
"Sayang..." Fanny benar-benar malu dengan diri nya sendiri.
"Apa si sayang, untuk apa kamu malu dengan ku, aku kan suami kamu," ucap Austin.
"Hahaha iya sayang iya, kamu memang suami aku tapi..."
"Tapi apa si, aku tidak mengerti deh dengan jalan pikir kamu, mau kamu gemuk, Kurus, melar atau apapun itu aku tidak peduli sayang, cinta ku hanya untuk mu, satu satunya untuk mu," kata Austin.
Fanny tersenyum mendengar ucapan Austin, ia tidak pernah secinta ini pada seseorang. Begitu juga dengan Austin, ia tidak pernah merasakan cinta yang teramat dalam pada seseorang wanita. Fanny lah wanita yang paling ia cintai, mau bagaimana pun bentuk Fanny nanti ia tetap akan mencintai Fanny sampai kapan pun.
Drrrtttt drrtt.. Handphone Austin berdering di kantong celana nya.
"Angkat mas," ucap Fanny.
"Apa dia tidak tak tau kalau aku ingin meminta jatah," kata Austin.
"Halo kak, aku sudah sampai dimana kalian," tanya Amel.
"Oh kau, iya aku akan menjemput mu." Austin mematikan sambungan telepon itu.
"Kamu mau menjemput Amel," tanya Fanny.
"Tidak ah, Ryan yang akan menjemput nya, kalau aku katakan Ryan yang akan menjemput nya dia akan marah," jawab Austin.
__ADS_1
Fanny hanya menggelengkan kepala nya, kalau sudah jatah siapapun tidak akan bisa menganggu Austin.
"Hmmm ada apa," tanya Ryan.
"Jemput adik ku di bandara aku sedang sibuk," jawab Austin.
"Ah kau benar benar ya, aku juga baru istirahat."
"Jangan banyak mengeluh kau tidak tau mau aku potong gaji mu kan," ancam Austin.
"Aku pergi sekarang.." Ryan terpaksa melakukan apa yang Austin katakan.
"Sayang kamu mau ikut tidak," tanya Ryan.
"Mau kemana," tanya Fina.
"Kamu saja ya, aku malas bergerak ni," kata Fina.
"Ya sudah aku berangkat sekarang sayang.." Ryan pergi meninggalkan kamar untuk menjemput Amel di bandara.
Amel duduk di kursi bandara sambil memainkan handphone nya, ia sedang menunggu kedatangannya kakak nya. Amel tidak tau jika Austin ke Korea Nagara yang ia impikan, ia pikir Austin hanya pergi ke beberapa negara yang tidak ia minati.
Sesampainya di bandara Ryan mencari keberadaan Amel. Ia melihat ke sembarang arah seperti tidak niat mencari keberadaan Amel. Ya memang diri nya tidak niat sama sekali.
__ADS_1
"Amel," ucap Ryan.
"Ha kau pulak," kata Amel.
"Kenapa kau tidak suka aku yang datang, kau jangan terlalu membenci ku nanti kau jadi suka pada ku."
"Jangan ngarep, dimana kakak ku," tanya Amel.
"Dia sedang sibuk dengan istri nya, ayo ikut jangan menyusahkan ku."
"Bantu napa, kau pria tetapi tidak mau membawakan koper ku," kata Amel.
"Dasar manja.." Ryan mengambil koper Amel dan pergi meninggalkan Amel begitu saja. Memang membuat mereka berdua bertemu salah satu rencana Austin, agar kedua nya tidak selalu bertengkar seperti kucing dan tikus.
Di hotel Austin sudah siap untuk menggapai surga dunia kembali. Ya walaupun iya sudah melihat bentuk tubuh istri nya yang berlebihan tetapi ia malah tidak sabar merasakan perbedaan nya.
"Di atas sayang," ucap Austin.
"Tidak tidak, kita di sofa sedikit sulit," kata Fanny.
Austin hanya tersenyum kalau Fanny tidak bisa di atas diri nya yang akan di atas.
Fanny memejamkan mata nya saat merasakan benda keras dan gagah masuk ke dalam sana, karena sudah satu minggu tidak di sentuh rasa nya cukup berbeda dari biasa nya.
__ADS_1
"Sayang hmmm aku rasa aku harus lebih sering ni, kamu sangat sulit di tembus," ucap Austin.
Fanny terkadang insecure sendiri melihat tubuh kekar dan perfek suaminya, Austin benar-benar tidak mengalami perubahan selama mereka berdua menikah. Bahkan malah semakin kekar saja, berbeda dengan dirinya yang semakin melar saja.