
"Hahaha!"
Suara tawa keras dari Divo tampak mewakili sebagian pembaca yang mengetahui bahwa Andro tengah termakan sumpahnya sendiri. Bukannya prihatin pada sahabatnya itu, Divo malah memilih tertawa puas. Bagaimana tidak dia sendiri terjebak oleh seorang bocah berpangkat Baby Boss yang membuat kejeniusannya sudah tidak berfungsi lagi.
Andro menatap kesal Divo yang masih belum selesai tertawa diatas penderitaannya sedang dirinya sendiri sudah merasa kesal bukan main. Bagaimana tidak. Nanti malam dia harus menikah dengan sang Baby Boss.
"Sialan. Barang elektronik berjalan," kesal Divo.
Andro menekan kedua tangannya pada setir mobil, mereka masih berada dihalaman kantor Baby Boss yang berakhir sebuah penjelasan dari Andro yang membuat Divo tertawa puas.
"Makanya Ndro, kalau ngomong sama bertingkah laku yang bener dong," ujar Divo berusaha menghentikan tawanya.
Andro menghantam wajah Divo dengan bogeman mentah yang membuat sahabatnya itu terjungkal ke jok belakang, Divo bangkit kemudian mengelus pipinya yang sakit akibat bogeman dari Andro.
"Sakit bodoh!" teriak Divo yang tidak diperdulikan oleh Andro.
"Kau ketawa terus dari tadi, kau gak mikirin gimana nasibku kalau nikah sama Bocah itu?" tanya Andro yang membuat Divo menautkan kedua alisnya.
"Lah enak kan? Bukannya genjot adalah hobimu? Kenapa kau nampak frustrasi?" tanya Divo balik yang membuat Andro membuang muka malas.
"Pokoknya aku harus kabur dari kota ini, aku gak mungkin nikah sama dia, udah gunung kembarnya kecil, tapi lobang nya enak," jawab Andro frustrasi. "Argh! Apapun itu aku gak akan nikah sama dia,"
Andro menarik kerah kemeja Divo dan menodong sahabatnya itu. "Pokoknya kau harus mikirin gimana caranya aku bisa kabur dari tempat ini."
Divo mengibaskan kedua tangannya mendorong Andro menjauh dari tubuhnya kemudian melepas sepatunya.
__ADS_1
Bledug!
Sepatu kulit milik divo kini berhasil mengeplak kepala sang Genius Pengacara itu yang membuat Andro mengadu kesakitan.
"Kau kan Genius! Kenapa cuma rencana pelarian kau tidak bisa memikirkannya? Kalau menjebak anak perawan orang lain aja kau bisa, benar-benar kegeniusan yang disalahgunakan, Tuan Cassanuddin," jelas Divo menepuk kepalanya sendiri.
Entah kenapa dalam kondisi seperti ini kegeniusan tidak bisa dia gunakan, sehingga tadi dengan gampangnya dia termakan perangkap Apel, kini Andro tidak peduli di kepala nya hanya kabur bagaimanapun caranya tanpa rencana sedikitpun.
"Intinya kabur aja!" ujar Andro menancap gas dengan cepat menuju apartemennya.
Kini mobil yang dibawa Andro melaju kencang di jalanan bersalju kota paris yang membuat Divo yang terkejut akan kecepatan kendaraan yang diberikan Divo mengelus dada saking kaget nya.
"Woi! Mau COD sama Malaikat Maut, jangan ngajak-ngajak, sialan!" teriak Divo yang tidak diperdulikan Andro.
Tak lama kemudian, mobil bermerk Alphard tersebut memasuki halaman unit apartemen Andro, Andro segera turun dari mobil meninggalkan Divo yang masih diatas mobil.
"Pinter dia tuh. Cuma kalau panik agak goblook," batin Divo turun dari mobil dan menyusul Andro yang tengah berdiri dihadapan pintu lift.
Ting!
Pintu lift tersebut terbuka yang nampak kosong, membuat Andro disusul Divo segera masuk kedalamnya menuju lantai dua dimana kamar Divo berada.
Suara denting menjadi penanda penutup pintu kembali berbunyi yang membuat lift yang dinaiki Andro dan Divo mulai naik ke lantai 2.
"Astaga, kau mau kabur kemana si Ndro?" tanya Divo yang ikut frustrasi saat Andro berjalan mondar-mandir didalam lift tersebut.
__ADS_1
"Kemana saja!" jawab Andro pasrah sesaat sebelum pintu lift tersebut terbuka.
Andro dan Divo segera keluar dari dalam lift yang membuat Andro berlari kencang menuju unit kamarnya yang ada diujung koridor.
Andro merogoh saku jas-nya mengambil accescard miliknya dan membuka pintu unitnya, setelah terbuka Andro segera masuk kedalam mengambil koper dikamarnya dan memasukkan semua bajunya kedalam koper.
"Bisa gak sih? Tenang dikit!" ujar Divo berusaha menenangkan kepanikan sahabatnya itu.
Andro tidak menggubris yang membuat Divo hanya melipat kedua tangannya kesal atas panic syndrome yang diderita Andro.
"Astaga!" kaget Andro yang membuat Divo ikut tersentak. "Aku lupa memesan tiket,"
"Vo! Kau bantu kemasin bajuku! Jangan lupa koleksi Kolor Doraemon ku itu yang lengkap masukin ke koper," perintah Andro mengambil ponselnya dan mengecek aplikasi tiketing.
"Genius-genius gini, Kolor aja dikoleksi loh," gumam Divo membuat menggantikan posisi Andro mengemas baju.
"Ehem!"
Andro dan Divo mengangkat kepala dan menatap ke arah sumber suara deheman tersebut yang membuat mereka berdua membulatkan mata sempurna mengetahui siapa yang berdehem.
"Astaga! Mati lah aku," batin Andro menjatuhkan ponselnya kelantai saking terkejutnya.
•
TBC
__ADS_1