
Setelah membanting pintu tersebut, Apel memilih berjalan naik di ranjang nya, air matanya mengalir, ia membenamkan wajahnya di bantal. Ia menyesali banyak hal, salah satunya kenapa Andro harus muncul lagi dihidupnya disaat dia berada di fase depresi ingin melupakan segalanya.
Apel bukannya keras kepala tidak ingin menerima Andro kembali, Apel juga bukannya meninggikan ego untuk tidak memikirkan nasib calon anaknya.
Namun jika dia memandang wajah Andro masa lalu kelam itu kembali terbersit, masa lalu yang menghancurkan hidup Apel saat Ibunya harus mendekam di rumah sakit jiwa karena perbuatan ayah Andro.
Sekarang harus bagaimana lagi? Dia bukannya dendam pada Andro, namun jika diteruskan bersama ini malah akan membuat Andro tersiksa.
Dibalik kegeniusannya, Apel memiliki alter ego tersendiri dalam dirinya, jika rasa dendam itu muncul perasaan cintanya bahkan bisa berubah kebencian, walaupun dia sadar Andro tidak bersalah, dia tidak ingin menanggalkan modalnya sendiri dan melepas Andro adalah cara terbaik untuk membuat Andro bahagia.
Tuhan tahu apa yang Apel perbuat. Jika orang ingin mencap-nya arogan. Dan keras kepala, silakan, namun Apel tahu apa yang dia lakukan.
Andro mengerti apa yang dia tekankan, pernikahan mereka tidak bisa terulang lagi, karena pada dasarnya semua itu berawal dari keterpaksaan dan perasaan cinta keduanya pun masih terbang diangan-angan.
Tok!
Tok!
__ADS_1
"Sayang! Buka!" teriak Andro mengetuk pintu apartemen Apel.
Apel menutup telinganya sendiri, berusaha menolak panggilan menyesakkan dari Andro yang nampak frustrasi memperjuangkan cintanya, anaknya dan dirinya.
"Buka!" teriak Andro kembali.
"PERGI! AKU TIDAK INGIN MELIHATMU! PERGI!" teriak Apel kencang dengan air mata mengalir dari pipinya.
Usianya baru sembilan belas tahun, namun kenapa cobaan hidupnya begitu berat dan menyakitkan, sedangkan sosok Andro yang dewasa seolah menemukan sosok istri terbaik dari Apel setelah perceraian, namun ibarat sebuah terlambatan, Andro hanya bisa berkata 'Andai' dia tidak sepasrah itu menerima perceraian mereka.
"Berikan aku kesempatan, Kau bisa membuatku gila jika harus berpisah denganmu lagi dan calon anak kita," teriak Andro kembali.
Dengan air mata yang mengalir, dia mengemasi bajunya masuk kedalam koper, mereka mungkin sudah tidak dapat bersama, pikiran Apel blank.
Setelah selesai Apel berjalan keluar dari apartemennya, membuka pintu apartemen tersebut dan mendapati Andro masih berdiri disana.
"Kau mau kemana?" tanya Andro yang melihat Apel membawa koper.
__ADS_1
Apel menahan tangis kali ini. "Jika kau ingin yang terbaik untuk anak kita, maka lupakanlah aku, kau bisa membunuhku jika kau selalu berada di dekat ku, anggap saja pernikahan kita adalah sebuah permainan, aku tidak akan menuntut apapun darimu,"
Andro terdiam, Apel berjalan menyeret kopernya, namun dia mengingat sesuatu kemudian membalikkan badannya.
"Oh iya, aku lupa mengembalikan cincin pernikahan kita," ujar Apel menjejalkan cincinnya kepada Andro. "Jika kau akan menikah dengan wanita lain nanti, aku dan anak kita akan tersenyum bahagia, kita sudah selesai,"
"Tapi aku hanya mencintaimu!" teriak Andro frustasi.
Apel tidak menggubris, dia berjalan menjauh dari Andro, Andro berusaha mengejar Apel namun Apel sudah terlanjur masuk kedalam lift dan menutup lift-nya.
Kini Andro hanya bisa terduduk lemas, rasa dan hati yang rapuh semakin patah, apakah Andro harus menerima takdirnya dan menyerah pada keadaan.
"Tidak! Tidak Andro! Tuhan belum membuatmu menyerah! Kau harus bisa!" teriak Andro menyemangati dirinya sendiri kemudian bangkit dan berdiri.
•
•
__ADS_1
TBC