
"Pemirsa, peluncuran bidang baru dari perusahaan W-Corp yang bergerak dibidang ritel mengejutkan jagat perbisnisan, pasalnya seperti yang kita ketahui, bahwa perusahaan asal Indonesia ini hanya bergerak di bidang pembuatan produk parfum, sedangkan peluncuran Usaha Ritel secara tiba-tiba ini menimbulkan sebuah tanda tanya besar, terlepas dari semua itu, konsep dari Ritel ini dinilai sangat kreatif dan memancing banyak minat konsumen yang bahkan membandingkannya dengan perusahaan ritel senior di Perancis yaitu AdsCorp,"
Suara pembawa acara berita di televisi tersebut membuat Tuan Adsense membanting gelas kopinya sendiri, pasalnya dia sangat hapal dan sangat tahu bahwa konsep dari perusahaan ritel yang diluncurkan Baby Boss adalah konsep perusahaan miliknya.
Namun yang menjadi tanda tanya besar bagi Tuan Adsense, adalah file tersebut disimpan diruangan aman dan dijaga ketat sehingga tidak mungkin bisa diterobos begitu saja, Tuan Adsense berjalan menelepon orang kepercayaannya yang kini sedang menyelidiki bagaimana proyek yang akan mereka luncurkan sebulan lagi.
"Halo, Harpic? Bagaimana? Apakah kau sudah menemukan bukti?" tanya Tuan Adsense saat sambungan telepon tersebut terhubung.
"Maaf, Tuan Adsense, didalam ruangan ini tidak ada bukti apa-apa hanya saja file konsep kita sudah hilang, dari kesaksian penjaga, ada dua orang yang datang kemari dan masuk menggunakan kartu akses, saya heran hanya anda yang memiliki kartu akses tersebut kenapa orang lain bisa masuk?" jelas Harpic yang membuat Tuan Adsense tanpa sengaja meraba lehernya.
"Astaga!" panik Tuan Adsense merasakan bahwa kalung dengan kartu akses miliknya sudah hilang. "Baiklah Harpic, lanjutkan penyelidikanmu,"
Tuan Adsense berpikir dan mengingat-ingat sejenak, dimana dia meninggalkan kartu akses tersebut sampai bayangan nya terpaku pada kejadian saat Baby Boss tanpa sengaja menumpahkan minuman kepadanya.
Apalagi Baby Boss secara mendadak pergi dan pagi ini malah meluncurkan ritel dengan konsep milik Tuan Adsense, menyadari bahwa dirinya sudah dipermainkan membuat Tuan Adsense panik bukan main, dia segera berjalan keluar dari kediamannya menuju mobilnya.
Kini tujuannya adalah melabrak Baby Boss.
__ADS_1
Sementara itu Andro dan Apel kini tengah terduduk di sofa rumah mereka menikmati pagi dengan berita bahwa bidang ritel W-Corp sangat mencuri perhatian masyarakat.
Kini mereka sudah menyelesaikan rencana A yaitu menghancurkan saham Tuan Adsense dan kini waktunya mereka menjalankan rencana B, tapi mereka tidak perlu repot-repot sekarang karena Yang terhormat sendiri yang akan masuk kedalam perangkat mereka berdua.
"Sekarang apa?" tanya Apel yang membuat Andro menatap istrinya itu kemudian mengusap bibir Apel pelan.
"Menurutmu?" tanya Andro memasukkan jempolnya kedalam mulut Apel.
Apel tidak menjawab, dia merasakan bahwa kini jari Andro tengah bermain liar didalam mulutnya, sebelum Andro melepasnya dan memagut mesra istrinya itu.
"Sekarang adalah Rencana B, yaitu menghancurkan image, martabat dan harga diri Tuan Adsense," jelas Andro yang membuat Apel menatapnya serius.
"Bagaimana caranya?" tanya Apel yang membuat Andro tersenyum.
Andro berdiri kemudian mengambil remote tv, dia membuka bagian remote tv tersebut dan mengambil baterainya, Apel mengerutkan dahi dengan alis tertaut melihat suaminya itu, Andro sendiri tampak mengambil sebuah microchip yang merupakan alat perekam didalam sana.
"Dengan ini," jawab Andro yang membuat Apel masih tidak paham dengan rencana dari Andro.
__ADS_1
Andro mengode istrinya itu mendekat dan membisikkan sesuatu, sebuah rencana panjang kali ini sedang dijelaskan secara seksama yang membuat Apel akhirnya paham akan rencana Andro sebenarnya.
"Bagaimana? Kau paham?" tanya Andro pada Apel.
Apel mengangguk paham sebelum suara ketukan pintu yang terkesan seperti gedoran mengagetkan mereka berdua, Andro dan Apel saling melempar tatapan dan senyum sinis.
"Nampaknya mangsa sudah masuk jebakan, kan sudah kubilang sayang, kita tidak perlu repot," bisik Andro yang membuat Apel segera berjalan membuka pintu untuk tamu mereka.
Tuan Adsense.
•
•
•
TBC
__ADS_1