Gairah Duda Tampan (Hot Daddy)

Gairah Duda Tampan (Hot Daddy)
Musibah lagi


__ADS_3

Malam hari nya, Austin dan Fanny akan kembali ke rumah, mereka berdua sudah siap menabur kan benih yang akan menjadi adik Adam. Fanny sudah sangat siap memberikan Adam adik.


"Sayang langsung pulang atau mampir ke mana gitu," tanya Austin.


"Ke rumah, aku lagi malas kemana mana, langsung pulang ke rumah saja," jawab Fanny.


"Oke sayang..." Austin membuka pintu mobil agar Fanny dapat masuk ke dalam mobil.


Tiba-tiba terdengar suara tembakan yang cukup kuat. Dengan cepat Austin langsung mendorong Fanny masuk ke dalam mobil.


Dor... dor... dor... Tembakan itu melesat ke arah Austin dah Fanny.


Meskipun Fanny sudah berada di dalam mobil mereka masih bisa mendapatkan celah untuk melukai Fanny.


"Ahkkkk." Satu peluru menembus perut kanan Austin dan sampai mengenai Fanny.


Kejadian itu terjadi dengan sangat cepat. Austin dan Fanny sudah langsung di tolong oleh orang orang di sekitar sana, mereka berdua di bawa ke rumah sakit dengan keadaan tidak sadarkan diri.


Keluarga Austin yang mendapatkan kabar ini benar-benar murka, ayah Austin tidak terima anak laki-laki nya mendapatkan perlakuan seperti itu. Ia langsung mengerahkan semua pasukan nya untuk membabat habis mereka semua, ini sudah tidak bisa di biarkan lagi.


Austin dan Fanny di larikan ke ruangan ugd. Austin tidak mengalami luka yang serius karena bagian tubuh yang tertembak bukan bagian vital. Berbeda dengan Fanny yang menjadi sarang peluru itu, bagian tubuh yang terkena tembakan bagian yang cukup vital.


"Gisella," teriak Ryan, ia benar-benar sangat marah. Ryan merasa gagal menjaga Austin yang notabene nya harus ia lindungi.


"Sabar sayang, sabar kamu jangan seperti ini, aku yakin pasti Austin dan Fanny akan baik baik saja. Ayah nya Austin sudah benar-benar marah, kamu tau kan Austin anak kesayangan nya, dulu saat Austin kecelakaan dia sampai hampir bangkrut karena penyembuhan Austin. Dia pasti akan menghabisi wanita itu, meskipun wanita itu mamah nya Adam," kata Fina.


"Seharusnya aku yang membunuh nya, aku sangat muak pada nya," ucap Ryan.


"Kamu kan sakit, bagaimana mungkin bisa kamu yang membunuh nya, sudah lah jangan seperti ini, nanti kamu tidak sembuh sembuh dan kita tidak bisa melihat Austin dan Fanny," kata Fina.


Tugas nya sekarang memang untuk menenangkan Ryan, percuma juga kalau Ryan marah, karena semuanya juga sudah terlanjur terjadi.


Keesokan harinya, Austin sadar lebih dulu dari Fanny. Ia yang tidak mengalami luka serius tidak sampai koma seperti Fanny.


"Dimana istri ku," tanya Austin.

__ADS_1


"Kak Fanny di ruangan ICU," jawab Amel ragu.


"Ayah ayah.." Adam langsung memeluk Austin, dari kemarin ia menangis melihat ayah dan mamah nya tidak sadar kan diri.


"Sayang ayah sakit jangan seorang itu." Lia ingin mengambil Adam tetapi Austin menahannya.


"Sayang jangan menangis, ayah tidak papa, kamu jangan khawatir pada ayah.."


"Ayah tidak boleh sakit, nanti yang merawat Adam siapa."


"Iya sayang, kamu jangan khawatir ya, ayah baik baik saja." Ketabahan Austin benar-benar sedang di uji sekarang. Ia tidak tau bagaimana keadaan istri nya sekarang, ia juga harus menenangkan anak nya yang sangat takut kehilangan diri nya.


"Ayah dimana," tanya Austin.


"Membereskan semuanya, ayah mu benar-benar mengamuk," jawab Lia.


"Siapa yang melakukan ini semua," tanya Austin.


"Jangan terkejut yah, kata ayah mu orang yang sangat dekat dengan mu, wanita yang baru saja bertemu dengan mu," jawab Lia.


Austin melirik ke arah Adam, dah Lia menganggu kan kepala nya. Hati nya langsung tersulut emosi. Apa yang Ryan katakan selama ini ternyata benar, Austin sangat menyesal tidak mendengarkan apa yang Ryan katakan selama ini.


"Austin," ucap Ryan.


"Hey kau sudah sembuh," tanya Austin.


"Jangan bertanya tentang ku, kau bagaimana? kau baik baik saja kan??"


"Ya aku baik baik saja, tetapi istri ku tidak baik baik saja, aku belum bertemu dengan nya," kata Aja dengan perasaan yang sangat sedih.


"Maafkan aku, aku tidak bisa melindungi mu, aku malah menjadi beban mu."


"Untuk apa kau minta maaf, aku tidak salah, aku yang salah, karena aku tidak mendengarkan mu semua nya jadi seperti ini, seharusnya aku mendengarkan mu Ryan," kata Austin.


"Kau sudah tau semua nya? wanita itu kan yang melakukan hal ini pada mu," tanya Ryan.

__ADS_1


"Ya ayah ku sedang memburu nya, aku yakin dia tidak akan selamat," jawab Austin.


"Bagus lah, aku juga berharap seperti itu, dia tidak berhak untuk hidup," kata Ryan.


Ryan benar-benar sangat kesal dengan Gisella, kalau Gisella tidak selamat dia orang pertama yang mengucapkan syukur.


Malam hari nya, Austin memasakkan diri untuk melihat Fanny. Ia naik kursi roda bersama dengan Ryan. Hanya mereka berdua yang di izinkan untuk masuk ke dalam.


"Sayang..." Hati Austin sangat hancur melihat istri nya seperti ini, mereka baru saja menikah dan Fanny sudah seperti ini. Kebahagiaan yang mereka dapatkan benar-benar sangat singkat sekali.


"Sabar Austin, aku yakin Fanny akan bangun, dia sedang beristirahat untuk memenangkan diri nya, aku yakin semenjak bersama mu dia mendapatkan banyak masalah, dengan begini Fanny bisa beristirahat mengisi energi nya untuk hidup dengan tenang bersama mu."


"Aku ingin membunuh wanita itu langsung," ucap Austin.


"Terlambat orang tua mu sudah membuangnya nya ntah kemana, mereka tidak membunuh nya karena wanita itu sedang hamil anak pria lain," kata Ryan.


Austin benar-benar terkejut mendengar hal itu Gisella tidak berubah sama sekali, ia pikir Gisella sudah berubah ternyata tidak sama sekali.


"Dasar ******, bagus lah dia sudah pergi," ucap Austin.


Meskipun diri nya sedang sakit ia tidak memperdulikan diri nya sendiri, yang terpenting saat ini istri nya, ia tidak bisa melihat Fanny seperti ini, hati nya benar-benar sangat hancur sekali.


Austin tidak bisa lama lama di sana. Fanny masih tidak bisa di ganggu, setelah semua nya lebih baik ia baru bisa kembali menemui Fanny.


"Ayah.. Mamah mana," tanya Adam.


"Mamah sedang sakit sayang, kamu berdoa ya, agar mamah mu cepat sembuh," jawab Austin sambil mengusap kepala Adam.


Austin tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Adam ketika dewasa nanti saat tau orang yang ingin membunuh Fanny mamah kandung nya sendiri, mamah kandung nya yang membuat semua nya seperti ini. Austin tidak bisa menyalakan Adam jika Adam sampai membenci Gisella, kemungkinan besar juga mereka berdua tidak bisa bertemu lagi, karena Gisella sudah di buang ntah kemana oleh ayahnya.


"Austin kamu sudah baik baik saja kan," tanya Lia.


"Iya mah aku sudah Baik baik saja, jangan khawatir dengan ku mah," jawab Austin.


"Bagaimana mamah tidak khawatir dengan mu, semuanya terjadi tanpa dugaan kau baru saja menikah malah seperti ini," ucap Lia.

__ADS_1


Ia semakin membenci Gisella, ia sangat bersyukur Gisella sudah tidak bisa lagi menganggu keluarga nya, dari pertama Austin dekat dengan Gisella memang ia sudah tidak suka dengan wanita itu Dan benar saja ketidak sukaan nya sudah terbukti secara nyata.


"Ryan kau sudah sembuh," tanya Amel.


__ADS_2