Genius Bride Duda Depresi

Genius Bride Duda Depresi
BAB 21 | Dendam Yang Goyah


__ADS_3

"Argh! Jangan pergi! Aku mohon Dean! Jangan pergi!" teriak Andro mengigau.


Apel yang tertidur di samping Andro langsung terbangun mendengar teriakan Andro, memang malam ini mereka untuk pertama kalinya tidur bersama dalam satu ranjang, Apel bangkit dan mendapati Andro tengah meracau dan mengigau yang membuat Apel segera menyadarkan Andro.


"Hey! Bangun!" ujar Apel menepuk wajah Andro.


Andro yang merasakan tepukan diwajahnya langsung bangkit dan memeluk Apelblekat, dia mendusel manja di dada Apel yang membuat Apel bingung harus bereaksi bagaimana.


Andro kini dalam keadaan bermandikan keringat dingin dan mendusel manja seperti seorang anak kecil di dekapan Apel.


"Dia mengejar ku, bayangan itu kembali mengejar ku," gelisah Andro dengan nada bergetar seperti seseorang yang ketakutan.


Apel yang melihat sifat Android berbanding terbalik dengan apa yang dia lihat di kesehariannya, seorang Andro yang Casanova dan mesum ternyata memiliki sisi seorang anak kecil ketika rasa traumanya datang merasuk kedalam mimpinya.


"Siapa yang mengejarmu?" tanya Apel mengelus rambut Andro pelan.


Andro tidak menjawab ia malah semakin mempererat pelukannya kepada Apel seolah takut akan sesuatu, separah inikah jika rasa trauma dari Andro datang menganggu malamnya.


Dari riwayat yang Apel baca, Dean istri Andro meninggal karena melahirkan diusia muda, dia kehabisan banyak darah dan menghembuskan napas terakhirnya bersama bayi yang tak sempat dia lahirkan, hal inilah yang membuat Andro trauma akan pernikahan, pada waktu tertentu bayangan mendiang istri dan anaknya selalu datang dalam bentuk traumatik yang membuat batinnya terguncang.


Memang sudah tidak separah dulu yang merusak psikologis Andro, namun hal itu masih saja selalu menganggu malam-malam Android, yang menjadikan Andro membenci komitmen dan pernikahan.

__ADS_1


"Seperti ini saja dia sudah sangat tersiksa, dia seperti anak kecil, bagaimana nanti kalau aku benar-benar meninggalkannya dan membuatnya trauma dan depresi untuk kedua kalinya? Apakah aku sejahat itu?" batin Apel yang entah kenapa merasa khawatir kepada Andro.


Ia mengelus kepala Andro pelan, mencoba memberikan ketenangan kepada Andro, bahwa semua nya akan baik-baik saja.


"Jangan tinggalkan aku, aku sendirian dikejar masa lalu ku," ujar Andro yang sedikit meracau.


Deg!


Hati Apel tergugah, tampaknya dendam dalam hatinya sedikit goyah, entah itu kalimat langsung dari hati Andro atau dia hanya meracau tidak jelas.


"Kau berjanji?" tanya Andro masih membenamkan wajahnya didada Apel berusaha mencari ketenangan disana.


Apel tampaknya akan benar-benar menjadi istri dominan disini, Androbmemiliki sesuatu yang sangat fatal dan hal itu membuat Apel bingung sendiri, apakah dia tega mengulang rasa trauma yang sama kepada Andro atau tidak.


Andro mengangkat wajahnya dia menatap Apel dalam, kemudian kembali membenarkan posisi duduknya, dia sudah sedikit tenang.


"M-maaf," ujar Andro mengambil bantal dan berdiri. "Aku menganggu tidur Bu Boss, rasa traumatik ini selalu datang inilah alasanku tidak ingin menikah lagi, biar aku tidur di balkon saja,"


"Tidak usah." jawab Apel yang membuat Andro menautkan kedua alisnya.


"T-tapi,"

__ADS_1


"Ini perintah!" jawab Apel bangkit dan berjalan keluar dari dalam kamar. "Kau beristirahat saja, aku mau keluar dulu mencari udara segar,"


Apel berjalan keluar dari kamar meninggalkan Andro yang kembali terduduk di ranjang, Andro menepuk kepalanya sendirinya menyesali kenapa hal ini pernah terjadi.


Dia menjadi Casanova demi melupakan mendiang istrinya namun kenapa bayangan itu selalu datang, Andro merebahkan badannya sehingga menatap langit-langit kamar itu.


"Dean? Apa kabar sayang? Sudah dua puluh tahun lamanya, maaf aku terlambat mengatakan cinta setelah pernikahan terpaksa kita diusia dini dulu, aku sudah menikah lagi, dengan seorang wanita Arogan, tapi aku bingung, aku akan mencintainya atau tidak? Namun kenapa dia yang bisa membuatku tenang dalam perasaan trauma? Apakah mencintainya? Atau dia hanya sebatas pelampiasan ketika kau hadir dalam mimpiku? Beristirahatlah dengan tenang, dari suamimu Andro."


Andro bermonolog sejenak sebelum memejamkan matanya, sementara itu diluar Apel tengah menengak koktail di meja makan sampai gelas koktailnya habis.


Dia bingung dengan dirinya sendiri, dia tengah bertengkar dengan batinnya antara kasian dan meneruskan balas dendamnya.


Sebuah pilihan yang sulit tercetus membuat Apel berada di jalan yang sangat licin dan sulit untuk melangkah.


Tampaknya dendamnya sudah goyah melihat Andro.




__ADS_1


TBC


__ADS_2