Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Putus asa


__ADS_3

Rengganis menarik nafas dalam-dalam saat dia sudah berada di depan gerbang. Sementara Singha menunggu di dalam mobil. Dia tidak ingin pergi meski Rengganis meminta, Singha ingin memastikan jika Rengganis bisa masuk ke dalam rumah itu.


Gerbang terbuka perlahan.


Rengganis membalikan badan, memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja. Setelah merasa lega, Singha lalu pergi.


Tidak ada siapa-siapa di dalam rumah itu, sepi. Rengganis masuk ke kamar dan ternyata Anggara baru selesai mandi.


Mereka saling bertatapan, lalu pria itu memalingkan pandangannya. Dia mengabaikan Rengganis.


"Mas, ayo kita bicara. Aku akan menjelaskan semuanya sama kamu, Mas."


Anggara tetap diam.


"Jangan begini, Mas. Aku mohon katakanlah sesuatu. Kalau memang marah, ayo marahin aku. Tapi jangan diem aja." Rengganis mencoba menarik tangan Anggara agar dia menghadap padanya. Akan tetapi, Anggara menepis tangan Rengganis dengan kasar.


Rengganis menangis sambil menundukkan kepala.


"Mas ... Hanya karena satu kesalahan kecil, kamu begitu marah padaku. Apa ini adil? Aku saja memaafkan setiap kesalahan dan rasa sakit yang kamu berikan, kenapa kamu tidak bisa melakukan hal yang sama?"


"Kamu sedang belas dendam maksudnya?"


"Bukan balas dendam, hanya saja aku merasa mas keterlaluan. Kesalahan kecil yang aku lakukan begitu saja menghapus segalanya. Kamu jahat, Mas."


"Aku memang jahat, lantas kamu menyesal, begitu?"


"Bukan menyesal, Mas. Aku cuma ingin kamu bisa memaafkan aku, itu saja."


"Aku memang melakukan kesalahan yang besar sama kamu, ya aku bahkan menghamili wanita lain tapi aku tidak melakukannya di hadapan kamu bukan? Lalu kamu? Kamu begitu menikmati setiap kecupan yang dia berikan. Menjijikan!" Anggara berbicara dengan nada tinggi.


"Aku cuma ...."


"Cuma apa? Menikmati?"


Rengganis tidak bisa menjawab selain dengan isak tangis. Dia tidak bisa memungkiri jika dirinya pun memang menikmati apa yang dia lakukan bersama Singha.


"Aarrggghhh!"


Pranggggg!


Anggara memecahkan kaca meja hias di kamar mereka. Rengganis menjerit histeris karena terkejut. Punggung tangan Anggara terluka karena terkena pecahan kaca tersebut.


"Mas, tangan kamu terluka, sini aku ... Awwww!" Rengganis yang hendak menghampiri Anggara, terkena pecahan kaca juga di bagian telapak kakinya.


Anggara yang sudah kesal, tidak memperdulikan luka pada kaki istrinya. Dia pergi keluar dari kamar.


Melihat sikap suaminya, hati Rengganis semakin sakit. Dia pergi ke kamar mandi untuk mencuci darah yang ada di kakinya. Jelas terlihat ada pecahan kaca yang cukup besar menancap di sana.


"Aaaaaw." Rengganis meringis saat dia mencabut serpihan kaca itu.


"Mba, ada ap--" Amara tidak melanjutkan ucapannya saat melihat kondisi kamar kakaknya, terlebih dia melihat bercak darah di atas lantai.


"Mba, Lo di mana?" Amara berteriak. Dia mengikuti jejak darah itu hingga ke kamar mandi.

__ADS_1


"Astagaaaa, Rengganis! Tolooong!".Amara berteriak histeria saat melihat Rengganis sudah tergeletak di kamar mandi dengan pergelangan tangan luka robek. Lantai marmer itu pun sudah tidak terlihat lagi motifnya tertutup darah yang bercampur air.


"Mba, bangun. Mba! Tolooooong, siapa saja tolooooong."


Mendengar teriakkan Amara, beberapa pelayan segera berlari ke atas. Mereka sama histerisnya dengan Amara saat melihat kondisi Rengganis.


"Tolong siapkan mobil, minta supir siapa saja ayo!"


Sambil menangis, Amara dan tiga pelayan lainnya membopong tubuh Rengganis.


"Kak Anggara mana?"


"Tuan pergi, Non."


"Ayo bawa Rengganis ke rumah sakit," ucap Amara panik. Dia membalut tangan Rengganis dengan handuk, agar darahnya tidak banyak keluar meski dirasa sangat percuma karena semakin lama, handuk itu semakin basah.


"Cepet, Pak. Ngebut!" Amara meneriaki supir sambil menangis sesenggukan.


"Mba, Lo kenapa nekad begini sih? Kalian kenapa sih gak ada yang dewasa satu pun?"


Amara mencari ponselnya lalu hendak menelpon Rangga, namun dia lupa jika ponselnya tertinggal di kamar.


"Kita sampai, Non."


Mobil parkir di depan pintu UGD.


"Pak, tolong pasien gawat darurat," ucap supir pada satpam yang menjaga pintu UGD. Mereka langsung membawa bed, lalu menurunkan Rengganis dari mobil.


Melihat handuk putih yang sudah merah, para petugas langsung berlarian menghampiri Rengganis untuk memberikan pertolongan.


"Aku harus menghubungi siapa? Kak Anggara?"


Amara mendekati meja pelayanan guna meminta bantuan yaitu meminjam telpon rumah sakit untuk menghubungi Anggara.


"Angkat dong, Kak!"


Dua kali, tiga kali, tetap tidak ada tanggapan. Itu membuat Amara begitu frustasi.


"Tolong carikan darah golong B, pasien membutuhkan transfusi!" seorang petugas yang ada di dalam tirai berteriak. Seketika ras panik Amara semakin meningkat.


"Ada apa? Mba ... Mba ...." Amara mencoba masuk ke dalam, namun ditahan oleh seseorang.


"Jangan masuk, kamu hanya akan membuat mereka terganggu."


"Tapi, dok. Dia kakak saya."


"Saya tau. Kamu tetap di sini, biar kami yang menanganinya."


Amara mengangguk. Dokter yang baru saja datang itu masuk ke dalam. Lalu dia kembali lagi menghampiri Amara.


"Dia kakak kamu? Rengganis bukan?"


"Dokter kenal?"

__ADS_1


Izza mengambil ponselnya lalu segera menelpon kakaknya.


"Aku adik Singha."


"Apa tadi dokter memberitahu Singha? Dokter kenal Rangga juga? Tolong sekalian suruh dia kemari."


"Rangga? Kamu kenal?"


"Ya, aku pacarnya. Tolong telpon dia, saya gak bawa ponsel, Dok."


Izza tersenyum tipis, lalu dia kembali menelpon dan meminta Rangga segera ke rumah sakit.


"Dok, tolong selamatkan kakak saya. Jangan sampai terjadi sesuatu padanya."


"Dokter lain sedang menanganinya. Dia akan selamat jika darah nya tersedia, dan aku rasa masih banyak. Jadi, aman lah ya."


Amara bernafas lega.


"Aku tinggal ya, tunggu saja di sini nanti Rangga akan segera datang."


"Makasih, Dok."


Setelah tigapuluh menit, Singha datang, disusul Rangga yang juga muncul dari belakangnya.


"Mana Rengganis?"


"Tadi dia dibawa ke ruang operasi. Katanya nadinya hampir putus jadi harus segera di operasi."


"Hey, kamu. Kemari." Singha menunjuk salah satu petugas di sana. Orang itu segera berlari menghampiri.


"Iya, Pak."


"Siapa yang mengoperasi pasien atas nama Rengganis."


"Saya lihat rekam medisnya dulu, Pak."


"Kelamaan!" Singha segera berlari menuju ruang operasi disusul Amara dan Rangga. Tidak ingin menunggu terlalu lama, Singha pun masuk.


"loh, kok dia bisa masuk? Bukannya gak boleh sembarang orang masuk ke ruang operasi?"


"Ini rumah sakit milik ayahnya. Jadi, dia bebas mau ngapain juga."


Amara menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan kedua telapak tangannya.


Singha keluar.


"Gimana, Bro?"


"Tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Syukurlah," ucap Amara.


Singha menghampiri Amara, dia berdiri di hadapannya sambil menatap Amara tajam.

__ADS_1


"Katakan ... Apa yang sebenarnya terjadi pada Rengganis?" tanyanya dengan nada yang sangat pelan namun penuh amarah.


__ADS_2