
Setelah kepergian Adam. Apel memilih untuk menenangkan dirinya diruang tamu, rambutnya kini acak-acakan akibat rasa depresi yang dia hadapi.
Ingin rasanya Apel pergi saja meninggalkan dunia ini, namun dia sadar kini dia tengah mengandung seorang anak tanpa dosa yang menjadi korban diantara ego kedua orang tuanya.
Apel terduduk merenung, menghadapi takdirnya, jika dia ditanya apakah dia mencintai Andro, awalnya hanya sebuah perasaan kasian dan tidak ingin Andro terluka, Namum siapa sangka pernikahan beberapa hari mereka membuat keduanya saling jatuh cinta, Namum semuanya berbeda setelah kata cinta itu diungkapkan setelah perceraian terjadi.
Apel berdiri menatap keluar jendela dan mengelus perutnya sendiri. "Maafin Mama sayang,"
•
Sesampainya didepan kediaman Adam. Andro segera keluar dari mobil dan masuk ke pekarangannya dan memencet bel rumah tersebut.
Apel tengah termenung frustrasi saat te suara bel dari rumah tersebut, awalnya Apel merasa malas, namun suara bel yang terdengar berulang tersebut membuat Apel.
Mau tidak mau harus turun tangan membuka pintu sendiri, walaupun dalam keadaan acak-acakan ia segera berjalan menuju pintu dan membukanya.
Deg!
Apel terkaget, manakala ia mengetahui bahwa sosok didepannya adalah Andro, dengan tatapan sendu dan mimik wajah sejuta permohonan, tampak dari sorot matanya Andro belum menyerah pada keadaan.
__ADS_1
Namun tanda tanya besar bagi Apel, bagaimana bisa Andro mengetahui dimana dia berada.
"Adam?" gumam Apel menebak sosok yang memberitahu Andro.
Andro yang mendapati mantam istrinya dengan mata sembab dan kondisi acak-acakan segera memeluk wanita yang dicintainya itu sembari meminta maaf.
"Lepas, Tuan! Kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi," ujar Apel berusaha melepas pelukan Andro padanya.
Andro tidak menggubris Apel dia makin mempererat pelukannya sehingga membuat Apel terdiam dan tenang, mengetahui Apel sudah tenang, Andro melepaskan pelukannya dan mulai berbicara.
"Kau kemana? Kau membuatku gelagapan karena mencarimu, kau ingin membunuhku? Daripada kau menyiksa ku dengan takdir," tanya Andro menggenggam bahu Apel.
"Kau pria paling brengsek yang pernah aku temui, kau membuatku gila jika muncul terus dihadapanku, aku mencintaimu, tapi aku membencimu, kenapa kau hadir di saat aku berada difase berusaha melupakanmu?"
"Aku tidak bermaksud melukai hatimu, tapi-" Belum selesai Andro bicara, Apel sudah mendorongnya keluar dan menutup pintunya cepat.
Brak!
Andro yang sudah tidak tahan lagi dengan perasaan terbelenggu rasa frustrasi segera berjalan menuju mobil yang dia bawa dan meninju kaca mobil tersebut sebagai pelampiasan, sambil terus berteriak memohon Apel memaafkannya dan mau kembali dengannya.
__ADS_1
Kling!
Kini pecahan kaca itu tersebar dimana-mana, Andro berdiri mengatur napas sembari terus menerus melampiaskan kekesalannya.
Gila, tapi cinta perlu kegilaan untuk tercipta bahkan Andro sudah lupa cara untuk mencintai sebelum Apel hadir dalam hidupnya dan merubah dirinya dari seorang pria yang menganggak wanita adalah bahan menjadi wanita adalah hal yang harus diperjuangkan.
Andro semakin menyesal dan meninju kaca mobil pecah, sehingga membuat tangannya berdarah, Apel yang melihat Andro terjebak dalam frustrasinya sendiri merasa tidak tega sehingga dia bimbang dan ragu harus bagaimana.
Andro terduduk frustrasi dan bersender dipagar rumah Adam, sampai ia mendengar suara langkah kaki yang ternyata adalah Apel disampingnya.
Apel melihat tangan Andro berdarah segera mengambil tisu dari dalam mobil tersebut dan membersihkan luka Andro.
"Apa yang kau lakukan, bukankah kau membenciku," Mata Andro memerah menahan tangis.
•
•
•
__ADS_1
TBC