
Rasa suka pada Anggara yang begitu besar, membuat Rengganis giat mempelajari semua hal tentang apa yang dia tidak ketahui.
Dia belajar tata cara table manner, berkeliling rumah menghafal setiap ruangan yang ada. Belajar bagaimana cara berpakaian, belajar mengoperasikan ponsel, kadang dia juga belajar menyetir meski hanya melihat supir dan dia duduk di kursi penumpang.
Banyak hal yang memang ingin dia lakukan agar bisa menyesuaikan dengan kehidupan yang dijalani Anggara.
Meski belum sepenuhnya bisa, tapi setidaknya Rengganis sudah bisa berpakaian sendiri tanpa dibantu oleh Amara.
Sudah dua bulan lamanya Rengganis tinggal di rumah itu, sampai detik itu dia belum tahu kapan dia akan menikah dengan Anggara.
Gadis itu sudah tidak sabar ingin segera menjadi istri pujaan hatinya. Namun, Bu Sari selalu bilang kalau dia belum bisa menikah dengan Anggara. Ada beberapa hal yang belum bisa Rengganis lakukan, yaitu pengetahuan dia belum banyak.
"Apa jangan-jangan ibu hanya ingin agar mas Anggara tidak berpacaran dengan wanita lain? Atau apa? Kenapa dia selalu menunda pernikahan kami? Apaa aku ini hanya dijadikan pagar agar mas Anggara terjaga dari perempuan di luaran sana?"
Rengganis terus saja sibuk dengan pikirannya sendiri.
Tok tok tok.
Binar itu selalu muncul saat bau parfum yang dia hafal dengan benar, mulai tercium. Rengganis segera membuka pintu kamarnya karena Anggara datang.
"Mas?"
"Lagi apa?"
"Emmm, gak ngapa-ngapain sih. Kenapa memangnya?"
"Jalan yuk."
"Jalan? Ke mana?"
"Jalan-jalan aja. Kita keliling kota, atau kita ngopi."
"Oke, Saya siap-siap dulu ya. Gak lama kok."
"Saya di depan ya, manasin mobil."
"Iya, Mas."
Dengan hati yang berbunga-bunga, Rengganis berdandan. Berkali-kali dia memutar badannya di depan cermin, memastikan tidak ada yang salah dengan apa yang dia pakai.
"Apa aku video call Amara aja ya? Emmm, jangan deh, takut dia lagi sibuk di jepang. Lagian aku gak tau di sana malam apa siang, katanya beda jam."
Sekali lagi Rengganis melihat wajahnya di cermin. Dirasa sudah pas, dia pun berjalan cepat menuju depan agar Anggara tidak terlalu lama menunggunya.
"Ayo, Mas."
"Seperti biasa, kamu selalu terlihat segar dan cantik."
Rengganis tersenyum malu.
Saat dalam perjalanan, mereka saling diam. Rengganis dengan perasaannya yang bahagia, sementara Anggara dengan pikirannya sendiri.
Semakin lama, semakin jauh mereka berjalan, Anggara masih tetap diam. Bahkan wajahnya terlihat begitu banyak yang sedang dia pikirkan.
"Mas." Akhirnya Rengganis memberanikan diri menyapa terlebih dahulu.
__ADS_1
"Hmm."
"Kita mau ke mana sebenarnya? Kita hanya jalan lurus mengikuti arah yang gak jelas."
"Saya juga bingung kita mau ke mana."
"Mas lagi banyak pikiran ya? Kelihatannya mumet banget."
"Hmmm. Namanya orang hidup, kalau gak ada yang dipikirkan ya namanya mati."
Rengganis menghela nafas dalam, dia merasa sedikit tersinggung dengan ucapan termasuk notasi Anggara saat berbicara.
"Kalau semisal lagi kesal, kenapa kita pergi sih, Mas? Kan bisa istirahat aja di rumah menenangkan diri. Saya yang gak tau apa-apa jadi kena imbasnya."
Anggara melirik sekilas. Sejenak kemudian dia terdiam, lalu mencoba menenangkan hati dan pikirannya.
"Maaf, ya." Anggara menoleh sambil berusaha tersenyum pada Rengganis. "Kamu memang tidak salah. Takdir dan keadaan yang membuat kita semua berada dalam posisi yang tidak menyenangkan."
"Ada apa, Mas?"
"Kita cari tempat dulu, nanti saya akan bicarakan semuanya sama kamu."
"Iya, Mas."
Perasaan Rengganis mulai tidak enak. Dia takut Anggara akan membicarakan hal yang tidak ingin dia dengar.
Anggara dan Rengganis duduk di sebuah kedai kopi sederhana yang berada di perkebunan teh di ujung kota.
"Gimana? Apa kamu sudah merasa sedikit terobati rindu kampungnya?"
"kenapa? Apa kamu tetap ingin pulang? Kalau iya, nanti saya antar."
"Sebenarnya saya sudah mulai betah di kota, rasanya ingatan tentang kampung halaman sudah mulai pudar."
Anggara mengangguk-angguk. "Bagus lah kalau begitu. Sebenarnya saya ke sini ingin membicarakan sesuatu sama kamu."
"Jika itu akan membuat saya sedih, jangan katakan apa-apa, Mas."
"Keduanya. Berita ini akan membuatmu senang tapi juga sedih. Bukan cuma kamu, tapi saya juga. Dan ada juga orang lain yang akan lebih sedih dari kita."
"Orang lain?"
"Nis, ibu sudah bicara pada saya tentang pernikahan kita. Rencananya dua pekan lagi pernikahan kita akan berlangsung."
"Benarkah?"
Anggara mengangguk. "Iya, semuanya sudah diatur oleh ibu. Kita terima beres saja. Cincin pernikahan pun bahkan sudah ibu siapkan, kita hanya perlu mencobanya. Baju pun sama, kita tinggal feeting saja. Gimana? Kamu seneng?"
Rengganis mengangguk bahagia.
"Sebelumnya saya mau minta maaf sama kamu, Nis."
"Maaf untuk apa, Mas? Tolong jangan buat saya menangis."
Anggara untuk pertamakali nya meraih jari jemari Rengganis. Menggenggamnya begitu erat sambil menatap Rengganis dalam-dalam.
__ADS_1
"Kita akan menikah, tapi saya tidak bisa memberikan hati saya buat kamu."
"Kenapa? Apa ada wanita lain yang sudah memilikinya?"
Anggara mengangguk lemah.
"Berarti selama ini mas punya pacar? Kenapa bohong sama saya dan bilang kalau mas gak punya pacar dan hanya punya saya calon istri mas."
"Saya tidak ingin kamu sakit hati, Nis."
"Mas pikir saya tidak sakit hati sekarang? Mas, jika mas katakan sejak dulu, mungkin saya tidak akan memupuk perasaan saya hingga berkembang seperti saat ini. Mas tau kan bagaimana saya menyukai mas?" ucap Rengganis sambil sesenggukan.
"Saya minta maaf."
"Saya malu tau, Mas. Ternyata setiap kebaikan mas selama ini hanya benar-benar karena mas baik. Tapi saya malah baper dan mengira bahwa mas juga suka sama saya. Mas tau kan setiap tindakan kecil yang mas lakukan pada saya membuat saya tersipu dan salah tingkah. Apa saat itu mas mentertawakan saya? Apa Amara juga merasa kasian pada saya saat itu? Apa saya sangat bodoh sampai kalian tega melakukan ini semua?"
"Bukan begitu, Rengganis."
Rengganis menarik kedua tangannya dari genggaman tangan Anggara.
"Saya tidak mau menikah dengan Mas."
"Nis, saya mohon jangan tentang keinginan ibu."
"Kenapa? Ingin hidup saya, ini hari saya, kenapa saya harus menuruti semua keinginan kalian. Tidak, pokoknya aku tidak mau menikah sama mas."
Tangisan Rengganis pecah.
"Nis,"
"Jangan deket-deket. Pokoknya saya tidak mau menikah sama mas."
Rengganis mendorong tubuh Anggara yang hendak mendekat padanya.
"Pulang sana. Saya mau sendiri. Pokoknya mas pergi sendiri sana." Rengganis mengusir Anggara seperti anak kecil.
Tidak ada yang bisa Anggara lakukan selain membiarkan Rengganis menangis. Dia butuh waktu untuk mengeluarkan rasa kesal dan sakit hatinya.
Lama menangis membuat Rengganis lelah, hingga dia pun berhenti.
"Sayang."
Tiba-tiba seseorang muncul. Rupanya Anggara mengundang kekasihnya untuk datang.
"Sayang? Apa wanita ini pacar kamu, Mas?"
Anggara diam.
"Hai, kamu pasti Rengganis kan? Aku Santika." Wanita itu mengulurkan tangan. Rengganis dengan polosnya menyambut ukuran tangan itu.
"Ternyata kamu masih anak kecil ya, lucu tau. Mana cantik lagi."
Rengganis menyeka air matanya. Wanita yang memperkenalkan diri sebagai Santika itu duduk di samping Rengganis.
__ADS_1