Genius Bride Duda Depresi

Genius Bride Duda Depresi
BAB 42 | -


__ADS_3

Sesaat setelah pertanyaan Andro, hati Apel merasa tidak tega melihat frustrasi dan rasa perjuangan Andro, kedua manik mata mereka saling bertatapan saat Apel bersimpuh dihadapan Andro yang tengah bersandar pada tembok.


Apel tidak menjawab pertanyaan Andro, ia hanya terdiam sembari membersihkan darah Andro.


"Maaf," ujar Andro pada Apel.


Hening, sebuah kalimat maaf terucap penuh ketulusan dari sosok Andro kepadanya.


Apel tidak menjawab.


"Maaf,"


"Maaf,"


Andro mengulang kalimat maaf yang hanya sebatas sebuah kata sehingga membuat Apel muak dan sudah cukup mendengar kalimat itu.


Apel geram. "Iya, Iya, Iya aku maafin, sekarang tenang dulu aku bersihin darah inj, kau kalau mau nemuin tuhan mikir dulu! Ada orang yang masih sayang sama kamu."


"Siapa?" tanya Andro yang membuat Apel kehilangan kata.


"Y-ya siapa saja," jawab Apel mengalihkan pandangannya ke arah lain.

__ADS_1


Andro yang tadi menahan air matanya tersenyum tipis, ia merogoh saku celananya dengan tangan yang satunya kemudian mengeluarkan cincin pernikahan mereka.


"Aku mau rujuk dengan Bu Boss," pinta Andro yang membuat Apel terdiam.


"Hm?"


"Maafkan aku, atas kesalahanku selama ini, kau bebas ingin melakukan apa saja, kau ingin membelengguku silakan, tapi jangan tinggalkan aku lagi, aku sangat gila setelah perceraian kita bahkan saat wajah Bu Boss terbayang dan hadir dalam mimpiku," lanjut Andro yang membuat Apel menatap iba.


"Aku akan pikirkan ini, Tuan," jawab Apel ragu. "Aku juga kehilangan pondasi hidupku setelah perceraian itu, namun untuk kembali lagi aku butuh pemikiran yang matang, maaf."


"Aku akan menunggumu,"


Apel kembali terdiam kemudian fokus membersihkan luka Andro yang sudah tidak mengeluarkan darah lagi seperti tadi, pasti luka tersebut sangat perih, namun Andro menahannya hanya untuk tak berkedip menatap wajah Apel dihadapannya.


Andro memukul kepalanya sendiri, Apel yang merasa kasian langsung mengambil telapak tangan Andro dan meletakkannya di pipi tembam miliknya.


"Aku bodoh," lirih Andro menatap dalam Vanya.


"Dengarkan aku, kau adalah pria yang genius, kau tidak bodoh, hanya saja aku perlu waktu lagi, aku tidak menyesali kejadian malam saat kau merebut kehormatanku, karena aku tahu akan ada kejutan diakhir kisah kita," ujar Apel serius.


"Kau hanya menghiburku kan? Kau membuatku menunggu dan itu adalah dirimu, Bu Boss," jawab Andro melepas kacamatanya.

__ADS_1


Apel membuang muka lalu segera menarik rahang tegas Andro dan mencium bibirnya lembut sehingga kini bibir mereka berdua dalam posisi saling berkaitan sampai Apel melepasnya.


"Anggap saja itu display picture dari segala hal yang akan aku putuskan, apapun keputusanku, aku butuh waktu dan kuharap kau bisa menunggu," ujar Apel yang membuat Andro tersenyum.


Andro menarik Apel kedalam pelukanya, tubuh hangat mantan istrinya yang sangat dia rindukan itu kini berhasil dia dekap, setelah puas berpelukan, Apel segera membawa Andro masuk kedalam rumah Adam.


Mereka melangkah dengan pelan, sesampainya didalam Andro memilih pergi ke toilet meninggikan Apel diruang tamu tersebut.


Apel berdiri dan berjalan menuju jendela besar diruangan itu, ia tampak bimbang dengan dirinya sendiri, bukannya dia tidak mau luluh Namun perjuangan Andro untuknya patut di apresiasi.


Apel menatap langit sore yang mendung dibalik jendela tersebut, hembusan angin yang masuk disela-sela jendela menghempas wajah Apel, kedua manik matanya tak berkedip memandang langit yang tak bertepi pandang, bahkan rasanya dia ingin menggenggam awan namun merasa kalut dengan perasaannya.


Memberikan Andro kesempatan, bukanlah sebuah kesalahan sebenarnya, namun pertanyaan satu juta dollar untuk Apel adalah bagaimana dia bisa mengontrol dendamnya yang bisa muncul kapan saja.


Hal inilah yang menjadi bahan pertimbangan Apel sebelum benar-benar menerima Andro dalam hidupnya.


"Apakah ini keputusan yang tepat?" tanya Apel dalam hati.



__ADS_1



TBC


__ADS_2