Genius Bride Duda Depresi

Genius Bride Duda Depresi
BAB 22 | Waktu Tiga Hari


__ADS_3

[Karena Novel ini sedang mengajukan Kontrak maka dari itu nama Karakternya diubah menjadi Andro, Apel dan Divo hehehe]


Apel masih terdiam dalam pikirannya sendiri, berkutat dan bertengkar dengan pemikiran batinnya, setelah dia pikir-pikir dia terlalu kejam kepada Andro, terlebih Andro bukanlah orang yang sepenuhnya bersalah, Andro hanya merebut kehormatannya.


Hanya, seharusnya Apel tidak menghukumnya seberat ini apalagi untuk kesalahan yang dilakukan ayahnya.


Jika disuruh memilih, Apel tampaknya sudah memiliki perasaan untuk melindungi Andro dari segala depresi nya, namun perjanjian dengan Bryan membuat dia harus membuat Andro lebih depresi lagi.


Dia seorang Dosen namun nilai moral yang pernah ditanamkan pada nya seolah menghilang dan mau bagaimanapun Andro adalah suaminya.


Apel mengambil ponselnya sudah tengah malam waktu paris dan harusnya di Indonesia masih pagi, Apel meyakinkan dirinya membatalkan semua rencananya dan membiarkan Andro kembali ke kehidupan normalnya.


Ia menghubungi Bryan kakaknya, nampak matanya menerawang jauh apakah ini adalah keputusan yang tepat namun dirinya sudah merasa sangat bersalah, jangan sampai karena dendamnya, dia kehilangan moralnya.


"Halo? Apel? Ada apa?" tanya Bryan saat sambungan telepon tersebut terhubung.

__ADS_1


"Kak? Aku bisa bicara sebentar gak?" tanya Apel balik.


Apel berdiri dari duduknya dan berjalan menuju sofa ruang tamu guna mencari suasana terbaik untuk membicarakan hal ini.


"Kenapa harus meminta izin, tanyakan saja," jawab Bryan yang tampaknya sibuk dengan sarapannya karena disana masih jam sembilan pagi sedang di paris sudah larut malam.


"Aku ingin membatalkan semua rencana kita," jawab Apel yang membuat Bryan tersentak.


"Hah? Kamu gak bercanda kan?" tanya Bryan yang membuat Apel menarik napas panjang. "Tapi dia udah ngehancurin hidup mama loh,"


"Bukan Tuan Andro, tapi ayahnya, kenapa kita harus kehilangan moral guna dendam yang kita tahu harus kita balaskan kepada siapa, aku sudah melihat Depresinya, dia begitu tersiksa jika rasa trauma itu datang, bukankah itu juga yang terjadi pada Mama? Kalau aku harus memilih, aku tidak ingin ada orang yang mengalami Depresi seperti itu bahkan SUAMIKU sendiri," jelas Apel.


Tidak ada suara diantara kedua adik kakak yang terhubung secara virtual itu, setelah ucapan kalimat panjang kali lebar dari Apel yang membuat Bryan terdiam.


Kini hanya ada deru napas terdengar menggebu diantara mereka, dendam dalam hati Apel bukan goyah lagi tapi sudah runtuh.

__ADS_1


"T-tapi kenapa mendadak seperti ini? Kenapa kamu jadi kasian dan khawatir sama Andro?" tanya Bryan yang membuat Apel terserang dua opini dalam waktu bersamaan.


"Mungkin karena perasaan benci berubah menjadi takut dia terluka, aku tidak ingin terjebak dalam permainanku sendiri, Andro hanya seorang Casanova namun aku tahu dia sangat menghargai wanita, bahkan dia masih menyesali karena telat mengatakan cinta pada mendiang istrinya," jawab Apel mengambil napas sejenak.


"Kakak hargai keputusanmu, jadi bagaimana dengan pernikahan mu, kau harus menceraikan Andro dan kembali ke Indonesia," jawab Bryan yang membuat Apel terdiam.


Benar-benar sebuah pilihan yang sulit, namun dia sudah bersumpah dengan nada serapah, apapun keadaannya dia akan meninggalkan Andro, lebih baik meninggalkannya sekarang daripada menunggu Andro lebih lama yang membuat Andro terluka.


Untuk pertama kalinya Apel takut jika depresi Andro kembali terulang, karena dia mulai sadar dia sedikit tidaknya mencintai pria itu.


"Berikan aku waktu tiga hari lagi untuk menyelesaikan semuanya,"



__ADS_1



TBC


__ADS_2