. Kau siap siap saja Amel, persiapkan diri mu dengan baik." Ryan berjalan masuk ke kamar mandi dengan senyuman memiliki seribu arti.
"Aik dia seperti itu, kalau saja dia pria yang aku cintai pasti aku akan dengan senang hati melakukan nya, tetapi dari saja musuh ku sejak dulu, bagaimana bisa aku melakukan hal dengan Pria seperti itu," batin Amel.
Di rumah Fanny sedang bermain dengan anak anak nya, walaupun belum memiliki anak kandung Adam dan Aura sudah membuat Fanny sangat bahagia, apalagi Adam yang memiliki tingkah yang sangat menggemaskan sama seperti ayahnya.
"Mamah dimana adik ku," tanya Adam.
Adam mendekati perut Fanny. Tangan Adam di arah kan Fanny memegang perut nya, hal itu membuat Adam tersenyum senang.
"Ada adik," ucap Adam.
"Iya sayang, kamu tunggu mungkin satu atau xia bulan lagi kamu sudah bisa merasakan getaran nya," kata Fanny.
"Nanti nama adik Adam Jansen," ucap nya.
__ADS_1
"Ha!! kenapa harus Jansen."
"Tida tau," jawab Adam, ia hanya asal saja berbicara.
"Iya nanti kalau adik mu laki laki kita berikan nama Jansen ya."
Fanny terserah saja, mau apapun nama anaknya nanti yang terpenting anak nya sehat seperti Adam dah Aura.
Kembali pada Ryan dan Amel. Ryan keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk sebatas pinggang, ia belum mendapatkan pakaian yang masih berada di dalam koper.
"Amel pakaian ku," ucap Ryan.
"Eh iya maaf maaf." Tanpa melihat ke arah Ryan Amel langsung mengambil pakaian Ryan yang berada di dalam koper
"Ini.." Amel memberikan pakaian milik Ryan.
Mata Amel langsung tertuju pada tubuh Ryan, ia benar-benar terpana dengan keseksian suami nya. Kalau tidak karena Ryan punya istri selain diri nya dan Ryan orang yang ia cintai, dapat di pastikan Amel langsung mengambil posisi saja untuk memberikan jatah terbaik untuk Ryan.
Sayangnya semua itu hanya harapan nya saja, kenyataan nya ia yang ke dua untuk Ryan dan ia tida mencintai Ryan.
__ADS_1