
"Besok kita ada acara di keluarga Santika. Acara gender reveal. Cuma kita gak diminta pakai baju pink atau biru. Kita pakai kostumnya hitam."
"Hitam? Ini acara gender reveal atau belasungkawa sih?"
"Izza!" Maria kesal. "Satu hal lagi, bilang sama Singha ajak Rengganis sekalian. Mumpung keluarga pada kumpul, biar kenalan sekalian deh."
"Wooow, mami udah merestui mereka?"
"Belum pasti, kita lihat saja nanti."
"Oke, nanti Izz kasih tau kakak."
"Di mana mereka sekarang ?"
"Di satu tempat rahasia."
"Ya sudah. Sampaikan saja itu dari mami."
Izza mengangguk senang.
Keesokan harinya. Keluarga berkumpul di rumah orang tua Santika. Termasuk teman-teman Singha. Acara keluarga yang hangat dan penuh keceriaan meski orang-orang berpakaian serba hitam.
Rengganis datang bersama Singha. Begitu mereka datang, semua mata tertuju padanya. Keluarga terkejut melihat Singha yang selama ini selalu menolak untuk menikah lagi, membawa seorang wanita.
Wanita cantik dan muda.
"Mba."
Rengganis menghentikan langkahnya saat melihat seseorang melambaikan tangan.
"Amaraaaa ...."
Mereka berlari saling menghampiri satu sama lain. Melepaskan kerinduan yang mendalam setelah sekian lama berpisah.
"Jang nangis, gak boleh nangis. Nanti make up gue luntur," gurau Amara saat mereka saling berpelukan.
"Apa kabar, Ra?"
"Gak baik. Setelah Mba pergi, gue beneran kacau. Terutama karena bestie yang sebenarnya best*i itu. Beuhhhh mumet pokonya."
"Kita ngobrol sambil duduk yuk." Singha mengingatkan mereka yang lupa diri karena keasikan ngobrol.
"Hai, lama tidak bertemu. Kamu tau, calon istriku ini sangat merindukan kamu, Rengganis."
"Hai, Rangga. Akhirnya kalian sampai di titik ini, ya."
"Ya, siapa sangka." Lalu dia mengambil gelas minumannya.
__ADS_1
"Kalian berdua memang mengejutkan kami semua. Tau-tau saling menjalin hubungan, ck. Kitanya kapan?"
"Kenan, kamu itu terlalu pemilih dalam mencari pasangan. Makanya jomblo terus. Kebanyakan milih," ujar Athala.
"Bukan kebanyakan milih, tapi karena memang tidak ada yang bisa dipilih, iya kan? Alias gak laku." Ucapan Rey selalu saja nyelekit.
"Ini ... Ngomong-ngomong kenapa kalian memakai kacamata yang sama?" tanya Amara.
"Lumayan, properti konser band kemarin."
"Jujur banget Lo, Athala."
"Ya kalau gue bilang ini beli, berarti selera kita norak, Kenan."
"Tapi cocok sih dipake kalian. Barang murah tapi gak murahan," ujar Rengganis.
"Tergantung siapa yang pakai, Sayang."
"Hadiah ciki? Apa itu? Terdengar seperti hal yang menjijikan."
Semua orang terdiam. Mereka berpura-pura seolah tidak mendengar apa yang diucapkan Santika dan memilih menyibukkan diri dengan aktifitas sendiri-sendiri.
"Acara segera dimulai, ayo kita pergi."
Rengganis memejamkan matanya saat mencium aroma parfum yang dipakai oleh Anggara.
Dia berusaha bersikap setenang mungkin meski hatinya begitu gelisah. Dia bahkan bingung harus menoleh pada Anggara atau tidak.
"Kayak tau aja hadiah ciki isinya apa, pake jijik segala." Amara menimpali ucapan Santika.
"Apa kabar kamu? Aku dengar kamu mendekati Singha. Hebat, ya. Kehilangan permata mendapatkan berlian. Beruntung sekali nasib kamu meski berasal desa."
"Bagus dong. Gadis desa tapi bisa mengalahkan gadis kota." Amara kembali menimpali.
Rangga memegang tangan kekasihnya agar gadis itu tetap diam.
"Kamu ingin aku membuat kekacauan di sini? Coba saja," ucap Singha.
__ADS_1
"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan menggangu wanitamu lagi. Lagi pula dia akan jadi keluarga kita, jadi aku akan berusaha untuk bersikap akur dengannya. Bukan begitu, Rengganis?" tanya Santika sambil berlalu.
Singha hampir marah saat Santika mengibas-ngibaskan rambut Rengganis hingga berantakan.
"Jangan." Rengganis menahan Singha agar tetap duduk.
"Ngeselin banget sumpah. Mana gue tahan bisa satu rumah sama dia. Ngeselin!"
"Satu rumah?" tanya Athala.
"Iya, habis lahiran dia mau tinggal di rumah gue. Mana kamar Kak Anggara dirombak habis-habisan sama dia, hanya karena pernah menjadi kamar Rengganis dan kakak dulu. Lebay banget sih tuh wanita."
Singha mengeratkan gigi saat mendengar kata 'kamar Rengganis dan Anggara '. Rengganis paham, maka dari itu dia meraih tangan Singha, lalu menggenggamnya erat.
Singha tersenyum.
Acara inti pun dimulai. Akan ada helikopter yang terbang untuk menaburkan warna yang menandakan bayi itu perempuan atau laki-laki.
"3 ... 2 ... 1 .... Go!"
Pesawat itu menebarkan warna biru dan merah mudah sekaligus.
"Twins!" Ayah Santika bersorak gembira. riuh tepuk tangan pun bergemuruh. Semua orang berbahagia untuk calon ayah dan ibu muda itu.
Acara gender reveal dilakukan menjelang Santika melahirkan. Selama ini dia terus menahan diri untuk tidak menanyakan perihal jenis kelamin pada dokter. Dia juga tidak memberitahu keluarga tentang janinnya yang kembar.
Rengganis pun bertepuk tangan meski dia merasa dada nya agak sedikit sesak. Bagaimana tidak, dia teringat masa lalu saat dia masih menjadi istri Anggara.
"Kalau kalian mendapatkan anak, ibu ingin sekali mendapatkan cucu kembar. Sepertinya akan sangat lucu. Ada dua bocah kecil yang akan menghangatkan rumah ini."
"Doakan saja ya, Bu."
"Aku akan berusaha sekuat mungkin agar istriku ini hamil dan mendapatkan anak kembar," ujar Anggara penuh semangat.
Mereka tertawa. Saat itu Anggara memeluk dan mencium istrinya dengan rasa bahagia.
Bu, ibu mendapatkan cucu kembar sesuai keinginan ibu. Meski mereka bukan berasal dari rahimku, tapi dia tetep cucu ibu. Cucu yang akan membuat rumah ibu hangat dan ramai.
Mata Rengganis berlinang.
"Tuh, Ibu lihat sendiri kan? Rengganis terlihat sedih melihat kebahagiaan Santika. Itu artinya dia masih ada rasa untuk Anggara. Kali gimana dengan perasaan Singha? Apa dia cuma pelarian doang?" bisik Maria.
Oma yang melihat reaksi Rengganis saat itu mulai sedikit goyah. Bagaimanapun sukanya Oma pada Rengganis, tapi dia tidak ingin jika cucunya tersakiti.
"Feeling seorang ibu itu tidak akan melenceng. Aku juga suka sama Rengganis, andai saja dia bukan mantan istri Anggara. Janda bukan masalah, tapi ini ... Sudahlah."
Oma tidak suka melihat reaksi Rengganis. Dia pergi ke dalam rumah meninggalkan acara cucu perempuan kesayangannya.
Maria tersenyum puas karena Oma mulai berada di pihaknya.
Aku tidak akan membiarkan kamu menikah dengan anakku, Rengganis. Dia akan menikah dengan anak sahabatku, Renata.
__ADS_1