
Nyonya Soffel berdiri dengan tatapan dalam dihadapan Apel yang kini melipat kedua tangannya. Tidak dia sangka bahwa dia tidak membocorkan rencananya sendiri kepada Apel bukan kepada Vanish.
"Dimana Vanish?" tanya Nyonya Soffel pada Apel.
Apel tersenyum kemudian berjalan menuju sofa ruangan tersebut dan duduk disana, Apel menaruh kaki kiri diatas kaki kanannya lalu mengalihkan pandangannya kepada Nyonya Soffel.
"Hm, dia sedang berada di mobil menunggu pihak kepolisian menjemputnya sama sepertimu, aku awalnya tidak ingin mengusikmu tapi kau yang memulai, ya sudah selamat menikmati permainan kali ini," jelas Apel pada Nyonya Soffel.
"Lebih baik kau pergi dari sini!" teriak Nyonya Soffel mencoba mengusit Apel.
"Lebih baik kau rendahkan nada bicaramu, jangan terlalu sombong, semua rencana dan urusan busuk kalian sudah ku rekam dan ku serahkan kepada pihak kepolisian, jadi apakah salah kalau aku menunggu kabar di tempat ini? Unch, melihat wajah menderita mu membuatku sedikit bahagia," jawab Apel berdiri kemudian berjalan ke arah Nyonya Soffel.
"Permainan satu juta kata dimulai," lanjut Apel menjentikkan jarinya.
__ADS_1
Klak!
Suara jari yang dipetik seirama itu mendiagnosis perasaan gelisah yang kini menerpa diri Nyonya Soffel, Apel berjalan menatap Nyonya Soffel dan meraih kedua bahunya.
"Kau gagal dalam kata pertama yaitu Bodoh, bagaimana kalau kata kedua? Otak," bisik Apel yang membuat perasaan gugup tidak mendasar. "Yah binatang saja punya otak, masa Nyonya tidak?"
Jleb!
Sebuah kalimat nyelekit dalam namun membuat hati perih tercetak langsung didalam sanubari Nyonya Soffel, kalimat demi kalimat berisi gagasan ketegasan mengintimidasi dari Apel mampu membuat perasaan gelisah tak berujung menerpa dinding perasaan Nyonya Soffel.
Kini kedua mata mereka saling bertemu pandang, bahkan sorot mata Nyonya Soffel memancarkan ketakutan saat sorot mata Apel mempertegas situasi yang ada.
"Apa yang ingin kau jelaskan, barangkali penjelasan mu bisa merubah keputusanku, dan itu bisa membuatmu kembali bernapas bebas," lanjut Apel.
__ADS_1
Nyonya Soffel terdiam, ini adalah pertanyaan menjebak dari Apel, dia yakin apapun jawabannya Apel tidak akan membiarkannya lepas begitu saja, Apel tersenyum lebar kembali, sebuah senyuman penuh kemenangan dari segala kontribusi permainan.
"Tidak ada yang perlu aku jelaskan, lebih baik kau pergi dari sini!" teriak Nyonya Soffel menodong Apel.
"Unch, jangan berteriak begitu, nanti darah tinggi mu kumat, ingat suamimu sedang mendekam di jeruji besi sekarang, jangan merepotkan dirimu, dan mengenai jawabanmu, hm selamat kau sendiri yang memilih takdirmu," jawab Apel. "Silakan masuk!"
Setelah mendapat perintah dari Apel, beberapa pihak kepolisian masuk kedalam rumah Nyonya Soffel menggelandang Nyonya Soffel untuk pergi dari tempat itu, Nyonya Soffel menatap tajam Apel yang tersenyum penuh kemenangan, Vanish diluar juga sudah dibawa oleh kepolisian.
Vanish dan Nyonya Soffel benar-benar hanya membuat waktunya, namun ini adalah hiburan bagi Apel sendiri, berpura-pura bodoh dihadapan orang yang merasa pintar itu adalah hal paling menyenangkan yang harus kita lakukan.
Apel tersenyum, tugas hari ini sudah selesai.
•
__ADS_1
•
TBC