
"Kau tidak apa-apakan kalau kutinggal sendiri?" tanya Andro pada Divo yang mengantarnya ke bandara.
"Kau pikir? Pasti nya aku akan kelelahan mengurus semua ini, kasus, klien dan data, namun melihat perjuangan cintamu, aku pasti bisa melakukannya sendiri, selamat berjuang," jawab Divo tersenyum pada sahabatnya itu.
Andro tersenyum gentar pada sahabatnya itu, mereka berdua kemudian duduk di kursi tunggu sembari menanti pesawat yang akan Andro tumpangi ke indonesia lepas landas.
Suasana hening diantara mereka, Bandara Charles De Gaule tampak sepi penumpang, entah karena ini musim covid sehingga banyak yang membatalkan liburan ke luar negri, faktanya Andro malah menekatkan diri ke Indonesia.
Andro menerawang jauh seisi bandara ini, bandara yang menjadi saksi pelukan terakhir dan pertama Andro untuk Apel sewaktu melepas kepergian Apel.
Mengingat itu membuat jiwa melankolis rapuh dan patah Andro hadir, sehingga air mata kembali jatuh ke sudut pipinya membuat Divo menatapnya bingung.
"Kenapa kau menangis?" tanya Divo yang membuat Andro segera mengusap air matanya.
Divo sedikit bingung, pasalnya Andro tidak pernah menangis selama ini, dan melihat Andro menangis tentunya menjadi pemandangan yang mengherankan bagi Divo sendiri.
"Hanya menyesali apa yang terjadi, jikalau aku tahu Bu Boss hamil, aku tidak akan sepasrah ini menerima semua perceraian itu," jawab Andro yang membuat Divo mengusap bahu sahabatnya.
__ADS_1
Perasaan Andro tampaknya terguncang saat ini, dia antara menyesali dan ingin menemani Apel,dia ingin bertanggung jawab dan dia ingin Apel kembali menjadi istrinya.
Jika dahulu Andro menolak, kali ini dia yang meminta, seberapa kali pun dia menolak, faktanya Andro mencintai mantan istrinya itu.
Disaat Andro berpikir akan menata hidupnya dengan pijakan yang baru, rupanya Andro harus kehilangan pijakan hidupnya semenjak kepergian Apel, berat rasanya disaat kita saling mencintai namun terhalang janji dan sebuah noktah hitam diatas putih.
Belenggu pernikahan yang awalnya menyiksa berakhir cinta namun mereka yang berawal luka tetap saja berakhir duka dan semua itu tidak bisa mereka elakkan.
"Kau akan mencari Bu Boss dimana?" tanya Divo kembali yang membuat Andro mengatur napasnya sejenak.
"Makassar," jawab Andro yang membuat Divo mengangkat alisnya.
"Kau yakin?" tanya Divo yang membuat Andro mengangguk yakin.
Andro sudah berkeputusan bulat dan yakin, dia sudah mengantongi alamat dari Apel dan sekarang hanya tinggal kesana dan meyakinkan Apel padanya.
Tak lama kemudian suara cs, yang mengingatkan kepada penumpang untuk segera bersiap karena pesawat akan lepas landas terdengar disana, Andro bangkit bersama dengan Divo, tampak penumpang lain sudah memadati jalur masuk.
__ADS_1
Andro memeluk Divo, sejenak, Divo berat melepas sahabatnya itu, selama lima belas tahun mereka bertema, tak sekalipun mereka terpisah jauh.
"Kau harus berjanji akan membawa istri dan anakmu pulang, promise?" ujar Divo saat Andro melepas pelukannya.
"Im Promise, Brother," jawab Andro menepuk bahu Andro.
Andro tersenyum kemudian berjalan menuju jalur masuk kedalam pesawat, sementara Divo berdiri melepas kepergian sahabatnya itu, Andro berjanji dalam dirimu, jika dia menginjakkan kaki dikota ini lagi, dia akan membawa serta istri dan calon anaknya.
"Apel? Aku datang sayang," batin Andro tegas.
•
•
•
TBC
__ADS_1