Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Keajaiban


__ADS_3

Pria itu menyimpan piringnya. Dia berbisik pada wanita yang ada di kursi roda. Setelah itu dia berjalan menghampiri Rengganis.


"Ma-maf. Tadi saya tidak sengaja ke sini. Tadi saya sedang--"


"Siapa nama kamu?" tanya pria itu memotong ucapan Rengganis.


"Saya Rengganis, Pak."


"Sudah berapa lama kamu kenal dengan anak saya? Sudah berapa jauh hubungan kalian?"


"Bapak salah faham. Hehe. Saya dan Kenan Hanya berteman."


"Tapi Kenan tidak mungkin membawa teman wanitanya ke rumah ini jika bukan orang yang spesial di hatinya. Saya tau bagaimana anak saya."


"Tapi kami benar-benar hanya berteman, Pak."


"Kenapa berbohong? Darimana asal kamu?"


"Saya ....". Rengganis bingung mau menjawab apa. Haruskah dia mengatakan dia berasal dari kampung tempat dia dilahirkan, atau mengatakan jika dia berasal dari pegunungan di rumah pemberian Bu Sari.


"Selama Kenan bahagia, saya tidak akan mempermasalahkan latar belakang kamu. Jadi, tolong jaga putra saya baik-baik."


"Bapak yakin? ayah saya bahkan seorang pesakitan sekarang ini."


Pria itu tersenyum tipis. "Buka kamu 'kan yang jadi pesakitannya?" tanya pria itu sebelum dia kembali ke samping isterinya.


Benarkah dia tidak mempermasalahkan siapa diriku? Saat yang lain memandangku sebelah mata, orang tua Kenan malah menerimaku dengan terbuka.


"Sedang apa kamu di sini?" tanya Kenan setelah dia menemukan Rengganis. "Aku cari kamu ke sana sini, malah di sini rupanya."


"Aku tersesat ... lagi."


...***...


Setelah sepekan Rengganis tinggal, ada perubahan yang terjadi di rumah itu. Ayah kenan beberapa kali ikut makan malam bersama mereka. Dia bahkan sering berbicara dengan Kenan dan Rengganis.


"Kamu benar-benar membawa kebaikan di keluarga ku, Rengganis. Aku bersyukur karena kini papa mau makan malam denganku. Aku tidak kesepian lagi."


"Membawa kebaikan ... Aku tidak yakin dengan hal itu."


"Lihat saja, papa kini mulai berubah. Biasanya dia hanya bertanya tentang pekerjaan padaku. Tapi sekarang ... Dia menanyakan bagaimana hariku. Aku sangat bahagia."


Semua orang sama-sama memiliki ujian hidup, hanya kadar dan caranya saja yang berbeda. Kenan hidup berlimpah tapi tidak mendapatkan perhatian orang tuanya. Anggara dan Amara mendapatkan orang tua yang baik, juga harta yang melimpah tapi ditinggal pergi begitu saja.

__ADS_1


Sementara Singha? Dia ditekan dalam masalah hati dan pernikahannya.


Lalu ada Rengganis yang tidak memiliki keduanya.


Malam ini, Kenan izin untuk tidak pulang ke rumah. Dia dan temannya harus mengurus proyek mendebutkan artis baru mereka.


Meski sedih karena Rengganis akan merasa kesepian, wanita itu hanya bisa mengiyakan. Sudah bersyukur ditampung dan diberikan kehidupan yang nyaman, mana mungkin dia bisa meminta lebih dari Kenan.


Karena bosan, Rengganis akhirnya memutuskan untuk pergi berjalan-jalan di halaman rumah yang sangat luas itu. Secara tidak sengaja, dia melihat wanita di kursi roda sedang sendiri.


Awalnya dia ragu, tapi dengan memberanikan diri Rengganis menghampiri wanita itu.


"Permisi." Rengganis menyapa. Wanita itu menoleh.


Untuk sesaat Rengganis terkesima. Dia terdiam membeku entah karena apa. Tatapan wanita itu membuat Rengganis merasa sulit bergerak meski hanya untuk menarik nafasnya.


Cantik, dia sangat cantik.


Wanita itu tersenyum. Rengganis berjalan memutar agar dia bisa berdiri di hadapan wanita itu. Kasian jika dia harus menoleh ke belakang terus-menerus.


"Hai, Tante. Maaf ya, ganggu. Tante sedang apa sendiri di sini?" tanya Rengganis. Wanita itu hanya diam sambil menatap Rengganis tanpa kedip.


Rengganis membungkuk.


Mungkinkah dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya?


"Rengganis, Tante." Rengganis mengambil tangan wanita itu lalu dia genggam.


Ada apa dengannya? Kenapa dia menatapku seperti itu? Tanya Rengganis dalam hati melihat wanita itu hanya menatap tanpa melakukan apa-apa.


"Ma ...."


Ayah kenan datang menghampiri. Dia membawa obat dan juga air minum.


Banyaknya pelayan di rumah ini, kenapa harus membawa minum dan obat sendiri. Kenapa gak nyuruh aja. Gumam Rengganis.


"Sedang apa kamu di sini?" tanya pria itu.


"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya lagi saat melihat Rengganis sedang menggenggam tangan istrinya.


"Lepaskan."


Rengganis terkejut, lalu dia menarik tangannya. Sesuatu terjadi, tangan wanita itu menarik tangan Rengganis agar tidak menjauh.

__ADS_1


"Ma ...?"


Rengganis semakin bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ditambah lagi dengan papa Kenan yang menangis. Dia berlutut. Minum dan obat yang dia bawapun disimpannya begitu saja.


"Kamu apakan istri saya?" tanya pria itu sambil berdiri dan menatap Rengganis.


"Pak, sungguh. Saya ti-tidak melakukan apapun. Saya--"


"Terimakasih."


Rengganis membelalakkan mata saat ayah kenan memeluknya begitu erat.


"Terimakasih," ucapnya untuk yang kesekian kalinya sambil menangis. Ada ketulusan Yaang sangat besar yang Rengganis rasakan dalam tangisan pria itu.


Begitu besarkah cinta pria ini untuk istrinya yang tidak bisa apa-apa. Sungguh, aku iri.


...***...


Kenan hanya menatap Rengganis meminta kepastian pada apa yang dibicarakan papa nya.


"Aku mau, Kenan. Ketimbang hanya diam bengang bengong gak jelas di sini, lebih baik aku merawat ibu kamu. Papa kamu harus konsentrasi bekerja. Jadi, biarkan aku yang menjaga ibu kamu, ya? Aku mohon."


"Tapi, Pa. Dia tamuku. Masa madu dipekerjakan?"


"Kenan, anggap saja aku bukan sedang bekerja. Tapi ... Emmm, anggap saja kalau aku--"


"Anggap saja dia sedang berbakti."


"Berbakti?" Kenan tidak mengerti.


"Begini, Kenan. Papa melihat akhir-akhir ini kamu seperti putra papa yang dulu. Kamu kembali ceria dan tidak kaku. Tawa kamu kembali terdengar setelah sekian lama hilang, dan itu berkat Rengganis. Papa sudah putuskan akan merestui hubungan kalian."


"Tapi, Pa."


"Papa tau, Rengganis adalah anak seorang narapidana. Dia berasal dari keluarga miskin, papa tau semuanya dan papa tidak peduli. Karena nyatanya dia membuat kamu bahagia dan lihat ... Dia membawa keajaiban untuk mama kamu."


"Papa salah faham. Pa, Rengganis ini kekasihnya Singha, anak Om Yudistira. Rengganis aku bawa ke sini karena dia tidak direstui oleh Tante Maria. Rengganis tidak punya tempat tinggal, makanya --"


"Bagus dong." Ayah kenan kembali memotong pembicaraan anaknya.


"Bagus apanya?"


"Kamu ambil saja Rengganis dari Singha. Bukan salah kamu jika itu terjadi, Maria lah yang tidak mau merestui mereka. Apa yang salah? Toh mereka belum menikah. Masih pacaran sih papa rasa wajar merebut kekasih orang."

__ADS_1


"Apa?" Kenan tidak percaya dengan apa yang baru saja papa nya katakan.


__ADS_2