
Hampir 1 jam lebih Anggara berbicara dengan seseorang di telpon. Kegiatan setiap malam yang selalu dia lakukan sebelum tidur. Deep talk, menemani seseorang agar dia bisa tertidur di sebrang sana.
Lama melakukan panggilan tanpa menggunakan ear phone, membuat telinga Anggara terasa panas dan tidak nyaman.
Melihat jam dinding di tembok kamar, ternyata malam sudah larut. Anggara bersiap untuk tidur. Namun, dia kembali terbangun saat teringat sesuatu.
"Dia benar-benar tidur di sofa," gumam Anggara. Pria itu turun sambil membawa selimut.
Wajah Rengganis terlihat sangat polos saat terlelap. Masih ada sedikit bekas. Luka di dekat bibirnya. Lengan bagian atasnya pun masih terlihat sedikit membiru yang telah pudar.
"Ibu ...."
Langkah Anggara yang hendak pergi setelah menyelimuti tubuh Rengganis, terhenti. Dia mendengar gumaman Rengganis yang sepertinya mengigau.
Anggara kembali membalik badan. Lama dia menatap wajah gadis itu. Ada rasa iba yang begitu besar untuk Rengganis.
"Kenapa harus gadis ini, Bu? Dia terlalu menderita jika harus masuk ke dalam permainan ibu." Anggara bergumam sambil menatap wajah Rengganis dari dekat.
Tangannya refleks merapikan anak rambu yang menghalangi mata gadis itu.
"Apa kamu sudah punya rasa untuk dia?"
Anggara berusaha tetap tenang meskipun dia merasa terkejut.
"Belum tidur, Bu?" tanyanya basa-basi.
"Ada apa? Ibu lihat kamu sepertinya begitu baik dan perhatian pada Rengganis. Kenapa? Kamu sudah bisa melupakan perempuan itu?"
"Bersikap baik pada seseorang bukan berarti bisa melupakan yang lainnya. Apa salahnya? Rengganis harus aku lindungi dari rencana ibu yang entah apa itu."
"Anggara ..."
"Kenapa harus gadis sepolos dia, Bu?"
"Karena kepolosannya itu lah ibu suka sama dia. Dan ya, dia itu lugu dan baik. Dia akan jadi istri yang penurut nantinya."
"Agar bisa ibu kendalikan semau ibu?"
"Ternyata kamu masih juga tidak mengerti. Baiklah, ini sudah malam. Ibu ingin istirahat. Bukankah kamu besok akan membawa dia berbelanja? pakai saja kartu debit atau kartu kredit ibu. Itung-itung hadiah untuk Rengganis."
Anggara mengepalkan tangannya tanda dia menahan amarah yang cukup besar.
Keesokan harinya.
"Ini." Amara memberikan baju pada Rengganis. "Tadi malem kenapa Lo tidur di sofa?"
"Semalam kunci kamar saya rusak. Tadinya mas Anggara minta saya tidur di kamarnya, tapi saya gak mau dan milih tidur di sofa."
"Ngarang kamu. Mana bisa kakak minta kamu tidur di kamarnya. Orang rumah saja tidak ada yang dia izinkan buat masuk ke kamarnya termasuk aku."
"Kan aku calon istrinya."
__ADS_1
"Iya, gue ngerti. Tapi kan baru calon, belum jadi istri kok bisa-bisanya sih kakak dengan begitu mudahnya ngajak kamu ke kamar."
"Saya juga gak tau kenapa. Oh, iya. Ini apa?"
"Baju. Itu baju gue yang udah gak kepake. Lo mau pergi kan sama kakak? Gue gak akan mungkin Lo pergi dengan pakaian jelek kayak gitu. Bikin malu tau."
Rengganis tersenyum saat melihat baju yang diberikan Amara ternyata sangat bagus.
"waaaah, makasih ya. Bajunya bagus banget."
"Lo seneng banget dikasih baju bekas."
"Yang penting layak," jawabnya sambil tidak hentinya tersenyum.
"Udah, buruan pake. Nanti gue bantuin Lo dandan juga."
Rengganis mengangguk penuh semangat. Dia pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
"Ternyata Lo cantik juga kalau didandanin. Ibu memang pintar nyari berlian meski tertutup lumpur sekalipun."
Rengganis terdiam melihat pantulan dirinya di cermin. Dia tidak mengenali dirinya sendiri.
"Heh, kenapa bengong? Buruan keluar, kita makan dulu baru pergi."
"Ra, kita pergi bersama ya."
"Kan katanya kamu gak suka dipanggil Mba. Sebenernya ini juga manggilnya butuh tenaga yang besar."
"Tenaga, ha ha ha. Memangnya berat banget sampe harus pake tenaga, dikira mau boxing kali. Keberanian maksud Lo?"
"Iya, itu. He he he."
"Kenapa ngajak gue?"
"Saya gugup pergi berdua sama mas Anggara. Saya deg-degan."
Amara menatap Rengganis penuh selidik. "Lo suka sama kakak gue?"
Rengganis tersenyum malu-malu.
"Astagaaa, baru ketemu berapa hari udah jatuh cinta aja. Yaaa, tapi gak aneh sih, secara kakak gue emang ganteng. Wajah sih."
"Mas Anggara itu wangi," ucapnya tersipu.
"Ciiih, dasar. Udah, ah. Ayo makan dulu, entar gue ikut bareng kalian. Biar gue juga bisa bantuin Lo pilih."
"Asssiik, makasih ya, Ra." Rengganis merangkul tangan Amara.
"Paan sih, jangan sok akrab deh." Rengganis menepis tangan Rengganis. Namun, tidak ada sedikitpun rasa tersinggung di hati Rengganis atas sikap Amara.
__ADS_1
"Nah, begitu kan cantik." Bu Sari memuji calon menantunya. "Gimana, menurut kamu Anggara?" tanya Bu Sari pada anaknya yang asik makan.
Anggara menoleh pada Rengganis. "Dia memang dasarnya cantik," ucapnya lalu kembali makan.
Mendengar ucapan Anggara, Rengganis kembali tersipu.
"Apaan sih Lo? Bisa gak sih tahan dikit perasaan Lo itu? Di depan cowok tuh jangan terlalu nunjukin kalau kita suka. Tahan harga dong," bisik Amara pada Rengganis.
Namun, Rengganis tidak mengindahkan ucapan Amara.
Sarapan selesai. Amara pergi menuju kamar untuk berganti pakaian karena dia awalnya memang tidak akan pergi kemana-mana. Sementara Rengganis dan Bu Sari duduk di ruang keluarga.
"Gimana? Kamu betah di sini?"
"Emmm, lumayan sih Bu. Tapi saya lebih suka menjaga toko di warung ibu."
"Saya ngerti, kamu pasti akan sulit melupakan tempat kelahiran kamu, yaaa meski banyak kenangan buruknya di sana."
"Bu, kapan saya menikah dengan Mas Anggara?"
"Eh, kenapa? Kamu gak sabar pengen nikah sama anak saya?"
"Bu-bukan begitu. Saya hanya ingin tau saja, Bu."
"Kamu baru satu hari di rumah ini. Banyak hal yang harus kamu pelajari sebelum menjadi istri anak saya. Anggara itu berpendidikan, kenalan dia bukan orang sembarangan. Kamu harus bisa menyesuaikan diri. Harus bisa mengimbangi."
"Kenapa ibu milih saya yang bodoh ini buat mas Anggara yang sempurna itu, Bu?"
"Karena kamu baik. Itu yang paling penting. Kamu itu punya hati yang tulus, kamu itu sabar. Pintar itu bisa belajar, tapi tentang sifat ... Itu bawaan."
"Kadang saya merasa minder, Bu. Melihat Amara saja sudah membuat saya cukup sadar jika saya dan mas Anggara memang tidak sebanding."
"Kamu hanya perlu menjadi istri yang baik, menantu yang nurut, dan kakak ipar yang bisa menjadi teman untuk Amara. Lambat laun, kamu pun pasti akan bisa menyesuaikan. Butuh waktu, tapi kita harus sabar."
"Tapi kalau mas Anggara sudah punya pacar, gimana?"
"Itu urusan saya."
"Berarti mas Anggara memang sudah punya pacar ya, Bu?"
"Itu ..."
"Saya tidak punya pacar, Nis. Yang saya punya saat ini adalah calon istri, yaitu kamu. Jangan mikir yang aneh-aneh, oke." Tiba-tiba Anggara muncul.
"Udah siap semua? Yuk!" Amara pun datang di saat yang bersamaan.
"Kamu mau ke mana, Nak?" tanya Bu Sari.
"Mau cosplay jadi nyamuk," jawabnya sambil pergi.
__ADS_1