
"Bagaimana bisa?" tanya Anggara terkejut saat mendapatkan laporan jika proyek yang dia jalani, gagal. Milyaran rupiah sudah keluar, dan hasilnya sangat mengecewakan.
"Sudah hampir satu tahun aku memulai proyek ini, tapi kenapa gagal di seleksi penawaran harga? Bukankah pak Ramon sudah menyetujui jika pihak kita akan menang?" tanya Anggara kesal pada anak buahnya yang menjadi kepercayaan Bu Sari sejak lama.
"Saya sudah melakukan yang terbaik, Pak. Hanya saja ...."
"Hany apa? apa karena yang kamu layani bukan ibu saya?"
Brakk! Anggara mengebrak meja hingga kopi yang ada di cangkir menyiprat ke mana-mana.
"PT. Guna Jaya memenangkan proyek itu, Pak?"
"Apa?"
"Pak Nugraha sengaja menggunakan kekuasaannya untuk mengambil alih proyek yang sudah kita rencanakan selama ini."
Anggara memegang kepalanya yang terasa berat. Amarahnya semakin membuncah, namun bukan hal yang benar jika dia harus melampiaskannya pada orang yang salah.
"Pergilah."
"Baik, Pak." Mereka para pemegang saham dan penanggung jawab proyek tersebut keluar dari ruangan Anggara.
"Pak Nugraha? apa yang sebenarnya terjadi? Untuk apa dia ikut campur pada bisnis kecil seperti ini?" Anggara menjambak rambutnya dengan kasar.
Melihat berkas-berkas yang ada di hadapannya, juga rencana pembangunan proyek yang dia incar, membuat Anggara begitu murka karena harus menerima kenyataan jika proyek itu tidak dia dapatkan.
Dia berteriak sembari melempar semua barang-barang yang ada di atas meja kerjanya.
Malam hari pukul 21.45 wib
Tidak ada kabar, pulang larut tidak seperti biasanya membuat sang istri kesal. Dia berdiri di depan pintu dengan tangan menyilang di dada.
Sungguh tidak sesuai harapan. Anggap ingin sesampainya di rumah dia merasa tenang.
"Kenapa ponsel kamu tidak digunakan dengan baik dan benar. Aku telpon tapi tidak diangkat, aku kirim pesan tapi tidak dibalas. Aku telpon ke kantor tapi kamu malah tidak mau menerimanya. Kenapa? Apa setelah bertemu dengan wanita itu di pesta Amara hati kamu kembali goyah? Hah!"
__ADS_1
Anggara menarik nafas berusaha mengendalikan emosi yang sejak tadi menguasai dirinya.
"Kenapa diam? Jawab! Apa aku benar? Apa kamu kembali goyah karena Sekar dia semakin cantik dan menawan, sementara aku? aku menjadi kendor setelah melahirkannya. Payudaraku seperti pepaya karena menyusui. Perut dan pahaku penuh selulit, bahkan berat badanku pun susah untuk diturunkan. Kamu mulai bosan padaku bukan?"
"Ya!" Angga berteriak begitu kencang.
Santika membelalak mendengar ucapan suaminya.
"Aku bosan karena kamu selalu saja membahas fisik kamu yang berubah banyak. Meski aku sudah bilang ... Aku tidak peduli. Aku tidak akan mempermasalahkan itu karena itu terjadi pun demi anak kita. Tapi kamu ... Ah, benar. Aku rasa kamu menyesal bukan karena melahirkan mereka?"
"Sembarangan! Jangan asal bicara kamu, Anggara! Aku bahkan hampir mati karena mereka berdua!"
"Kamu menyalahkan anak-anak? Inget, Santika. Kamu hampir mati karena ulah kamu sendiri. Jika saja kamu tidak memperlakukan Rengganis ...."
"Rengganis .... Rengganis ... Rengganis ... Kenapa kamu selalu membela dia? Kenapa kamu tidak melupakan dia bahkan demi anak kita sendiri. Apa hebatnya wanita itu?" Santika mulai frustasi. Dia histeris.
"Kamu bertanya apa hebatnya dia? Huh? Aku beritahu. Karena dia adalah putri Nugraha. Nugraha yang bisa melakukan apa saja di dunia ini. Bahkan, dia mengambil proyekku begitu saja padahal aku sudah mengeluarkan dana milyaran untuk itu!" Suara Anggara begitu keras hingga terdengar ke halam depan, meski rumah itu begitu luas.
"A-apa maksud kamu?" tanya Santika mulai cemas.
"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Nugraha ... Dia mengambil proyekku, Santika. Nugraha pengusaha sukses tidak pernah mengganggu orang lain jika dia tidak punya tujuan. Proyekku? Bagi dia itu hanya proyek receh yang tidak akan menarik minatnya. Tapi sekarang ...."
"Maksud kamu, dia menghancurkan bisnis kamu karena Rengganis?"
"Lalu apa lagi? Putri kesayangannya yang telah lama hilang itu dipermalukan oleh keluarga kamu dan kamu. Lihat? Inilah hasilnya."
Santika tidak terima dijadikan kambing hitam atas apa yang terjadi pada Anggara.
"Aku? Kenapa aku yang salah? Jelas itu karena kamu yang telah menyakitinya. Kamu mencerna dia demi aku. Rengganis terluka karena cintanya kamu permainkan! Aku? Lalu kamu hanya mengalahkan aku? Yang benar saja!"
Santika pergi begitu saja meninggalkan Anggara yang masih duduk berlutut di atas lantai.
"Rumah ini menjadi jaminan pinjaman aku ke bank."
__ADS_1
Langkah wanita itu terhenti. Dia memejamkan mata sambil mengepalkan tangan. Lalu kembali pergi ke kamarnya.
Anggara mengusap wajahnya dengan kasar. Pikirkan kacau balau. Jika dia tidak segera melunasi pinjamannya, maka rumah ini akan disita.
Berusaha bangun dengan sisa tenaga yang ada, Anggara duduk di sofa tempat di mana Rengganis dulu tertidur karena menolak tidur di kamarnya. Anggara tersenyum ... Lalu senyuman itu berubah menjadi ekspresi kebencian.
Mata Anggara terbuka setelah mendengar suara kaki melangkah dan roda yang berputar.
"Ada apa ini?" tanya Anggara saat melihat Santika membawa koper, dua stroller bayi dan suster yang menjaga anak-anak mereka.
"Kamu pikir, jika rumah ini disita. Kita mau tinggal di mana? Sebelum dipermalukan karena kita diusir, lebih baik pergi dan tinggal di rumah orang tuaku."
"Sa-sayang, tunggu sebentar. Aku masih akan mencari cara lain untuk menyelesaikan semua ini, ya. Aku butuh kamu untuk menguatkan langkah dan hatiku. Jangan pergi."
"Anggara, kalau kamu menyayangi anak-anak kita, maka biarkan kami tinggal dengan tenang di rumah orang tuaku. Kami bisa tidur tanpa terganggu dengan ketakutan kapan kami akan diusir. Lebih baik kamu juga ikut kami."
Anggara terdiam. Dia tidak menyangka Santika akan melakukan hal ini di saat dia sedang terpuruk.
"Ayo, tunggu apa lagi? Keburu tengah malam."
"Aku akan antar, tapi tidak akan ikut tinggal bersama kalian di sana," jawab Anggara lemas.
Mendengarkan dengan seksama tanpa membalas ucapan Santika meski dia sangat ingin. Wanita itu terus saja mengomel sepanjang perjalanan. Dia menyalahkan Anggara dan juga Rengganis yang begitu tega membuat keluarganya seperti sekarang.
"Ada apa?" tanya Budiono. Dia melihat jam dinding yang menunjukkan jika saat ini sudah hampir lewat tengah malam.
"Pi, aku dan anak-anak tinggal di sini sementara. Jangan bertanya kenapa karena aku sangat lelah. Kita bicara besok. Bi, ayo bawa anak-anak ke kamar."
Santika pergi begitu saja bahkan tanpa berpamitan pada suaminya.
"Kenapa Santika begitu keras kepala sampai keukeuh ingin menikah denganmu?" gumamnya sambil berlalu.
Anggara masih berdiri saat mereka sudah pergi beberapa waktu yang lalu. Harga dirinya terluka sudah. Dia yang berpikir jika Santika begitu mencintainya, kini dia sadar jika dia hanya obsesi bagi Santika. Dia tidak suka apa yang menjadi miliknya direbut orang lain.
Pria itu pergi dengan luka yang menganga di dada.
__ADS_1