
Andro turun dari mobil saat dia sudah sampai didepan kediaman milik Apel, hari yang panjang dengan jutaan pertanyaan dalam benak Andro tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Apel.
Perubahan sikap Apel benar-benar membuat Andro penasaran, dan entah apa sebabnya ini benar-benar diluar nalar Andro sendiri.
Duk!
Suara pintu mobil yang ditutup Andro mengiringi langkahnya masuk ke dalam rumah dimana sudah ada Apel yang menunggunya, Andro membuka pintu dan melangkahkan kakinya masuk, disaat matanya tertuju pada Apel yang tengah menatapnya di ruang tamu dengan tatapan sendu.
"Bu Boss?" Andro mengangguk pada Apel yang membuat Apel melukis seuntai senyum diwajahnya.
"Tuan Andro, aku ingin berbicara sesuatu hal yang penting," ujar Apel pada Andro.
Andro mengangkat alisnya kemudian berjalan menuju Apel dengan langkah pelan, Apel masih duduk di posisi nya sedangkan Andro kini sudah berada didepan Apel.
"Tidak terasa sudah beberapa hari kita menikah, semua kesepakatan sudah berakhir, terima ini," ujar Apel menyerahkan sebuah map berisi surat gugatan perceraian.
"Apa ini?" tanya Andro mengambil surat tersebut.
__ADS_1
Apel tidak menjawab, dia membiarkan Andro membaca sendiri isi surat itu, Andro yang penasaran segera membuka lembaran pertama demi lembaran surat tersebut dengan raut wajah yang sulit ditebak.
"Jadi, ini hari terakhir pernikahan kita? Besok kita akan berpisah?" tanya Andro melepas kacamatanya dan menatap Apel serius.
Apel mengangguk. "Maaf sudah mengganggu hidupmu, tentang kejadian malam itu, aku tidak akan menuntut tanggung jawab lagi,"
Andro terdiam, bibirnya kelu harus menjawab apa, jika dalam kondisi normal, ini adalah sebuah situasi dan kondisi paling menyebalkan yang pernah terjadi, dan Andro benar-benar masih meraba-raba apa niat pernikahan mereka.
"Bu Boss ingin membuat aku trauma kembali akan pernikahan?" tanya Andro yang membuat Apel menatap nanar.
Sekilas dan sesaat kemudian tidak ada lagi percakapan diantara mereka berdua, Andro pamit masuk ke dalam kamar membersihkan diri dan membereskan pakaiannya, karena malam ini malam terakhirnya bersama Apel.
Apel yang ditinggal Andro, hanya diam sebelum air mata jatuh dikedua sudut pipinya, dia tidak menyesali perceraian ini, namun dia takut jika anaknya nanti lahir dan bertanya dimana ayahnya, namun jika dia meneruskan pernikahan ini, yang ada justru hanya dendam terselubung yang membuat batin Apel tersiksa.
"Maafin Mama, gak boleh ada yang tahu identitas kamu, bahkan Ayah kamu sendiri," ujar Apel berdiri dan mengelus perutnya.
Apel berjalan keluar dari rumah, udara angin berhembus menyisir wajahnya yang sendu dengan air mata, betapa beratnya sebuah perpisahan ketika ada korban diantara keduanya.
__ADS_1
"Setidaknya aku masih punya anak didalam kandunganku, walaupun tanpa seorang suami nantinya," bisik Apel dalam hatinya.
Sedangkan itu Andro yang sudah membersihkan dirinya tampak memasukkan pakaiannya kedalam koper, dia tampak gundah dengan keputusan ini, malah dia heran pada dirinya sendiri, bukankah terlepas dari kekangan Apel yang dia inginkan, namun kenapa sekarang dia nampak frustrasi dan tidak menerima ini terjadi.
Andro yang sudah memasukkan semua bajunya, segera menarik resleting kopernya dan meminggirkannya, dia kemudian bangkit dari posisinya dan berjalan ke arah balkon.
"Dean? Kenapa orang yang berhasil membuatku nyaman tiap kali datang depresi ku malah ingin meninggalkanku? Apakah kau tidak rela jika aku menemukan penggantimu, awalnya kukira ini sulit, tapi bukan salahku jika aku mencintainya walaupun kami harus berpisah," batin Andro menatap langit malam.
Malam yang tidak terlalu bagus bagi Andro dan Apel karena mereka akan berpisah besok dan Apel akan kembali ke Indonesia meninggalkan pernikahan beberapa hari yang begitu berkesan.
•
•
•
TBC
__ADS_1