Gairah Duda Tampan (Hot Daddy)

Gairah Duda Tampan (Hot Daddy)
Amel menyerahkan diri.


__ADS_3

Keesokan harinya, Ryan dan Amel datang ke rumah sakit. Mereka berdua berharap bisa bertemu dengan Fina, tetapi nyata nya tidak bisa bertemu langsung. Ryan dan Amel hanya bisa melihat Fina dari kaca yang tersedia.


"Ryan kamu tidak ingin mengambil keputusan lain? operasi," tanya Amel.


"Sekarang aku serahkan semuanya pada dokter yang menangi Fina, mau operasi atau apapun itu asalkan Fina sembuh aku ikhlas."


Ryan benar benar tampak menyedihkan.


Ryan menemui dokter yang menangani Fina, ia ingin menanyakan hal terbaik yang bisa mereka lakukan untuk Fina.


"Nanti setelah kondisi nya lebih baik kami akan melakukan operasi pengangkatan rahim, istri Anda tidak bisa mengandung anak anda lagi jika operasi itu di lakukan."


Ryan memejamkan mata nya sambil membuang nafas nya dengan kasar.


"Lakukan dok, lakukan apa yang bisa membuat istri ku selamat," kata Ryan.


Setelah menemui dokter Ryan kembali melihat Fina sebelum ia kembali pulang ke rumah Austin, sampai sekarang Ryan belum berani pulang ke rumah orang tua nya karena takut orang tua nya semakin khawatir, mengkhawatirkan Fina dan juga diri nya.


Di rumah Austin tidak tega melihat Ryan yang begitu menyedihkan, ia sudah mendapatkan kabar jika Fina memburuk tetapi belum mengetahui jika Fina harus operasi.


"Bagaimana," tanya Austin.


"Tidak lebih baik dari sebelumnya," jawab Ryan.


"Ada tindakan lain Ryan? atau kita bawa saja lah ke luar negeri."


"Percuma Sean, percuma aku malah takut kondisi nya semakin memburuk, sekarang aku sudah pasrah pada dokter, apa yang dokter lakukan aku setuju saja. Kemungkinan beda setelah kondisi nya lebih baik dia akan operasi," kata Ryan.


"Jangan putus asa Ryan, mungkin memang kau tidak bisa mempunyai anak dari nya, tetapi yang terpenting kau masih bisa dengan nya. Untuk anak ada Amel, yang terpenting kau memiliki anak yang bisa meneruskan mu," ucap Austin.


"Ntalah Austin, aku tidak ingin memikirkan apa apa lagi, aku sangat lelah.."


"Mana Amel," tanya Austin.

__ADS_1


"Adik mu di luar, nanti juga masuk," jawab Ryan.


"Gas lah, kau sudah menikah kan dengan nya, secara negara lagi, dari pada kau pusing lebih baik tuntas kan."


"Adik ku tidak bisa bangun, bagaimana bisa bangun aku saja tidak bisa memikirkan apa apa selain Fina."


"Jalan jalan dulu sana ke kolam renang ajak dia Berenang di samping, kau tau kalau kau semakin memikirkan nya tidak akan baik untuk mu, lebih baik kau tenang dan jalan kan semua nya dengan sangat tenang. Jika kau bisa menenangkan diri mu, aku yakin diri mu pasti akan lebih baik lagi," kata Austin.


"Kau benar, minta dia untuk menemui ku di kolam renang."


Ryan berjalan menuju kolam renang, mungkin dengan berendam di kolam renang diri nya akan jauh lebih tenang lagi. Memang saat ini ia memerlukan ketenangan.


"Dimana suami ku kak," tanya Amel.


"Amel kau bagaimana si.. Suami mu itu memerlukan mu, jangan seperti ini dong. Buat diri nya tenang agar dia bisa berpikir lebih baik lagi," kata Austin.


"Apa yang harus aku lakukan," tanya Amel.


"Sana ke kolam renang, buat suami mu tergoda dengan mu, dia memerlukan tempat untuk membuang hal yang membuat nya pusing, aku yakin dengan itu diri nya lebih baik lagi," jawab Austin.


Amel membuang nafas nya secara perlahan, ia mulai membuka pakaian nya sampai tersisa pakaian dalam saja. Apa yang harus ia tahan lagi, Ryan suaminya sudah menjadi kewajiban nya untuk melayani Ryan. Amel ingin meringankan beban yang Ryan tanggung.


Amel berbaring di samping Ryan sambil memeluk Ryan, hal itu membuat Ryan cukup terkejut karena ia tidak tau Amel sudah datang di dekat nya.


Mata Ryan tertuju pada body Amel, tubuh yang seksi dengan dada yang cukup besar, pinggul Amel juga terbilang sangat seksi.


Ryan membalas pelukan itu, sudah cukup untuk menyiksa diri nya, ia sadar dalam seminggu belakangan ini hidup nya sangat kacau, tubuh nya juga mulai menyusut karena pola hidup yang hancur, jika diri nya saja tidak bisa menata hidup nya dengan benar, bagaimana ia bisa menjadi temeng yang kuat untuk istri istri nya, terutama Fina sendiri.


Cantik, kamu sangat cantik." Ryan merangkak naik ke atas tubuh Amel, ia membuat Amel berada du bawa kakungan nya.


Amel sebenarnya belum siap tetapi ya mau bagaimana lagi, sekarang tidak ada kata siap belum siap.


Ryan mendekati bibir Amel dan mulai mencium nya dengan lembut, ini bukan kali pertama nya mereka berdua berciuman dengan lawan jenis, hal itu membuat mereka berdua tidak mengalami kesulitan apapun, ke dua nya tidak pernah menyangka akan hal ini, mereka berdua tidak pernah akur sebelum nya kenapa bisa merasakan berdua malah berjodoh, memang garis takdir tidak ada yang tau.

__ADS_1


Tangan Ryan tidak diam begitu saja, ia mulai bergerak dengan bebas nya. Apa yang ia tunggu lagi selain menyantap makanan enak di hadapan nya ini.


"Ryan.. Ryan jangan di sini," ucap Amel.


"Why.."


"Ini di tempat umum, aku tidak mau ya."


Ryan merangkak turun dan menggendong tubuh Amel, ia tidak membawa Amel naik ke atas tetapi melemparkan Amel ke kolam renang, Amel tidak tidak bisa berenang sangat panik, tetapi Ryan membantunya yang membuat nya tidak tenggelam.


"Aku tidak bisa berenang Ryan."


"Hahahaa maafkan aku, tetapi kau mempunyai dua pelampung, kenapa takut tenggelam," tanya Ryan.


"Ah ini tidak bisa menjadi pelampung, dia tidak memiliki rongga udara Ryan."


"Amel kau yakin memberikan nya pada ku," tanya Ryan.


"Hmmm aku tidak memiliki pilihan lain, ya aku yakin saja, sampai kapan aku harus bertahan," jawab Amel.


"Bagus, kau tau bagaimana cara nya menjadi istri yang baik, kita pindah ke kamar?"


"Tapi tapi aku takut, kamu punya besar tidak??"


"Hahaha besar dong, dengan punya kakak mu ya 11 12, bakal enak kok," ucap Ryan.


Ryan tidak ingin menghabiskan waktu lama lama di rumah ini, ia harus pergi lagi ke rumah sakit walaupun ia tidak bisa masuk ke melihat Fina langsung, melihat Fina dari kejauhan saja sudah cukup untuk nya, asalkan ia bisa melihat Fina.


"Aku takut, sakit ya.."


"Pasti lah, tapi sesaat saja, kau yakin tidak? aku tidak ingin memaksa mu," kata Ryan.


"Yakin tapi ya aku cukup takut," ucap Amel.

__ADS_1


Ryan tidak heran Amel takut, pada awalnya Fina juga takut tetapi sudah ketagihan, mungkin Amel juga akan seperti itu. Amel juga istri nya, memberikan nyaman juga tugas nya.


__ADS_2