Gairah Duda Tampan (Hot Daddy)

Gairah Duda Tampan (Hot Daddy)
Anu


__ADS_3

Di perjalanan pulang..


"Mas ada apa ya dengan Ryan," tanya Fanny.


"Ada apa emang nya," tanya balik Edward.


"Kamu malah tanya balik, aku rasa ada hal yang dia sembunyikan tetapi aku tidak tau apa.."


"Sudah jangan kamu pikirkan, Ryan itu hebat dan kuat jika tidak ada apa apa, ya berarti memang tidak ada apa apa, kalau ada pun dia pasti bisa menyelesaikan sendiri, bukan nya aku tidak ingin membantu nya tetapi memang dari dulu dia melakukan semua hal sendiri, aku tak akan di perbolehkan nya ikut campur jika masalah itu masih bisa di tangani nya sendiri," jelas Austin.


"Oh begitu, pantas saja kamu terlihat sangat tenang," ucap Fanny.


"Sayang bagaimana kamu masih sakit," tanya Austin.


"Sebenarnya tadi aku sangat sulit berjalan tetapi aku paksakan, ya karena Ryan kecelakaan aku sangat khawatir dengan nya, tetapi karena aku paksakan rasa sakit nya perlahan menghilang," jawab Fanny.


"Oh begitu ya, kalau aku yang memaksa kamu bagaimana."


"Maksudnya," tanya Fanny.


"Ke hotel bentar yuk," jawab Austin.


"Ngapain mas? kan sebentar lagi sampai rumah," kata Fanny.


"Di rumah masi membereskan acara kemarin, lagi pula Adam dan kakek nenek nya sedang pergi," ucap Austin.


Austin memberikan kabar pada orang tua nya jika ia akan pulang malam. Memang Adam dan orang tuanya sedang pergi ke sebuah tempat, Austin baru mendapatkan kabar itu setelah keluar dari rumah sakit tadi.


"Wah kamu memilih hotel yang tepat, tau saja aku sedang lelah, enaknya istirahat," ucap Fanny.


Fanny merebahkan diri nya di atas ranjang yang sangat empuk. Rasa nya benar-benar sangat nyaman sekali, apalagi tadi waktu tidur nya terganggu yang membuat Fanny ingin tidur kembali.


"Makan sayang, kamu belum sarapan kan," ucap Austin.


"Dari mana mas," tanya Fanny.


"Aku meminta pihak hotel membawa kan makanan untuk kita, aku belum sarapan begitu juga dengan mu," jawab Austin.


Austin dan Fanny langsung sarapan bersama. Mereka berdua sedang di landa kebahagiaan tanpa henti, makan bersama saja sudah membuat suasana sangat romantis sekali.


"Oh iya aku mendapatkan hadiah dari mamah nya Ryan, Fina dan masih banyak lagi," kata Fanny.


"Oh iya dimana hadiah itu," tanya Austin.

__ADS_1


"Di kamar, tetapi tidak sama dengan kamar yang kita tidurin kemarin," jawab Fanny.


"Bagaimana tadi malam, kamu suka," tanya Austin.


"Suka acaranya sangat keren, kamar kita juga sangat wangi dan bagus," jawab Fanny.


"Bukan itu sayang, yang kamu makan apa sekarang??"


"Sosis.."


"Kamu suka," tanya Austin.


"Ya aku suka, tapi kurung besar, kamu kok pesan yang kecil, kamu kan tau aku sangat suka sosis," jawab Fanny.


"Nanti aku akan memberikan yang 3 kali lebih besar," ucap Austin.


"Sayang tadi malam aku seperti bermimpi melakukan hal itu dengan mu," kata Austin.


"Bermimpi! apa aku juga mimpi, ah tidak mungkin orang kita melakukan nya secara nyata, jangan ngadi ngadi kamu mas," ucap Fanny.


"Hahaha itu kamu sadar, bagaimana rasa nya kamu suka," tanya Austin.


Fanny baru sadar dengan pertanyaan Austin, sejak tadi berarti Austin bertanya tentang itu, ia merasa bodoh karena menjawabnya kemana mana.


Austin hanya menganggukkan kepala nya, berarti ia kurang membuat Fanny puas, Austin merasa tidak bisa seperti itu, kepuasan istri nya yang nomor satu.


Setelah selesai makan. Austin meminta Fanny untuk minum yang cukup banyak, tak lupa mengajak Fanny bersikat gigi. Fanny hanya ikut saja karena ia pikir ini demi kesehatan nya.


Setelah itu mereka berdua kembali ke tempat tidur Satu persatu Austin melepaskan pakaian nya agar tidak kotor. Ia tidak membawa pakaian ganti kalau pakaian nya kotor.


"Kamu mau apa," tanya Fanny.


"Nanti pakaian ku kotor dan kusut," jawab Austin..


"Iya juga ya kita tidak kembali pakaian ganti."


"Ya sudah lepas saja lah pakaian mu, nanti kalau kusut kamu sendiri yang malu," kata Austin.


"Tapi aku..


" Tapi apa? malu? kamu malu dengan suami mu sendiri, aku sudah melihat semuanya. Di bawah saja ada dua tai lalat kecil yang menggemaskan, apa lagi yang tidak aku tau," kata Austin yang lama lama kesal juga kalau Fanny mengatakan malu,"


"Hahaha iya juga ya," ucap Fanny.

__ADS_1


Satu persatu Fanny melepaskan pakaian nya, hanya tersisa d*laman seperti Austin. Austin mencoba untuk cuek, ia memilih bermain satu game dulu untuk mencerna makanan yang mereka makan tadi Fanny juga memilih memainkan handphone nya sambil memeluk Austin dari samping.


"Yank dulu saat istri ke dua mu hamil Adam, waktu nya berapa lama," tanya Fanny.


"Maybe tidak sampai sebulan si, itu pun sekali cetak langsung jadi, untung saja hasil nya tidak mengecewakan," jawab Austin.


Fanny menghitung tanggal haid nya, ia ingin mencoba menghitung tanggal berapa ia harus testpack, ia juga lagi masa masa subur karena sebelum menikah diri nya baru selesai datang bulan.


"Ahh kalah," ucap Austin. Bagaimana dia tidak kalah, sebenarnya otaknya tidak singkron dengan game itu, otaknya sedang memikirkan Fanny saja.


"Game terus istri nya tidak di pedulikan," ucap Fanny.


Dengan cepat Austin meletakkan handphone nya, ia sedikit turun ke bawah dan meletakan kepala nya di perut Fanny, tempat dimana anak nya akan berkembang nantinya.


"Cepat besar sayang, ayah sangat menanti kan mu," ucap Austin.


"Bagaimana mau besar, tumbuh saja belum, terkadang kamu itu aneh mas," kata Fanny.


Austin tersenyum sambil menaikan kepala nya. Kepala nya berada di antara dua gunung kembar kesukaan nya.


"Ya harus di tebar terus menerus sayang," ucap Austin.


"Iya memang harus," kata Fanny.


"Mas kamu wasting ya," ucap Fanny.


"Haaa!!!"


"Itu bulu dada geli mas, akun tidak terluka suka," kata Fanny.


Sebenarnya Austin sangat suka karena diri nya terlihat lebih laki, tetapi kalau misalkan Fanny tidak suka ia akan menghilangkan nya, karena tubuh nya sekarang juga hak Fanny.


"Iya iya lusa aku akan hilangkan," ucap Austin.


"Makasih.."


Austin memberikan beberapa ciuman manis di sana. Kalau sudah selesai ini pasti larinya akan ke situ. Fanny juga langsung sadar dan hanya bisa pasrah saja, toh Austin juga suami nya, kenapa ia harus takut dan malu pada suami nya sendiri.


"Sayang," ucap Austin.


"Iya boleh," kata Fanny.


"Hahaha kamu tau saja, tapi aku ingin kamu seperti kemarin malam, kata nya kamu mau sosis yang lebih besar," ucap Austin.

__ADS_1


Fanny baru konek dengan apa yang Austin katakan tadi, ternyata sosis yang Austin maksud anu.


__ADS_2