Genius Bride Duda Depresi

Genius Bride Duda Depresi
BAB 38 | Mengingkari Janji


__ADS_3

"Semoga kau betah yah disini, kalau ada apa-apa kau telepon saja aku, kau punya nomer kan?" tanya Adam yang membuat Apel menggeleng.


Pasalnya tadi Apel sudah mematahkan sim card-nya sehingga sekarang dia tidak memiliki nomor ponsel yang aktif.


Adam menghembuskan napas panjang kemudian menatap maklum ke arah Apel. "Yaudah gapapa, didalam ada telepon rumah, kamu bisa telepon Mas pake nomor itu, kalau begitu Mas pamit yah,"


Adam membalikkan badannya namun gagal ketika Apel menahan tangannya yang membuat Adam menatap Apel kembali.


"Mas Adam, janji kan gak bakal ngomong dimana aku pada siapapun, termasuk Kak Bryan?" tanya Apel yang membuat Adam terdiam.


Adam tersenyum kemudian mengangguk, dia kemudian melepas tangan Apel dan berjalan meninggalkan Apel.


Apel belum masuk kedalam rumah, dia memperhatikan Adam masuk kedalam mobil nya sampai mobil Adam menghilang dari pandaganhya.


Adam sendiri tampak bimbang mengendarai mobilnya, dia memijat setir mobil tersebut dan mempercepat laju kendaraannya.


Adam ingin menepati janji nya kepada Apel namun di satu sisi dia tidak mau melihat ada seorang pria yang berjuang namun tidak menemukan titik terang.


Adam adalah seorang pria religius yang baik, dia tidak mungkin berdiam diri disaat dia mengetahui sesuatu, namun bukankah jika Apel dan Andro berpisah, membuat Adam mendapatkan kesempatan untuk memiliki Apel.


Adam tidak munafik, dia mencintai Apel, namun Adam tidak egois, mereka berdua saling mencintai, hanya saja Adam tidak ingin berpangku tangan melihat hal ini.

__ADS_1


"Maafin Mas, Apel, Mas ingkar janji, semua demi kebaikan kalian, bukannya Mas ikut campur, namun diperjuangkan tanpa titik terang itu ibarat berlayar di kapal yang sudah karam." batin Adam.


Adam kemudian melakukan kendaraannya menuju kediaman Bryan, dia akan memberitahu Bryan tentang ini semua, dan satu doanya, semoga kali ini Apel bisa luluh dengan takdirnya.



Andro dan Bryan tengah duduk dipekarangan rumah mereka, Bryan sudah menelepon semua teman-teman Apel, namun tidak satupun yang mengetahui keberadaan Apel.


Nomor telepon Apel sendiri sudah tidak aktif, membuat Bryan dan Andro sedikit frustrasi.


Andro menghela napas panjang, dia mengusap cincin pernikahannya, berharap semuanya akan baik-baik saja.


Kedua pria itu masih semangat mencari keberadaan Apel, disaat mereka tengah sibuk, tiba-tiba suara Adam membuat mereka terkejut.


"Aku tahu dimana Apel," ujar Adam yang membuat Andro dan Bryan menatap ke arah Adam.


Adam berjalan ke arah Bryan dan Andro kemudian duduk di salah satu kursi disana.


"Apa yang kau ketahui?" tanya Bryan yang membuat Adam mulai menceritakan semuanya.


"Aku tadi bertemu dengan Apel di jalanan, dia bercerita tentang semuanya bahkan tentang sebuah dendam yang aku sendiri itu apa, menurutku dia hanya kehilangan kepercayaan dirinya, dia gadis yang genius, namun dia kehilangan pijakannya," jelas Adam yang membuat Andro menautkan alisnya.

__ADS_1


"Dendam?" tanya Andro yang membuat Bryan segera mengalihkan pembicaraan.


"Dimana dia sekarang," tanya Bryan yang membuat Andro ikut bertanya.


"Dia ada dikediamanku, kalau kau ingin menemui nya silakan," jawab Adam.


Andro dan Bryan tersenyum lega mendengar bahwa Apel baik-baik saja, mereka akhirnya bisa mengetahui keberadaan Apel dan dengan alamat yang diberikan Adam, Andro segera menyusul Apel di rumah Adam.


"Thanks you brother!" ujar Andro memeluk Adam sebagai ucapan terima kasih.


"You amazing, you best and you greatest! Kau pria yang ingin bertanggung jawab dan memperjuangkan cintamu, sekarang perjuangkan dia, semangat!" jawab Adam yang membuat Andro tersenyum.


Andro segera masuk kedalam movil dan memantapkan langkahnya. "Takkan ku lepaskan kau kali ini Bu Boss!"





TBC

__ADS_1


__ADS_2