Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Dua kabar buruk


__ADS_3

"Pakai baju apa, Mas?"


Anggara diam.


"Mas, tunggu sebentar." Rengganis menarik lengan suaminya. Mereka saling menatap satu sama lain.


"Ada apa? Kenapa mas diem aja dari semalam? Apa aku punya salah?"


"Kamu merasa?"


"Enggak. Makanya aku nanya karena aku bingung, aku didiemin tanpa tahu alasannya. Ada apa?"


Anggara menarik nafas.


"Jujur, aku sendiri memang tidak setia tapi kamu tahu sendiri bukan kalau aku memang memiliki hubungan dengan wanita lain. Tapi kamu? Apa kamu mulai mencintai orang lain? Diam-diam kamu pergi dengan pria lain dan itu bukan untuk yang pertama kalinya."


"Aku ngerti maksud kamu sekarang."


"Aku bukan egois, tapi aku benar-benar tidak suka kamu pergi dengan pria lain. Hatiku sakit."


"Kamu cemburu, Mas?"


"IYA! AKU CEMBURU."


Rengganis tersenyum lebar mendengar ucapan suaminya. Dia memeluk Anggara dengan erat.


Anggara yang semula marah, kini mulai melunak. Dia membalas pelukan istrinya dalam keadaan telanjang dada dan hanya memakai handuk, badannya pun masih sedikit basah karena baru saja keluar dari kamar mandi.


"Kau masih berusaha untuk melepas Santika, perlahan tapi pasti akan aku lepas. Tolong, kamu jangan malah pergi dengan pria lain."


"Kami bertemu untuk kedua kalinya secara tidak sengaja, Mas."


"Kebetulan yang sangat menyebalkan."


Rengganis terkekeh-kekeh.


"Hari ini jangan kemana-mana, pokoknya kamu temani aku kerja."


Sungguh diluar dugaan, Rengganis tidak menyangka Angga akan membawanya ke tempat kerja. Untuk pertama kalinya. Itu artinya dia akan bertemu dengan rekan kerja dan karyawan Anggara.


Aku akan diperkenalkan pada semua orang jika aku ini istrinya?


Rengganis berdandan lebih cantik dari hari biasanya. Dia tidak ingin Anggara malu. Memilih pakaian yang paling bagus.


Sepanjang jalan, Anggara tidak lepas menggenggam tangan istrinya, sementara tangan yang satunya sibuk dengan laptop.


"Mas, kita mau ke mana? Kamu tumben gak pake jas?"


"Kita bukan ke kantor, kita akan ke tempat lapangan. Kamu lupa, hari ini weekend. Kantor tutup."


"Oh." Ada perasaan sedikit kecewa karena ternyata mereka bukan pergi ke kantor. Sebuah gedung tinggi dan banyak anak buah, itulah yang dipikirkan Rengganis. Meski begitu, dia tetap senang karena intinya dia diajak bekerja oleh Anggara.


Mereka sampai di sebuah gedung yang tidak terlalu besar. Entah apa yang ada di dalamnya. Saat mereka masuk, ada beberapa orang yang sedang fokus pada layar laptop .Mungkin ada sekitar lima belas atau dua puluh orang di sana.


Saat melihat Anggara, mereka semua langsung meninggalkan layar laptop itu dan berdiri menyambut kedatangan Angga dan istrinya.


"Kenalkan, ini Rengganis. Dia istri saya,," ucap Anggara menekankan Rengganis setelah para karyawannya menyapa.


"Halo, Bu."

__ADS_1


Rengganis mengangguk ramah.


"Sayang, kamu duduk dulu di sana ya. Aku kerja dulu sebentar."


Sayang? Mas Anggara manggil aku aku sayang?


"Iya, Mas."


Bahkan sebelum Rengganis pergi, Anggara mencium kepalanya di hadapan semua orangnya.


Rengganis kembali tersipu dan berdebar. Rasa sakit hatinya karena tahu dia pergi bersama Santika, sirna seketika.


Mata Rengganis tidak memberikan jeda dan terus menatap suaminya yang sedang fokus bersama yang lainnya.



Aku tahu, Mas. Kamu pasti sudah merasa nyaman denganku bukan? Sementara hatimu masih pada wanita itu. Apa kamu terluka? Apa kamu menderita? Apa kehadiranku membuat kamu tertekan dengan pilihan yang sangat sulit kamu pilih. Mas, aku ingin melihat kamu bahagia, tapi jika bahagiamu dengan dia, aku tidak rela. Aku harus bagaimana sekarang?


Rengganis segera menyeka air matanya. Dia tidak ingin Anggara melihat kesedihan di wajahnya takut membuat Anggara kehilangan fokus kerja.


Ponsel Rengganis berbunyi. Notifikasi sebuah chat masuk.


//Mba, di mana?//


//Aku sedang menemani mas Anggara kerja. Kenapa?//


//Syukurlah, jangan pulang dulu ya. Kalau perlu kalian kembali saja dua hari lagi.//


Membaca chat dari Amara, Rengganis tau ada yang sedang terjadi di rumah. Meski dia tidak tahu apa yang sedang terjadi.


//Ponsel kakak ambil aja, Mba. Matiin kalau perlu.//


Amara kembali mengirim chat.


//Ibu mas Anggara datang ke rumah.//


Deg!


Rengganis tegang mengetahui apa yang sedang terjadi di rumah. Dia segera berdiri, menghampiri Anggara lalu mencoba meminjam ponsel suaminya.


Ponsel Anggara sudah di tangan. Rengganis mencoba mematikan ponselnya, hanya saja di saat yang bersamaan sebuah notif dari lovely masuk. Rasa penasaran yang begitu besar membuat Rengganis membuka chat tersebut.


//Sayang, kamu di mana? Jadi kan hari ini nemenin aku periksa kandungan?//


Langit terasa runtuh seketika. Bumi yang dipijak terasa tidak lagi mampu menopang kakinya.


Tubuh Rengganis lemas, dia duduk di lantai dengan tubuh bergetar hebat. Air matanya terasa sulit untuk keluar, aliran nafasnya tersendat.


"Sayang." Anggara yang melihat istrinya ambruk, segera berlari menghampirinya.


"Nis, kamu kenapa?" tanya Anggara yang segera merangkul istrinya dan mencoba membantu dia untuk bangun.


"Pergi," bisiknya.


"Ada apa?" tanya Anggara heran.


"Jangan sentuh aku!" Rengganis mendorong tubuh suaminya hingga dia terjungkal.


Rengganis melempar ponsel Anggara dengan begitu keras mengenai wajah suaminya, hingga hidung Anggara berdarah.

__ADS_1


Tanpa mengatakan apapun, Rengganis pergi meninggalkan suaminya. Anggara sendiri tidak berusaha mengejar. Dia hanya duduk karena masih syok dengan apa yang baru saja terjadi.


Anggara mengambil ponselnya, lalu dia melihat chat dari Santika yang masih terbuka. Kini Anggara mengerti apa yang terjadi. Dia segera berlari untuk mengejar Rengganis.


"Nis, sayang." Anggara berlari kesana-kemari mencari istrinya, tapi Rengganis sudah tidak nampak. Entah kemana dia pergi.


Anggara masuk ke dalam mobil, dia pergi untuk mencari Rengganis. Setelah mobil itu pergi, Rengganis keluar dari persembunyiannya. Setelah itu dia kembali berjalan untuk mencari taksi.


"Mau ke mana, Mba?" tanya supir taksi.


"Ke mana saja, Pak."


Supir itu merasa heran, dia tidak menjalankan mobilnya dan masih menunggu arah pasti dari penumpangnya.


"Ke pantai saja, Pak. Bawaan saya ke sana."


"Iya, Mba."


Baru setengah perjalan, mereka berhenti.


"Kok berhenti, Pak? Kita kan belum nyampe ke pantai."


"Mobil saya sepertinya mengalami masalah. Saya cek dulu sebentar, Mba."


Sopir itu turun.


Lama menunggu belum juga berhasil memperbaiki mobilnya, Rengganis ikut turun.


"Pak, saya turun di sini saja. Ini ongkosnya."


"Saya ambil kembaliannya ya, Mba."


"Gak usah, Pak. Buat bapak aja."


"Duuh, saya jadi gak enak mba. Mobil saya mogok tapi mba malah ngasih tips sama saya."


"Namanya juga musibah, Pak. Kita gak ada yang tau, bukan salah bapak."


"Iya, Mba. Semoga rezeki mba diganti berlipat, semoga mba bahagia dan sehat selalu."


"Aamiin, makasih Pak."


Rengganis memutuskan untuk berjalan kaki hingga dia menemukan halte untuk menunggu bis.


Tdididdd.


Sebuah mobil menghampiri Rengganis.



Rengganis menoleh. Mobil itu berhenti. Lalu seseorang turun.


"Singha?"


"Kenapa jalan kaki?"


Rengganis menoleh ke arah taksi yang tadi dia tumpangi.


"Ayo ikut."

__ADS_1


"Selalu saja merepotkan."


Singha tidak menimpali, dia membukakan pintu untuk Rengganis. Wanita itu masih diam, dia ragu untuk ikut bersama Singha. pria itu memberikan isyarat dengan kepalanya agar Rengganis masuk.


__ADS_2