
"Tuan Divo, bisakah anda keluar sebentar? Saya ada keperluan dengan Tuan Andro," ujar Apel berdiri.
Andro dan Divo saling menukar pandangan serius, kemudian membuat Divo mengangguk sejenak dan memegang bahu Andro.
"Aku keluar dulu yah, Ndro," bisik Divo melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Apel meninggalkan Andro disana.
Kritt!
Suara pintu yang ditutup oleh Divo membuat Apel melangkahkan kakinya ke pintu tersebut dan menguncinya.
Klutak!
Suara kunci yang diputar membuat Apel kembali membalikkan badannya dan berjalan ke meja kerjanya, ia mengambil posisi duduk dimeja kerja tersebut, sedangkan Andro masih berdiri kaku dihadapannya.
"Senang bertemu denganmu, Tuan Andro, apa kabar?" tanya Apel mengedipkan mata kepada Andro.
"Apa maumu?" tanya Andro menaruh kedua telapak tangan didalam saku celananya.
Apel tersenyum perlahan, kemudian berjalan ke arah Andro, menarik dasi Andro sehingga pria yang berumur tiga puluh sembilan tahun ini memangkas jarak dengan sang Baby Boss.
"Aku hanya ingin kau mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu padaku, nikahi aku." bisik Apel yang membuat Andro melepaskan diri.
"Kau gila yah!" teriak Andro yang sangat bergema, bahkan bisa membuat kaget Divo diluar jika saja ruangan tersebut tidak kedap suara.
"Lagipula gunung kembarmu, tepos," gumam Andro memelankan suaranya.
Mendengar itu membuat Ape naik pitam dan berjalan kesal ke arah Andro dan dengan sekali pukulan dia berhasil memberikan tamparan kasar ke wajah Andro.
"Jaga ucapanmu, Tuan," tegur Apel yang kesal.
__ADS_1
"Yasudah gunung kembarmu, datar!" ralat Andro yang masih membuat Apel kesal.
Apel mengatur napas panjang, sikap pria yang usianya sudah sangat dewasa ini berbanding terbalik dengan berita tentang kegeniusannya sebagai pengacara.
"Hey Calon Duda!" teriak Apel kesal.
"Udah Duda!" potong Andro.
"Ah, apalah itu, kau pikir rudalmu itu tidak kecil? Ih bahkan milik mantan pacarku lebih besar darimu," jawab Apel menantang Andro.
"Apa? Aku tidak salah dengar?" ujar Andro berjalan ke arah Apel dan menyudutkan sang Baby Boss tersebut di meja. "Kau saja diputuskan sewaktu mantanmu meminta itu, bagaimana bisa kau mengetahui ukuran rudalnya, lagipula rudalku lebih panjang dan kuat!"
"Cih! Seorang pria yang suka keluar masuk lubang buaya sepertimu? Sangat tidak masuk diakal," kecam Apel yang membuat Andro menarik tubuhnya sehingga mereka berdua berada dalam posisi saling berdempetan.
"Kau perlu pembuktian?" bisik Andro mengangkat dagu Apel.
Apel meremas rudal Andro, membuat Andro segera melepaskan baju, jas dan celananya sehingga membuat dirinya kini dalam keadaan full naked.
"Bagaimana? Apakah rudalku tidak cukup menantang?" tanya Andro.
Apple tersenyum kemudian mulai melepaskan baju ketatnya satu persatu, penghangat yang ada didalam ruangan tersebut kemudian menjadi penyemangat bagi Andro mulai memainkan aksinya, ia menggendong tubuh Apel kemudikan menyingkirkan benda yang ada diatas meja, termasuk laptop, dan map-map lainnya.
Ia menaruh Apel diatas meja kemudian melebarkan kaki sang Baby Boss tersebut sebelum memasukkan rudalnya yang sudah tegang memanjang kedalam sana.
Plop!
Apel mengigit bibir bawahnya, saat Andro berhasil memasukkan rudalnya yang kemudian membuat Andro bertumpu tangan disela wajah Apel. "Bagaimana Baby Boss? Apakah ini kurang besar?"
"Selesaikan Tuan," jawab Apel yang membuat Andro mencium bibirnya sembari menggoyangkan benda panjang miliknya didalam rudal Apel.
__ADS_1
Mereka melakukan permainan tersebut secara side to side dalam tempo cepat membuat Apel dibawah sana terguncang hebat atas sodokan yang diberikan Andro padanya.
"Huft!"
Lenguhan dari mereka berdua yang hanya bergema didalam ruangan itu membuat Andro menarik tubuh Apel dan mengangkatnya, ia kemudian membawa Apel dalam keadaan rudal yang masih tertancap ke jendela, membiarkan mereka bermain serius dibalik kaca tersebut.
Setiap gerakan bernada desah dan lenguhan menjadi penambah semangat bagi mereka berdua dalam melakukan hal ini sehingga membuat Andro semakin semangat dalam menggoyangkan rudalnya.
Dan sampai pada akhirnya, Andro mendongakkan kepalanya keatas menikmati segala sodokan yang ia lakukan sehingga ia sampai pada *******
Andro melepaskan tubuh Apel sehingga rudalnya keluar dalam keadaan masih tegang, menikmati sisa-sisa kenikmatan yang ada.
Apel yang melihat itu bukannya lemas malah semakin bersemangat, ia kemudian berdiri dan berjalan ke meja kerja miliknya mengambil ponsel yang ada disana.
"Sepertinya kau harus menikahiku." ujar Apel tersenyum menyeringai tanpa busana.
"Kau gila! Sudah kubilang kan aku tidak mau menikah!" teriak Andro bangkit yang membuat Apel menunjukkan layar monitor ponselnya pada Andro.
"Yakin?"
Andro mengusap rambutnya berkeringat sebelum memicinkan mata melihat monitor tersebut yang memperlihatkan gambar dirinya secara jelas dalam adegan yang dia lakukan bersama Apel namun Apel sendiri tidak terlihat jelas.
"Kau menjebakku?" tanya Andro kesal.
"Hm? Bagaimana menurutmu, Ndro?" jawab Apel menyeringai.
•
TBC
__ADS_1