
Andro terjungkal kebelakang akibat bogeman mentah dari Bryan, Andro sendiri sedikit terkejut atas penyerangan dadakan itu, laptop Bryan sudah jatuh dilantai, membuat Andro segera berdiri dari posisinya yang terjungkal.
Bryan menarik kerah kemeja Andro, pria berusia tiga puluh dua tahun itu tampak emosi memandang wajah Andro, Bryan tampaknya menyimpan sejuta dendam kepada Andro yang sudah dia pendam lama.
Bugh!
Satu lagi bogeman mentah dari Bryan melayang di wajah Andro, namun tidak membuat Andro terjungkal lagi karena Bryan sedang menahan kerah kemejanya sehingga Andro hanya bisa stuck menerima bogeman itu.
"Kau pria brengsek!"
Bugh!
"Sama seperti ayahmu!"
Bugh!
"Kau membuat adikku kehilangan pijakan hidupnya! Kau benar-benar pria brengsek!"
Bugh!
"Argh!"
Andro terjatuh kelantai dengan wajah penuh lebam, ketika Bryan melepaskan cengkeramannya pada kerah kemeja Andro, Bryan mengatur napasnya sejenak setelah emosinys yang memuncak.
Andro terdiam, dia tidak tahu harus berbicara apa, hening diantara mereka berdua menjadi saksi kelabu, Andro melirik arlojinya yang menunjukkan pukul dua siang.
Andro meringis nenahan sakit, sebelum Bryan membantu dirinya berdiri dan memapahnya masuk kedalam rumah, Andro bingung dengan sikap Bryan, bukannya dia tadi marah sampai memandang wajahnya saja sudah emosi.
__ADS_1
"Kau tunggu disini!" ketus Bryan mendudukkan Andro di sofa.
Bryan berjalan masuk ke dapur, sedangkan Andro hanya terdiam di sofa menahan sakit diwajahnya akibat bogeman beruntun yang datang bertubi-tubi.
Tak lama kemudian Bryan keluar dari dalam dapur, dan berjalan menuju Andro dengan membawa air minum beserta kotak obat miliknya.
"Minum!" ketus Bryan kembali memberikan air kepada Andro.
Andro mengambil air tersebut kemudian langsung meneguknya sampai habis, Bryan sendiri kemudian mengambil tisu basah sejenak dan menyerahkannya kepada Andro.
"Bersihkan sendiri lukamu," ujar Bryan memberikan kotak obat tersebut sekalian.
Andro mengambil kotak obat itu kemudian membersihkan lukanya dengan perlahan, walaupun sedikit meringis menahan rasa sakit, sementara itu Bryan ikut duduk disamping Andro dan kembali memakai kacamatanya yang tadi terlepas.
"Apa tujuanmu mencari Apel? Bukannya kalian sudah bercerai?" tanya Bryan merebut kapas dari tangan Andro dan membantu Andro membersihkan lukanya.
Bryan yang sudah selesai membersihkan luka Andro, mengambil testpack tersebut dan menatap dua garis merah disana.
"Jadi? Kau sudah tahu kalau Apel mengandung?" tanya Bryan yang membuat Andro mengangguk. "Lantas kau mau apa?"
Andro terdiam, dia menatap dalam mata Bryan yang lekat menatapnya. "Aku ingin memperbaiki semuanya, aku mencintai Apel dan aku tidak ingin Anakku lahir tanpa kasih sayang Ayahnya."
Bryan tersenyum kecut. "Kau yakin?"
Andro menatap Bryan kembali, tampak senyum penuh ketegasan dari wajah Andro sudah seratus persen yakin dengan keputusannya. "Aku mencintainya."
Bryan terdiam, kalimat simple bernada makna penuh arti dengan konotasi jiwa yang rapuh.
__ADS_1
"Apel tidak ada disini, dia sudah tinggal diapartemen sendiri semenjak pulang ke Indonesia, dia sudah tidak bekerja sebagai Dosen, dan dia hanya meratapi hari-harinya sendiri." jelas Bryan bercerita.
"Maksudnya?"
"Dia tengah depresi sekarang, mencoba menerima keadaan, batinnya terguncang, mengandung bukanlah kemauannya, namun menggugurkannya bukan lah pilihan, dia kehilangan jati diri dan kepercayaan dirinya, dia bukan lah Apel yang aku kenal." jawab Bryan.
"Jika bukan karena kandungannya, dia sudah lama bunuh diri," lanjut Bryan.
"Dimana dia sekarang?"
"Kau ingin menemuinya?" tanya Bryan yang membuat Andro mengangguk yakin.
Bryan berdiri kemudian mengeluarkan sebuah kertas berisi alamat apartemen Apel dan sebuah kunci mobil. "Pakailah mobilku, semoga kehadiranmu bisa mengembalikan dirinya."
Andro mengangguk, tampak dari sorot mata Bryan menandakan dia menaruh harapan besar bagi Andro untuk mengembalikan Apel yang dulu, dan Andro tidak akan menyia-nyiakan itu.
Andro berdiri dan berjalan keluar rumah, Andro kira hanya dirinya sendiri yang kehilangan pijakan hidup setelah perceraian mereka, rupanya Apel juga serupa, Andro tidak akan pernah bisa membayangkan bagaimana perasaan Apel selama ini mengandung anak sendiri tanpa dirinya.
Benar-benar komposisi genius yang lebur.
•
•
•
TBC
__ADS_1