
Tiga jam perjalanan sudah dilalui oleh Andro, rute perjalanan dari Bandara De Gaule ke Hasanuddin International Airport di Makassar cukup menyita tenaganya.
Namun mengingat apa tujuannya datang kesini membuat semangat Andro kembali bangkit dan kembali membulatkan tekad untuk bertemu dengan Apel.
"From Paris To Makassar, aku siap menuliskan kisah hidupku," batin Andro menyeret kopernya di bandara tersebut.
Tampak asing bagi Andro, namun dia menepis segala hal tersebut, dia mengingat apa tujuannya disini, walaupun dirinya tidak bisa berbahasa indonesia dengan lancar, namun itu bukan alasan dirinya untuk menyerah pada nasib yanh ada, dia tidak akan pasrah lagi, apa yang harus dia perjuangkan benar-benar harus dia dapatkan.
Kring!
Dering ponsel Andro terdengar bergetar didalam saku celananya, membuat Andro berhenti sejenak dan mengangkat telepon tersebut yang ternyata dari Divo.
"Andro? Kau sudah tiba?" tanya Divo saat sambungan telepon mereka terhubung.
"Sudah," jawab Andro menghela napas panjang.
"Syukurlah, aku hanya ingin menanyakan hal ini, semangat, kau pasti bisa menemukan istrimu, eh mantan istrimu," ujar Divo tersenyum kuat yang tidak bisa dilihat Andro.
__ADS_1
Andro ikut tersenyum walaupun tidak bisa dilihat Divo, mereka berdua kemudian saling memutuskan telepon, Andro memasukkan kembali ponselnya disaku celananya, dia mengambil dompet dan membukanya mengambil testpack milik Apel dan menatapnya.
"Daddy datang sayang," ujar Andro meneteskan air matanya perlahan.
Andro memasukkan kembali testpack tersebut kedalam dompet miliknya kemudian memasukan dompetnya kedalam saku celananya, ia kemudian berjalan mencari taksi.
Bandara sultan Hasanuddin kala ini sedang gerimis sendu namun hal itu tidak mematahkan semangat Andro, ia melepas kacamatanya kemudian mengusapnya karena sedikit berembun sebelum kembali memakainya dan berjalan mencari taksi.
Setelah cukup lama mencari taksi, akhirnya Andro menemukan taksi yang bisa mengantarnya menuju kediaman Apel, dari yang Andro tahu, Apel hanya tinggal berdua dengan Bryan kakaknya yang merupakan CEO asli dari perusahaan yang Andro pegang selama menikah dengan Apel.
Cuaca mendung sendu kota Makassar tidak jauh beda dinginnya dengan musim salju yang menerpa kota paris saat ini, namun ada sesuatu yang berbeda bagi Andro, vibes dan suasana kota Makassar jauh lebih meriah dan terkesan seru karena hiruk pikuk disekitarnya.
Sebuah rumah dengan nuansa putih namun tidak memiliki pagar sehingga orang bisa langsung masuk menuju pintunya, Andro turun dari mobil menbawa kopernya, ia kemudian membayar argo taksi tersebut.
"Terima kasih," ujar sang sopir yang membuat Andro tersenyum mengangguk.
Andro menarik napas panjang, ia mempersiapkan dirinya bertemu dengan Apel dan Bryan, dengan niat dan memantapkan diri bahwa dirinya harus bisa membawa Apel pulang ke kota paris.
__ADS_1
Andro berjalan dengan langkah pasti, memijakkan kakinya di halaman rumah tersebut, suara roda koper yang dia seret terdengar serentak dengan langkah kakinya.
"Aku harus bisa!" batin Andro menyemangati dirinya sendiri.
Andro kemudian menarik napas panjang kembali dan mengetuk pintu rumah tersebut beberapa kali, sampai akhirnya pintu itu dibuka oleh sosok Bryan yang tengah memegang laptop dengan kacamata baca, rahangnya yang tegas dan perawakannya yang besar membuat Andro sedikit terdiam saat Bryan menanyakan apa maksud kedatangannya.
"S-saya Adsense Andromeda, saya mencari Bu Bos ehm maksud saya Bu Apel,"
Deg!
Bryan terdiam, matanya memerah sebelum bogeman panjang melesat dari Bryan ke wajah Andro.
Bugh!
•
•
__ADS_1
•
TBC