
Fanny keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh yang sangat wangi, ia memakai baju dinas nya malam ini, ntah siapa yang meletakkan baju dinas di kamar mandi, dari pada tidak di pakai Fanny memutuskan untuk memakai nya. Meskipun begitu Fanny tidak pd dengan diri nya, ia memutuskan untuk menutupi diri nya dengan handuk kamar mandi.
Mata nya tertuju pada Austin yang juga baru selesai mandi. Austin sudah bertelanjang dada dengan hanya memakai celana pendek di atas lutut, seperti nya ia sudah siap siap untuk pertempuran panjang malam ini.
"Sini.." Mata Austin tertuju pada Fanny yang lebih cantik dari biasa nya, mungkin karena malam ini Fanny sudah resmi menjadi pasangan nya.
Fanny berjalan mendekati Austin, bulu kuduk nya merinding melihat dada Austin yang memang tumbuhi banyak bulu halus. Ia yakin pasti rasa nya sangat geli saat ia kulit mereka bersentuhan.
"Ya Tuhan, apakah aku kuat, rasa nya seperti tidak mungkin saja," batin Fanny.
Austin menarik Fanny sampai Fanny jatuh ke atas tubuh nya, dengan cepat Austin mencium bibir Fanny sesuka hati nya, karena tubuh Fanny sudah menjadi hak nya. Fanny merasakan ciuman Austin kali ini sabar berbeda, lebih berwarna dari sebelumnya. Tangan Fanny reflek menyentuh perut sampai ke dada Austin. Tangan nya seperti memiliki magnet yang dapat bergerak sendiri.
Tangan Austin juga tidak tinggal diam, ia melepaskan handuk yang menempel di tubuh Fanny. Sampai pakaian dinas yang Fanny pakai terlihat oleh nya.
"Aku suka ini, Adam tunggu adik mu ya."
Semakin lama semakin panas saja, ke dua tangan Austin sudah bergerak sangat liar kemana mana, posisi mereka juga sudah berbalik dengan Austin sudah berada di atas tubuh Fanny.
"Aku mencintai mu," ucap Austin.
__ADS_1
"Aku juga, sangat mencintai mu," balas Fanny.
"Mau menghabiskan malam dengan ku??" Sebelum melanjutkan nya Austin izin terlebih dahulu dengan pemilik tubuh.
"Sebenarnya aku sabar takut, apa rasa nya sakit," tanya Fanny.
"Ya aku tidak berbohong pasti sangat sakit, kamu tau kenapa sakit?? karena kamu istimewa, kamu memberikan apa yang suami mu wajib mendapatkan nya," kata Austin.
Apa yang Austin katakan cukup membuat Fanny tenang, ia sudah sangat sangat siap. Ia sudah sangat siap melepaskan apa yang selama ini ia jaga Du usia nya yang terbilang masih cukup muda, Fanny akan memberikan kesucian nya pada sang suami.
"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, aku istri mu.."
Austin tersenyum mendengar hal itu, ia kembali memberikan serangan pada tubuh Fanny. Fanny berusaha untuk menikmati nya, Austin yang cukup kasar membuat Fanny beberapa kali terkejut dengan apa yang di lakukan. Seperti mengoyak habis pakaian dinas nya.
"Aku suka ini.." Austin tidak henti henti nya memberikan pujian pada istri nya, hal itu membuat Fanny sendiri semakin nyaman saja.
"Sa.. sayang..." Fanny membuka mata nya karena tangan Austin sedikit kasar.
"Kenapa hmmm, kamu suka," tanya Austin.
__ADS_1
Fanny tidak sadar jika sedari tadi Austin menatap nya, ia sangat malu pada Austin apalagi ia memasang wajah keenakan sejak tadi.
Austin mengecup bibir Fanny sejenak, setelah itu ia mulai turun dan kembali membuat Fanny terbang ke atas langit. Bibir nya bergerak dengan sangat lincah menelusuri setiap jengkal yang ada.
Fanny benar-benar menikmati semua nya, ia belum pernah merasakan sesuatu yang luar biasa seperti ini. Gerakan tubuh nya menunjukan jika ia sangat menyukai apa yang Austin lakukan. Tangan nya tak henti henti nya menahan kepala Austin dimana pun Austin memberikan permainan nya.
"Sa.. sa... sayang...." Tubuh Fanny terasah bergetar dengan hebat. Tetapi Austin menahannya membuat Fanny seperti hampir kehilangan akal. Tiba-tiba Fanny merasakan sesuatu yang meledak di bawah sana. Rasa nya ia benar-benar sangat lemas sekali.
Austin terkejut menerima pelepasan Fanny, perasaan ia baru saja menelusuri daerah itu Tetapi itu tidak masalah karena ia bisa langsung memulainya.
Rudal balistik Rusia sudah siap untuk bertempur. Fanny menggelengkan kepala nya saat melihat benda milik Austin. Ia rasa diri nya akan segera merasakan rasa sakit yang luar biasa.
Tangan Fanny Austin gerakan agar memegang Rudal nya, hal itu membuat Fanny geli sendiri. Terasa sangat hangat seperti sosis yang baru keluar dari panggangan. Satu tangan nya tidak bisa menjangkau semua nya, awal memang Fanny merasakan aneh, tetapi lama lama tangan nya seperti menyukai nya dan bergerak memanjakan apa yang ada.
Wajah Austin mulai memasang ekspresi enak. Seperti Fanny sebelum nya, seperti nya ia suka dengan apa yang Fanny rasakan. Austin lebih mendekatkan ke Fanny agar Fanny lebih leluasa.
"Sayang.." Tangan Austin memegang bibir Fanny, ia menginginkan sesuatu dari bibir itu.
Fanny terkejut dengan apa yang Austin minta, ia tidak siap tetapi sudah menjadi kewajiban nya, rasa nya benar-benar sangat bingung sekali.
__ADS_1
"Tidak mau," tanya Austin.
"Ma.. mau.." Fanny tidak mungkin menolak keinginan suaminya. Ia pasrah saja dengan apa yang Austin inginkan.