
Malam hari nya, mereka semua berkumpul di ruang keluarga untuk menghabiskan malam bersama sama, hal seperti ini sangat penting di lakukan agara suasana kekeluargaan tidak hilang. Adam sendiri sebagai anak kecil satu satu nya, hanya fokus bermain sendiri dengan mainan baru nya, terkadang memang ia suka bosan karena tidak mempunyai teman.
Austin sendiri terkadang juga kasihan dengan Adam yang sering bermain sendiri, pantas saja kalau sekolah dia sangat bersemangat karena bertemu dengan teman teman nya. Tetapi sejak pertengkaran Adam dengan teman nya, ia jadi khawatir dengan Adam, ia takut Adam akan suka bertengkar dengan teman teman nya.
"Pantas saja dia marah, teman nya mengatakan kalau diri nya tidak mempunyai mamah," kata Austin yang baru tau dari Fanny.
"Bagus lah Adam pukul dia, kalau di biarkan bisa semena mena dia. Anak mu memang keren," ucap Ryan.
"Ya nama nya anak ku, ya keren dong. Tetapi aku juga kasihan dengan nya, kapan dia mempunyai teman bermain," kata Austin.
"Mas angkat anak saja," ujar Fanny.
"Nah iya itu ide bagus, angkat anak akan membuat rezeki kalian semuanya jadi bagus," saut Ryan.
"Kau saja lah, kan jadi nya kau mempunyai anak seumuran dengan Adam. Terus nanti anak kita yang kedua juga seumuran," kata Austin.
"Hmmmm bagaimana sayang?? aku si no problem," tanya Ryan.
"Its oke, aku juga tidak masalah, kalau kita mempunyai anak angkat."
"Ya sudah nanti aku dan Austin yang akan mencari nya di panti, ayah ku punya yayasan, mana tau di sana ada," kata Austin.
"Aku ingin rujak," ucap Fanny tiba tiba.
Mereka bertiga langsung melihat ke arah Fanny selanjutnya ke arah Austin. Hari sudah malam dan tidak mungkin ada yang jual rujak malam malam begini, kepala Austin langsung nut nutan seketika.
"Tidak sekarang kan sayang," tanya Austin.
"Kayak nya ingin sekarang," jawab Fanny.
"Aku harus membeli dimana sayang, ini sudah Malam sekali," kata Austin.
"Di rumah lama mu kan ada pohon mangga, mana tau ada buah nya," ujar Ryan.
"Coba kamu cari sayang, aku bisa membuat bumbu nya sendiri, di kulkas juga ada buah yang bisa aku rujak, hanya kurang mangga mudah," kata Fanny.
Jika Fanny sudah berkata seperti itu berarti memang ia harus mencari buah mangga itu, Austin melirik ke arah Ryan dan Ryan sangat paham lirikan itu.
"Apa!!"
"Yok, temanin aku," kata Austin.
"Malas," tolak Ryan.
"Sayang sana, jangan begitu. Nanti kalau aku ngidam dan aku ingin sesuatu malam malam seperti ini kamu tidak akan ada yang menemani," kata Fina.
"Itu isti mu tau," ucap Austin.
"Ya ya ya, ayo lah."
"Ayah mau kemana aku ikut," ucap Adam.
"Tida boleh, sudah malam dan sudah waktunya untuk tidur," kata Austin.
"Sayang sini dengan mamah, sudah waktunya kamu tidur," ujar Fanny.
Austin dan Ryan pun pergi meninggalkan rumah, mereka berdua ke rumah lama yang jarak nya hanya tiga puluh menit saja dari rumah baru. Austin dan Ryan berharap di sana ada buah yang mereka berdua cari, biasa nya akhir tahun begini pohon di rumah pada berbuah.
"Siapa yang menanam nya aku sudah lupa," tanya Ryan.
"Kau jangan membuat ku ingat siapa yang menanam pohon di rumah itu. Bukan nya yang menanamkan juga mati di pohon itu, gantung diri," kata Austin.
"Oh iya ya, pemilik sebelum nya kan, saat kita baru pindah ke rumah itu," tanya Ryan.
"Ya kau benar, aku sangat takut makannya aku mengajak mu," jawab Austin.
"Mati, sudah tengah malam begini, rumah hampir sebulan tidak di tempati, kita mengambil buah itu di pohon nya langsung, kalau ada hantu nya bagaimana, ah kau membuat ku takut saja," kata Ryan.
"Hahaha jangan takut ada aku, aku tu berani kalau ada teman nya," ucap Austin.
Sesampainya di sana, mereka berdua langsung menuju ke pohon mangga di belakang rumah. Dan benar saja pohon itu berbuah dengan sangat lebat, bukan hanya ada pohon mangga di sana juga ada pohon jambu yang berbuah dengan lebat juga.
"Manjat," ucap Austin.
"Siapa," tanya Ryan.
"Ya kau lah, mana mungkin aku, kau jangan ada ada saja," jawab Austin.
"Ha aku? kan istri mu yang menginginkan nya, ya kau lah yang mengambil nya, kalau nanti anak mu jadi mirip aku bagaimana," kata Ryan.
"Iya ya, ya sudah kau tunggu bawa, jangan lari awas saja kau lari meninggalkan ku," ucap Austin.
Austin mulai mendekati pohon itu, ia sudah bersiap untuk naik ke atas pohon, memang sangat menakutkan untuk nya, tetapi mau bagaimana lagi, nama nya juga tugas sebagai suami dan calon ayah yang baik, kalau bukan diri nya siapa lagi. Tidak mungkin pria lain yang bertanggung jawab atas keinginan Fanny.
"Awas Austin, kalau kau mati di atas aku tidak tanggung jawab," ucap Ryan.
"Hahaha jangan takut, aku tidak akan mati, tetapi kalau aku mati kau orang pertama yang aku hantui," kata Austin
"Cepat jangan banyak berbicara," ucap Ryan.
Austin berusaha mengambil beberapa mangga, ia tidak tau matang atau tidak, sudah bisa di ambil atau tidak. Yang terpenting sekarang ia bisa membawa mangga ini pada Fanny.
Beberapa mangga jatuh ke bawah, dengan cepat Ryan mengumpulkan nya. Austin tidak tau jika Ryan berada di bawa nya, ia terlalu fokus sehingga asal menjatuhkan saja buah mangga ke bawah.
"Ahkk Bajingan.."
Ryan memegang kepala nya yang terasa sakit.
"Hahaha maafkan aku, aku tidak tau," kata Austin.
"Sudah cepat turun, sudah banyak, kau tidak hati hati," ucap Ryan.
Austin melompat ke bawah, ia tidak tau cara nya turun dengan benar.
Brukk.. Tubuh Austin jatuh tepat di atas tubuh Ryan.
"Austin..." Teriak Ryan.
"Hahaha maaf maaf.." Austin ingin bangkit dari bawah.
Tetapi tiba-tiba semua lampu padam, hal itu membuat mereka berdua sangat terkejut dan ketakutan tidak jelas.
"Ah... Tolong.." Austin dan Ryan saling berpelukan.
"Austin aku sangat takut," ucap Ryan.
"Kau pikir aku tidak takut, jangan dekat dekat dengan ku," kata Austin.
"Hey kau yang memeluk ku, aku rasa hantu bapak itu marah karena kita berkata kasar," ucap Ryan.
"Kau yang berkata kasar, kau yang tanggung jawab. Ambil saja Ryan, dia beban keluarga," teriak Austin.
"Hey kau jangan begitu, jika aku mati siapa yang akan membantu mu."
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dan terbang tak jauh dari mereka, hal itu semakin membuat ke dua nya ketakutan bukan main.
"Jangan takut, jangan takut Ryan, ingat anak istri di rumah, kalau kita takut begini bagaimana kita bisa menjadi kepala rumah tangga yang baik."
"Tapi aku belum mempunyai anak, aku baru membuat adonan nya," kata Ryan.
"Tuan..."
"Ahkkk..." Teriak mereka berdua dengan sangat keras, mereka berdua terkejut dengan suara itu.
Satpam rumah menyalahkan lampu senter, ia juga hampir terkejut mendengar teriakan mereka berdua yang sangat kencang.
"Tuan ini saya," kata satpam.
"Kau...Kau membuat ku takut saja, kenapa tidak dari tadi si," tanya Austin.
"Maaf tuan saya baru menemukan senter."
Austin dan Ryan melepaskan pelukan mereka berdua, mereka bangkit dar atas tanah dengan wajah yang penuh keringat.
"Ambil jambu itu cepat," ucap Austin.
"Baik tuan.''
Austin dan Ryan sebenarnya sangat malu pada satpam itu, mereka berdua ketauan ketakutan sambil berpelukan, image yang selama ini mereka berdua bangun seperti telah rusak.
Setelah mendapatkan semua nya, mereka berdua langsung pergi meninggalkan rumah itu, Austin dan Ryan benar benar sangat lega telah mendapatkan semua nya. Austin memacu mobil nya dengan cepat agar cepat sampai rumah, mengingat waktu yang sudah semakin larut saja.
Di rumah Fanny sudah menidurkan Adam, ia dan Fina sedang di dapur memotong buah yang ada dan Fanny juga membuat bumbu rujak andalan nya.
"Fanny bagaimana rasa nya hamil," tanya Fina.
"Ya begitu lah, nama nya juga hamil, ada enak nya ada tidak nya, kalau enak nya mungin kita lebih di manja suami, tapi tidak nya mood kita berubah ubah dengan cepat, terkadang baik kadang tiba tiba buru, kita juga bisa menginginkan sesuatu secara tiba tiba. Tetapi kehamilan ku jangan kamu jadikan patokan ya, kamu tau kan setiap wanita merasakan hal yang berbeda beda,'' jawab Fanny.
"Lalu apa jatah masih jalan," tanya Fina.
"Hmmm aku sio belum memberikan nya, tetapi baku rasa tetap jalan saja, tidak ada bedah nya mah kalau itu, kenapa juga di tahan tahan orang kita sama sama merasakan enak, lagi pula kalau tidak ada keluhan ya lakukan saja."
"Aku rasa aku akan segera hamil seperti mu, kamu tau sendiri kan Ryan bujang tua," kata Fina.
"Hahaha ya ya aku rasa juga begitu, nikmati saja setiap proses nya, semua nya akan bahagia dan enak jika kalau kita menjalani semua nya dengan ikhlas."
Tak lama Austin dan Ryan datang, mereka berdua terlihat sangat lelah. Ryan meletakan buah itu di atas meja dan langsung mengambil minum, ia benar benar sangat haus.
__ADS_1
"Aku minta," ucap Austin.
"Ambil sendiri, sejak tadi kau selalu merepotkan saja."
"Sayang kalian kenapa, kalian seperti sangat lelah dan di kejar hantu?"
"Memang kami di kejar hantu, sudah sayang. Cepat kamu kupas, makan yang banyak sampai kenyang, aku ingin berganti pakaian dulu." Austin pergi meninggalkan meraka semua.
"Kenapa si," tanya Fina.
"Hahaha tidak papa, Austin saja yang lebay, sayang aku juga ingin mandi, kalian lanjutkan lah dulu," jawab Ryan yang ikut pergi menyusul Austin.
Para istri langsung menyiapkan semuanya selagi suami mereka mandi. Setelah semuanya siap, mereka membawa semua nya ke atas lantai atas agar tidak bolak balik ke bawa lagi. Lagi pula di atas juga ada tempat yang sangat nyaman untuk mereka mengobrol bersama.
"Hmm enak sekali, kau sangat pintar membuat nya," kata Fina.
"Hahaha aku dulu sering membuat nya, di restoran nya suami mu," ucap Fanny.
"Kau pernah bekerja di restoran suami ku," tanya Fina.
"Iya, restoran yang di olah orang tua nya, tetapi aku juga baru tau jika restoran itu milik suami mu," jawab Fanny.
Austin keluar dari kamar hanya memakai kaus oblong dan celana pendek saja. Ia akan meminta jatah malam ini sebagai balasan apa yang ia lakukan hari ini pada Fanny.
"Sayang kamu mau," tanya Fanny.
"Mau lah, bagaimana rasa nya enak," tanya Austin.
"Ya enak dong, tidak mungkin aku tak membuat nya tidak enak," jawab Fanny.
Tak lama Ryan juga keluar dengan memakai pakaian yang sama dengan Austin. Di mata istri mereka, malam ini suami masing-masing terlihat sangat hot sekali.
"Sayang kan sudah aku sediakan pakaian untuk Malam ini," kata Fina.
"Malas, nanti juga di lepas.."
"Jatah," ujar Austin.
"Yoi jatah, kau tau saja, pengantin baru ni," ucap Ryan.
"Hahaha dasar otak mesum," kata Austin.
"Halah kau pun sama, jangan asal mengatakan orang mesum jika diri mu juga mesum," ucap Ryan.
Fanny dan Fina hanya saling lirik mendengar semuanya, sebenarnya suami mereka berdua sama saja. Tingkat kemesuman ke dua nya tidak ada bedanya, sama sama berotak kotor.
"Sayang sudah lah, kenapa malah memperdebatkan hal yang tidak penting, lebih baik kamu coba ini sekarang, rasa nya sangat enak sekali. Fanny sangat pintar membuat nya. Nanti kalau aku hamil aku juga ingin di biarkan seperti ini."
"Jangan pakai mangga muda ya, kamu tau mengambil mangga nya sangat menyeramkan." Ryan mencoba rujak buatan Fanny. Memang rasa nya sama sekali tidak mengecewakan.
"Bagaimana rasa nya enak kan," tanya Fina.
"Hmmm memang rasa nya sangat enak, kau sangat pintar membuat rujak Fanny."
"Hahaha kau si tidak tau, aku sering membuat rujak di restoran mu, kau saha tidak pernah datang jadi tidak tau," kata Fanny.
"Sayang anak ku dimana," tanya Austin.
"Anak mu aku masukan ke dalam perut, ya sudah jelas sudah tidur lah. Ini sudah hampir jam 2 malam," jawab Fanny.
"Hahaha iya juga ya, sudah yuk tdur aku sudah mengantuk ni," ucap Austin.
"Kau sudah mengantuk atau sudah tidak tahan, dasar pria tidak ada puas nya," kata Ryan.
"Woy sadar woyy.." Austin berteriak di kuping Ryan.
"Sayang sudah malam jangan berteriak seperti itu, nanti anak mu bangun bagaimana," ucap Fanny.
Karena memang sudah puas memakan rujak. Fanny daan Austin masuk ke dalam kamar. Mereka berdua sudah siap bermain kuda kudaan. Sejak malam waktu itu Austin baru dua kali mendapatkan jatah, dan sekarang baru mulai mendapatkan lagi, memang kalau sudah kepengen ya mau hamil atau tidak gas saja. Lagi pula ia belum mendapatkan peringatan dari dokter. Kandungan Fanny juga sangat kuat, terbukti sasa koma tidak mempengaruhi apa apa pada kandungan nya.
Austin dan Fanny sikat gigi bersama sampai bersih, mereka tidak ingin tubuh mereka pedas karena sisa sambal di gigi. Apalagi Austin sangat suka menggunakan bibir nya saat kuda kudaan.
"Sayang kamu ingin punya anak berapa," tanya Fanny.
"Dua dari mu, jadi totalnya tiga," jawab Austin.
"Bagus lah aku hanya melahirkan dua kali," kata Fanny.
"Jangan normal sayang, Caesar saja ya," ucap Austin.
"Tak mau ah, kalau Caesar perut ku akan di potong potong, aku akan lama sembuh, tetapi kalau normal aku akan cepat sembuh," ucap Fanny.
"Sayang kamu jangan ngeyel dong, nanti kalau normal kamu akan merasakan sakit, aku tidak mau kamu kesakitan," kata Austin.
"Sayang kamu hargai aku dong, kan aku yang mengandung, aku yang membawa bayi ini ke sana sini di dalam perut ku selama 9 bulan. Mau normal ataupun Caesar tetap akan merasakan sakit," ucap Fanny
Setelah selesai bersih bersih. Mereka berdua langsung menuju ranjang, ranjang baru yang akan menjadi tempat bertempur.
Di luar Fina dan Ryan masih menikmati rujak yang Fanny buat. Mereka berdua masih enggan beristirahat, masih banyak hal yang ingin mereka berdua lakukan di luar kamar.
"Sayang kamu kapan mulai bekerja," tanya Fina.
"Seperti nya mulai Lusa," jawab Ryan.
"Kamu kapan masuk kuliah," tanya Ryan.
"Kalau aku mungkin ya minggu depan," jawab Fina.
"Aku tadi banyak bertanya tentang kehamilan Fanny, aku jadi ingin cepat hamil," ucap Fina.
"Nah kalau ingin cepat hamil kamu tau kan harus apa," kata Ryan.
"Sayang..."
"Disini saja.." Ryan langsung menerkam Fina.
"Kita habis makan rujak, kamu mau tubuh kita jadi panas," tanya Fina.
"Hahaha oh iya, tapi dia sudah bangun. Ayo lah gas kamar.." Ryan membawa Fina masuk ke dalam kamar.
"Yahh kamu hebat," ucap Austin.
"Sayang aku takut..."
"Kenapa takut, ini sangat keren terus jangan berhenti, dia masuk begitu dalam," kata Austin.
Di pagi hari nya. Karena kemarin mereka semua bertempur sampai hampir pagi, mereka semua bangun terlambat. Adam yang seharusnya sekolah sejak pagi tadi, jadi tidak sekolah karena Adam sendiri juga belum bangun dari tidur nya.
Fanny membuka mata nya secara perlahan saat merasakan sinar matahari mengenai mata nya Rasa nya benar benar sangat silau, tetapi diri nya masih enggan bangkit dari tempat ternyaman nya, yaitu di atas dada suaminya.
Fanny sangat senang dada Austin sudah bebas dari rambut halus. Ia jadi tidak merasakan geli lagi kalau tidur di atas nya, dada bidang dengan perut kotak kotak membuat Fanny sangat senang berada di sana. Tubuh nya seperti merasakan getaran aneh yang sangat ia suka.
"Sayang bangun," ucap Fanny.
"Hmmmm aku sudah bangun, bukan hanya aku tetapi dia juga bangun, kamu terlalu banyak bergerak di dalam atas sana," kata Austin.
"Bangun tampan ku..."
"Iya cantik ku, aku sudah bangun..." Austin membuka mata nya lebar lebar.
"Sayang... Jam berapa sekarang, kita harus mengantarkan Adam sekolah."
Austin mengambil handphone untuk melihat jam, di kamar itu memang tidak di sedia kan jam dinding.
"Jam 9, kita bangun kesiangan sayang, Adam jadi tidak sekolah karena kita," kata Austin.
"Kamu si, kenapa kamu bangun terlambat, kan kasihan Adam.."
"Lah kamu malah menyalahkan aku, kenapa kamu tadi tidak langsung melihat jam, kan kamu bangun lebih dulu dari ku."
"Kan aku juga baru bangun untuk apa kamu menyalahkan ku," kata Fanny.
"Sudah dari pada saling menyalahkan, tidak ada gunanya lagi, lebih baik lanjutkan lagi, di belakang mu dia sudah bangun tu.."
"Tidak mau, aku ingin mandi.." Fanny berjalan meninggalkan Austin dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
"Sayang.." Austin merengek seperti anak kecil saja.
Dari pada menunggu Fanny mandi. Austin memutuskan untuk pergi membangunkan Adam. Hampir sama dengan nya, kalau tidak di bangunkan Adam tidak akan bangun, jika sudah keturunan memang susah.
"Sayang.." Austin mencium wajah Adam.
"Ayah..."
"Bangun sayang, kamu tidur terus, kamu terlambat sekolah jadi nya."
"Aku tidak sekolah??"
"Tidak sudah siang, kamu main saja lah di rumah," ucap Austin.
"Yes.. Aku suka main tapi aku juga suka sekolah, tetapi tidak papa kalau main saja."
"Hahaha ada ada saja diri mu, hari ini ayah dan paman Ryan akan mencarikan mu teman, jangan takut sendiri lagi sayang, sebentar lagi kamu akan mendapatkan teman."
"Yes, aku mau teman seperti aku," kata Adam.
Yang Adam maksud teman pria seperti diri nya.
__ADS_1
"Ayah tidak janji, lihatlah nanti mau pria atau wanita sama saja sayang," kata Austin.
Ryan dan Austin pun bersiap siap. Setelah selesai mereka berdua pergi meninggalkan rumah dan langsung ke panti asuhan untuk mencari anak angkat. Ryan lah yang akan mengangkat anak agar ia dan Austin mempunyai anak yang seumuran.
"Aku ingin wanita ah, pasti sangat menggemaskan," kata Ryan.
"Pria saja agar Adam bisa main bola dengan nya."
"Tidak mau ah, bagus wanita. Wanita juga bisa main bola, jangan merendahkan gender," kata Ryan
"Suka mu lah, yang mengangkat anak juga diri mu," ucap Austin.
Sesampainya di sana mereka berdua langsung di sambut dengan sangat baik, sebelum sampai memang ayah nya Austin sudah memberitahu mereka jika Austin dan Ryan akan datang. Sebelum mengambil keputusan ini memang Austin sudah konsultasi pada ayahnya terlebih dahulu, ia tidak mau semua keputusan yang ia ambil salah. Untung saja keluarga nya setuju walaupun yang mengadopsi sebenarnya Ryan bukan diri nya.
"Ada satu anak wanita, dia sangat pintar tetapi tidak mempunyai teman. Dia sangat menginginkan sosok orang tua, tetapi dia tidak mau kalau ada orang yang ingin mengadopsi nya. Hari hari nya ia habiskan hanya melukis karena dia sangat hobi melukis."
"Aku ingin bertemu dengan nya," kata Ryan.
"Aku juga ingin, antar kami berdua ke sana," ucap Austin.
Mereka berdua di bawa oleh pengurus panti ke ruangan anak itu.
"Dimana orang tua nya," tanya Austin.
"Pergi meninggalkan nya sajak dia kecil."
"Sekarang dia masih kecil kan," tanya Austin.
"Masih usia nya mungkin baru 6 tahun."
"Hampir 2 tahun di atas Adam," kata Austin.
Di dalam ruangan itu. Mereka berdua melihat gadis cantik yang sedang melukis dengan senyuman manis. Seperti nya gadis cantik itu sedang melukis hal yang indah sehingga membuat nya tersenyum manis seperti ini.
"Austin aku rasa rahang bawah nya mirip dengan mu," kata Ryan.
"Kau jangan semua hal kau katakan mirip dengan ku," ucap Austin.
"Hahaha rahang bawah nya, bentuk bibir kalian juga sama," kata Ryan.
"Lah iya ya, aku penasaran dengan nya." Austin berjalan mendekati anak itu.
"Wah bagus sekali, siapa mereka," tanya Austin yang berada di belakang anak itu.
"Ini keluarga aku, ini ayah, ini mamah, aku dan adik," kata anak itu.
"Kamu sudah pernah bertemu dengan keluarga mu," tanya Austin.
"Belum, aku hanya bermimpi mereka. Siapa paman," tanya anak itu.
"Paman ingin mengajak mu bermain. Nama kamu siapa," tanya Austin.
"Aura.."
"Wah nama yang bagus," ucap Austin.
"Ini cukup langkah biasa nya anak itu tidak mau berbicara dengan orang asing."
"Austin memang cukup pintar untuk mendekati anak kecil." Ryan berjalan mendekati mereka berdua.
"Seperti nya kau yang akan mengadopsi anak,x kata Ryan.
"Paman itu siapa," tanya Aura.
"Paman Ryan, kalau aku paman Austin."
"Gambar mu sangat bagus," ucap Ryan.
"Terimakasih paman.."
"Kamu tidak main dengan yang lainnya," tanya Austin.
"Mereka tidak suka dengan gambar ku, kata nya aku tidak pandai menggambar," jawab Aura.
"Tidak kamu sangat pandai dan berbakat Aura, jangan dengarkan mereka semua. Mereka hanya iri dengan mu," kata Austin.
"Aura ingin mempunyai keluarga seperti di gambar itu," tanya Ryan.
"Iya paman, tapi Aura tidak tau dimana keluarga Aura tidak mempunyai siapa siapa paman."
Austin rasa ini kesempatan mereka membuat Aura mau ikut dengan mereka berdua. Ntah siapa yang akan mengadopsi Aura nanti, yang terpenting Aura mau ikut dengan mereka.
"Aura mau ikut dengan paman tidak, di rumah paman ada adik seperti yang Aura gambar. Ada mamah dan ayah juga, kalau Aura mau Aura bisa mempunyai dua ayah dan dua mamah," kata Austin.
Austin menatap Austin hal itu membuat Austin merasa sangat aneh. Ia seperti mendapatkan tatapan dari Adam.
"Bagaimana Aura mau," tanya Austin.
"Mau saja lah, kan Aura di sini tidak ada teman," ujar Ryan.
"Ya Aura mau," ucap nya tatapan nya masih sama seperti sebelumnya.
"Ya sudah ayo kita bersiap siap," ucap Austin.
Ryan mengurus perpindahan Aura dari panti ke rumah mereka sedang kan Austin membantu anak itu untuk membereskan semua barang barang nya.
"Ini sudah habis, nanti kita beli lagi," kata Austin yang melihat Aura mengambil semua cat nya walaupun sudah hampir habis.
"Boleh," tanya Aura.
"Boleh dong, Aura boleh meminta apa saja yang Aura mau," ucap Austin.
"Ini boneka siapa," tanya Austin.
"Milik Aura, ini teman Aura kalau Aura ingin bertemu dengan mamah dan ayah."
Hati Austin terketuk mendengar nya, ia langsung memeluk Aura dan mencium dahi nya, ia seperti sangat tepat bertemu dengan anak ini. Anak yang sangat memerlukan kasih sayang ayah dan mamah nya.
Setahun selesai berkemas mereka berdua pergi meninggalkan kamar. Austin menggendong Aura langsung untuk pertama kalinya. Ia seperti menggendong Adam anaknya sendiri.
"Sudah," tanya Ryan.
"Sudah ayo pergi," ucap Austin.
"Kami pamit, terimakasih untuk semua nya."
Mereka bertiga pun pergi meninggalkan rumah panti itu. Sebelum kembali ke rumah, Austin dan Ryan memilih mampir ke mall untuk membeli perlengkapan Aura terlebih dahulu. Mereka harus membeli beberapa perlengkapan sebelum Austin meminta anak buah nya untuk membeli semuanya.
"Ini kamu ingin cat baru kan," ucap Austin.
"Iya paman, terimakasih," kata Aura.
"Sama sama sayang, ayo kita beli yang lainnya."
Austin memutuskan untuk mengembangkan bakat yang Aura miliki. Ia membeli semua perlengkapan untuk menunjang hobi Aura. Ia ingin Aura bisa sukses dengan apa yang ia suka sekarang ini. Baru berusia 6 tahun saja Aura sudah menunjukkan bakat nya yang sangat luar biasa ini.
Setelah membeli semua perlengkapan Aura mereka pun langsung pulang ke rumah. Fanny dan Fina sudah mendapatkan kabar dari Austin dan Ryan jika mereka membawa anak gadis cantik pulang ke rumah. Mereka berdua juga sudah tidak sabar menunggu kedatangan Aura.
"Mamah teman ku wanita," tanya Adam.
"Iya sayang, kamu tidak suka," tanya Fanny.
"Suka suka. Aku suka main dengan siapa saja," jawab Adam.
"Bagus sayang, mamah suka dengan jawaban mu, kamu sangat dewasa sayang," kata Fanny.
Sesampainya di rumah Austin dan Ryan membawa Aura masuk ke dalam rumah. Fanny dan Fina sangat suka melihat wajah Aura yang begitu menggemaskan.
"Sayang dia sangat lucu," ucap Fanny.
"Tentu dong, sayang ini mamah Fanny. Nah yang itu mamah Fina, kalau yang sana ayah Ryan, serta paman ayah Austin. Kamu bisa memanggil kami semua dengan sebutan itu."
"Aku aku yah aku apa," tanya Adan.
"Kalau kamu adik Adam, dia kakak kamu sayang,x kata Austin.
"Halo kakak," ucap Adam.
"Halo, dia sangat lucu sekali," kata Aura.
"Hahaha memang dia sangat lucu, sudah kalian bermain lah, jangan bertengkar ya.."
"Ayo kakak.." Adam menarik tangan Aura dan membawa Aura ke tempat nya bermain.
"Nama nya Aura, sangat cantik seperti orang nya," kata Fanny.
"Iya sayang kamu benar, dia sangat cantik seperti nama nya," ujar Austin.
"Terus siapa yang akan mengadopsi nya," tanya Ryan.
"Aku," jawab Austin.
"Kita sayang," tanya Fanny.
"Iya, aku sangat tertarik dengan nya, aku yakin bisa membuat nya sukses," jawab Austin.
"Ya sudah kalau begitu, mau kau atau pun aku tetap dia akan di rumah ini," kata Ryan.
__ADS_1