
Hamasuki menatap tajam ke arah senjata yang Laila pakai.
"Enma jangan ceroboh sepertinya senjata itu bisa menembus pertahananmu!" ucap Hamasuki sambil menjaga jarak
"Hoo...
Sepertinya kamu bisa mengetahuinya tapi sudah terlambat untuk menjaga jarak dari kita!" ucap Laila sambil memutar shotgunnya
"Change Place!" ucap Felix sambil memainkan jari telunjuknya
Dalam satu detik tiba-tiba Laila langsung berada tepat di samping kanan Enma seketika membuat semuanya panik termasuk Enma yang sama sekali tidak melihat pergerakannya. Laila mengarahkan shotgunnya ke tubuh Enma kemudian menarik pelatuk senjatanya.
Dorrr...Break...
Perisai yang Enma buat seketika rusak hanya dalam satu tembakan bahkan tangan kanannya terluka akibat peluru shotgun yang dikeluarkan tiba-tiba meledak sembari menghamburkan seluruh kepingan peluru sehingga areanya menjadi luas.
Enma merasakan rasa sakit yang luar biasa hingga tidak mampu menyeimbangkan tubuhnya di udara. Selena, Shouta dan Hamasuki terkejut melihat serangan dadakan itu hingga mata mereka semua langsung fokus kepada Laila yang tidak bisa berpijak pada udara.
"Shouta!" teriak Hamasuki ketika melihat peluang
"Gokuencho!" teriak Shouta sambil melancarkan serangan terakhirnya
Burung api itu terbang dengan cepat mengarah kepada Laila kemudian meledak hingga menciptakan bentuk ledakan api yang sangat besar. Namun, Shouta langsung merasakan kalau dia tidak mengenai sasarannya hingga Hamasuki tidak sempat memberitahu kepada Shouta tentang musuh yang sudah berada di belakangnya
Dorrr...Break...
"Aggghhh!" pelindung Shouta langsung hancur dengan punggung terkena tembakan
"Wahai panah hitamku!" ucap Selena sambil memfokuskan satu tembakannya
Hamasuki yang melihat kalau Selena sedang fokus kepada senjatanya tiba-tiba dia panik sendiri sebab itu dapat menguntungkan musuh seketika Hamasuki berusaha untuk memprediksi kemunculan musuhnya supaya dapat melindungi Selena.
"Change Place!" ucap Felix dari kejauhan sembari memainkan jarinya
Melihat pergerakan itu tiba-tiba Hamasuki menyadari kemunculan musuhnya yang datang secara tiba-tiba kemudian dengan prediksi asal-asalan, Hamasuki langsung bergerak cepat untuk melindungi bagian belakang Selena dengan menggunakan double perisai.
"Second Shield!" teriak Hamasuki
"Ehhh...
Menarik sekali dirimu, Demonite tapi usahamu itu sia-sia!" ucap Laila sambil menembakkan shotgunnya
__ADS_1
Dorrr...Break...
"Aggghhh...
Sialan, tanganku!" ucap Hamasuki dengan tangan kanannya hancur akibat terkena shotgun jarak dekat
"Terima kasih Suki!" ucap Selena sambil mengarahkan busur panahnya tepat di depan mata Laila
"Mendengar iblis mengucapkan terima kasih seketika membuatku merasakan ingin membunuhmu!" ucap Laila dengan tatapan membunuh
Tatapan itu seketika membuat Selena merinding hingga tidak jadi melepaskan busur panahnya melainkan membawa tubuh Hamasuki menjauhi medan tempur. Enma dan Shouta di bawa pergi oleh Tenka dan Tendon bersaudara kini mereka semua kalah total menghadapi manusia dewasa.
"Menjauh dari pertempuran!
Saat ini kita tidak akan menang melawannya!" teriak Hamasuki dengan ekspresi panik
"Full Area!" ucap Laila sambil membuat lingkaran yang super besar di ujung senjatanya dengan shotgunnya mulai bersinar
"Tch...
Ledakan area!" ucap Tenka dengan ekspresi panik
"Kamu pasti bercanda!" ucap Tendon dengan ekspresi tidak percaya
"Blind of Ice!" teriak Alice sambil membuat pusaran badai salju di sekitar rekannya
"Tornado!" teriak Ryzen sambil membuat badai angin berwarna hitam
Dua lapisan yang membuat pandangan Laila semakin mengecil tapi dia tidak menghentikan tembakannya hingga dia menarik pelatuk yang seketika melancarkan sebuah tembakan berskala besar kemudian meledak bertubi-tubi bagaikan kembang api.
"Hmmm...
Kak Felix, mereka berhasil kabur!" teriak Laila sambil terjun ke bawah
"Change Place!" ucap Felix sambil memindahkan Laila di sampingnya
Hamsuke, Clara dan Yumei terkejut dan kagum melihat kekuatan guru mereka yang dapat melawan balik musuh hanya dalam sekejap mata bahkan dapat melukai musuh tapi rasa bersalah mereka karena membiarkan Syoho berjuang sendirian.
"Laila bawa mereka kembali ke Akademik Yusshen!" ucap Felix
"Lalu bagaimana denganmu, Kak Felix?" tanya Laila sambil membuat gerbang menuju Akademik Yusshen
__ADS_1
"Mencari Stella pasti saat ini dia sudah terkapar akibat melawan Lucifer!" ucap Felix
"Baiklah kalau begitu sampai jumpa!" ucap Laila sambil pergi membawa sisa murid yaitu Regu Syoho
Felix langsung bergerak cepat menuju tempat Stella berada ketika dia sampai tiba-tiba para Ten Akuma Commander sudah menyandera tubuh Stella sebagai jaminan untuk keselamatan mereka semua.
"Berhenti sampai di situ atau aku akan membunuh rekanmu!" ucap Kouta sambil mengarahkan tombak api hitam ke arah jantung Stella
"Kalian masihlah anak-anak dan aku bisa melihatnya dengan jelas kalau kalian tidak memiliki keberanian untuk membunuh!" ucap Felix sambil berjalan menuju ke arah Stella
"Mundurlah manusia atau aku akan benar-benar membunuhnya!" teriak Kouto dengan ekspresi kesal
Felix sampai berada di depan Stella dengan Kouto tidak berani membunuh manusia yang berada di depan matanya.
"Lihatlah kalian masih anak-anak dan membunuh itu memerlukan tekad seperti iblis itu!" ucap Felix sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah Enma
"Sialan!" ucap Kouto sambil pasrah dengan dirinya sedangkan teman-temannya sudah pergi jauh
Felix mengangkat tubuh Stella kemudian pergi menjauh sontak Kouto yang merasa terhina tiba-tiba berteriak untuk dibunuh karena dia mengira kalau itu adalah tugas seorang manusia tapi Felix menjawab pernyataan itu dengan jawaban yang seketika membuat Kouto bingung.
"Kalian itu tidak berbeda dengan kami, suatu saat kalian akan sadar ketika mengetahui siapa musuh yang sebenarnya dan siapa yang harus kalian lindungi walaupun musuh itu dari kami atau dari kalian!" ucap Felix sambil pergi membawa Stella yang sedang tertidur
Kouto langsung pergi untuk menuju Akademik Galleen melalui Gate hingga pertempuran di Gate Terbuka Tanpa Batas telah selesai dengan kemenangan bagi Akademik Yusshen dan kekalahan untuk Akademik Galleen yang mana Lucifer telah terbunuh oleh Stella.
...
Tiga hari setelah Kamp Pelatihan yang terjadi pertempuran di Gate Terbuka Tanpa Batas kini Syoho mulai sadarkan diri hingga teman-temannya yang sudah menunggu Syoho bangun akhirnya langsung memeluk tubuh Syoho sambil menangis.
"Penyerangan dari Iblis dan Demonite serta kematian Lucifer yang sudah dikonfirmasi sepertinya Ragnarok tidak bisa bertahan lebih lama yang berarti dia akan bertindak lagi!" ucap Jack dengan nada pelan
"Kau benar karena itu kita perlu membuat pertahanan yang kokoh sebab saat ini jika tiga iblis mahkota turun kemungkinan akan ada kerusakan besar yang bisa mereka lakukan dan kamu tidak akan sempat untuk melindungi seluruh manusia saat ini!" ucap Drakon Kholkikos melalui telepati
"Drakon kalau dunia ini memerlukan sosok perdamaian yang dapat menyelesaikan masalah tanpa hati nurani mungkin saja saat ini aku sudah menghancurkan Earthleen bagian kiri hari ini juga!" ucap Jack dengan tatapan serius
"Tapi hatimu itu tidak mau melakukannya sungguh manusia yang baik hati!" ucap Drakon Kholkikos
"Kalau begitu apa yang harus aku lakukan?" tanya Jack melalui telepati
"Pertemukan murid terbaik Akademik Yusshen untuk datang ke Grand Tusia, kita akan membuat mereka bekerja sama dengan dua malaikat terbaik yang sudah aku latih sejak 10 tahun lalu kali ini biarkan mereka semua yang menyelesaikan masalah dunia kali ini dan kamu tidak perlu turun tangan tapi di saat kondisi yang berbahaya, mohon bantuannya!" ucap Drakon Kholkikos
"Baiklah akan aku lakukan!" ucap Jack sambil mematikan telepatinya
__ADS_1
Jack pertama kalinya melihat Syoho tersenyum lebar kepada anak seusianya hingga dia bertekad untuk melihat seberapa jauh, Syoho akan berkembang sampai dapat melindungi teman-temannya hanya dengan kekuatannya sendiri.
Bersambung...