Genius Bride Duda Depresi

Genius Bride Duda Depresi
BAB 37 | Dokter Adam


__ADS_3

"Mau kemana Bu?" tanya sopir taksi tersebut karena sudah satu jam mereka tanpa tujuan.


"Berhenti disini saja," jawab Apel yang membuat sopir taksi tersebut berhenti.


Apel turun dari taksi setelah membayar argo-nya, sebenarnya dia tidak tahu dimana ini, namun ia juga tidak mungkin selamanya berada didalam taksi tersebut, Apel membawa kopernya dengan keadaan menyeret, sebuah bayangan seorang gadis sembilan belas tahun tengah mengandung tanpa tujuan.


Apel bingung harus melakukan apa sekarang, dia mengeluh perutnya kemudian duduk di kursi pinggir jalan tersebut, berpikir dimana tujuannya sekarang.


Disaat dia termenung memikirkan bagaimana dia kedepannya, sebuah mobil avanza putih terparkir didepannya, sosok pria berkacamata keluar dari sana.


"Apel?" panggil sosok tersebut yang membuat Apel mengangkat kepalanya.


"Mas Adam?" jawab Apel yang membuat Adam berjalan ke arah Apel.


Adam Morgan Gustav, seorang dokter muda berusia dua puluh dua tahun, dia adalah kakak kelas semasa SMA Apel, dia pernah menaruh hati untuk Apel, bahkan sampai sekarang, dulu dia tidak mengungkapkannya karena ia merasa canggung karena pada saat itu Apel adalah sosok siswa paling berprestasi.


"Sedang apa?" tanya Adam duduk disamping Apel. "Kok bawa koper?"


Apel terdiam, dia bingung harus menjawab apa, apakah dia harus jujur tentang masalahnya kepada Adam, agar Adam bisa memberikannya bantuan, namun dia takut Adam akan memberitahu Bryan dimana keberadaannya.

__ADS_1


"Mas Adam janji kan, gak bakal ngasih tahu orang lain, kalau aku cerita semua ini, bahkan sama kakak aku sendiri,"


"Bryan?"


"Iya," jawab Apel mengangguk.


Adam mengangkat jari kelingkingnya yang kemudian menautkannya kepada Apel, Apel mengambil napas sebelum mulai menceritakan semua kronologi kejadiannya, dari Andro dan alasan dia kabur.


Setelah mendengarkan semua cerita Apel. Adam hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya, menelaah apa yang sedang dialami Apel saat in.


Menurut Adam sendiri, apa yang dilakukan Apel adalah sebuah kesalahan besar, apapun alasannya, ada seorang anak yang tak berdosa diantara mereka.


"Hm? Kenapa kamu tidak mencoba berdamai dengan keadaan, bukannya Andro yang kamu maksud berbeda dengan ayahnya," saran Adam yang membuat Apel memejamkan matanya sejenak.


"Tapi kamu mencintainya kan?" tanya Adam yang membuat Apel terdiam. "Kenapa diam?"


Apel menunduk. "Itulah kebodohan yang aku alami aku mencintainya dan mencoba melupakannya membuatku depresi, Mas."


"Kau bukannya dendam, kau dendam kepada Ayahnya, namun karena Andro pernah menghancurkanmu, kau menyamaratakan dendam itu, kau tahu? Kekuatan cinta itu hebat, dia bisa melunturkan segalanya, cobalah berdamai dengan keadaan, terima Andro kembali, apalagi dia masih memperjuangkanmu," ujar Adam yang membuat Apel terdiam.

__ADS_1


"Kau tahu? Aku pernah mencintai seseorang namun aku lambat mengatakannya bahkan saat aku tahu bahwa orang itu sudah mencintai orang lain, jangan sampai kau menyesali apa yang kau hadapi, cobalah melihat kedepan jangan melihat kebelakang, sesuatu yang diperjuangkan adalah sesuatu yang harus kita pertahankan, jangan berpangku tangan begini," lanjut Adam.


Hening!


"Aku butuh waktu untuk itu, Mas," jawab Apel yang membuat Andro tersenyum.


"Sekarang kau mau kemana?" tanya Adam yang membuat Apel terdiam.


Apel menggelengkan kepalanya perlahan membuat Adam menghembuskan napas panjang atas jawaban itu. "Bagaimana kalau kau ke rumahku saja, sekarang sedang kosong, aku sekarang tinggal di apartemen yang lebih dekat dengan rumah sakit."


Mendengar tawaran itu membuat Apel mengangguk. "Terima kasih."


"Kenapa lesu begitu? Apel yang aku kenal adalah Apel yang selalu kuat dan tidak pernah menyerah, kenapa jadi seperti kerupuk seblak begini?"


"Mas Adam, masih sama, masih menyebalkan," ujar Apel mengikuti Adam masuk kedalam mobil.



__ADS_1



TBC


__ADS_2