Genius Bride Duda Depresi

Genius Bride Duda Depresi
BAB 32 | Bersama Bukanlah Pilihan


__ADS_3

Apel tengah terduduk menatap jendela keluar kota Makassar, suda seminggu dia di apartemen ini, tidak bekerja, tidak melakukan apapun, hanya depresi berkepanjangan.


Tiap malam dia selalu memikirkan nasibnya kedepannya, sementara batinnya tersiksa merindukan seseorang yang merupakan ayah dari anak yang dia kandung.


Namun Apel kali ini tidak ingin melunturkan moral-nya sebagai seorang Dosen, dia takut jika dia bersama dengan Andro, ia malah akan menyakiti Andro.


Namun bagaimanakah nasib anak dalam kandungan nya kelak? Dia selalu memikirkan itu, apa yang akan dia jawab pada anaknya nanti jika dia bertanya dimana ayah-nya.


Salah Apel sendiri, niatnya ingin membuat Andro depresi namun kali ini malah dia yang depresi, kecerdasaan dan kegeniusannya seolah hilang semua.


Dimana Apel yang genius? Baby Boss? Dan Dosen Pintar? Semuanya lebur bersama rasa depresi dan Dejavu dalam diri, dia sudah Overthinking terhadap nasib dan menyerahkan takdir kepada Tuhan.


Mungkin dia kurang mendekatkan diri pada Tuhan? Dia kini hanya bisa termenung, menanti semuanya menghilang, sementara kini dia hanya punya dua pilihan, bertahan atau menyerah.


Dan keduanya bukanlah opsi pilihan, di selimuti zona keterpurukan, membuat Apel kesulitan untuk terlepas.


Karma?


Belenggu pernikahan itu malah menjerat dirinya sendiri, dia mencintai Andro, dia merindukannya, namun kini dia bisa apa? Dia sudah bersumpah bahwa dirinya tidak akan bersama lagi dengan Andro.


Tok!


Tok!


Tok!

__ADS_1


Terdengar suara ketukan diluar yang membuat Apel awalnya malas namun ketukan itu semakin lama semakin banyak yang membuat dirinya segera bangkit.


Apel berjalan menuju pintu apartemennya dan membukakan pintu namun bertapa kaget nya dia saat mengetahui orang dibalik pintu tersebut adalah sosok yang dia rindukan.


"Sayang?" panggil Andro yang membuat Apel segera menutup pintu apartemennya.


Namun terlambat, Andro segera menahan dan karena perbedaan tenaga diantara keduanya membuat Andro berhasil menerobos masuk dan mengunci pintu itu.


"Bu Boss?" panggil Andro kembali.


"Aku bukan Bossmu!" teriak Apel membalikkan badannya enggan menatap wajah Andro.


Andro terdiam, "Kalau begitu sayang?"


"Kecuali satu, itu tentang anak kita," jawab Andro yang membuat Apel tersentak.


Bagaimana Andro bisa tahu? Apel hanya memberitahu Bryan pasal kehamilannya, dia tidak ingin Andro tahu soal ini.


"Kenapa kau menyembunyikannya dariku?" tanya Andro bergetar.


"Bukan urusanmu, Tuan!"


"Ini jelas urusanku, Aku Daddy-nya!" teriak Andro kali ini yang membuat Apel tidak tahan dan menangis disana


Andro berusaha memeluk Apel untuk menenangkannya, namun Apel segera menahannya dan menjauh dari nya, Apel menatap nanar Andro.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Andro.


"Sudahlah, Aku bisa membesarkan anak ini sendirian,"


"Dengan perasaan depresi? Kenapa ky keras kepala?" sentak Andro pada Apel.


Apel menunduk. "Karena bersama bukanlah pilihan, aku yang menjebakmu, bukannya bebas adalah keinginanmu, kenapa sekarang kau kembali?"


Hening!


Tidak ada kalimat apapun setelahnya, kecuali deruan napas dan perdebatan batin diantara keduanya, Andro segera menarik Apel dan mendekapnya erat.


Apel kali ini tidak menolak, ia memilih menangis dalam dekapan Andro, entah bagaimana keduanya terjebak dalam guratan hati yang pelik.


"Kenapa kau kembali disaat aku berusaha melupakanmu!" teriak Apel kesal yang membuat Andro mempererat pelukannya.


"Karena aku mencintaimu!"





TBC

__ADS_1


__ADS_2