Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Desa


__ADS_3

Amara tak hentinya menangis saat koper dan barang-barang Rengganis sudah siap untuk dibawa pergi.


Sementara Anggara hanya diam sambil duduk.


"Sebelum aku pergi, aku ingin memastikan jika kamu memaafkan aku, Mas."


"Lupakan saja."


Hati Rengganis nyeri mendengar ucapan mantan suaminya. Rengganis tersenyum getir.


"Mba, aku akan menikah. Bisakah tunda kepergian mba sampai saat itu? Aku ingin Mba dan kakak yang menjadi pengganti orang tuaku, aku mohon. Mba ... Kak .... Bisakah kalian meredam ego kalian demi aku?"


"Aku minta maaf, Ra." Rengganis mengusap wajah Amara yang sudah begitu basah karena air mata.


Anggara mengepalkan tangannya, berusaha menguatkan hati.


"Ini." Rengganis memberikan sertifikat rumah dan perusahaan, serta berkas-berkas lainnya.


"Tugasku selesai sampai di sini. Dulu, ibu pernah meminta aku untuk menyimpan dan mengamankan aset berharganya. Jika aku dan kamu berpisah, maka aku harus mengembalikan ini pada kalian." Rengganis memberikan berkas itu pada Anggara, dia simpan di atas meja.


"Tugasku selesai sampai di sini. Aku sangat bersyukur dan berterimakasih karena pernah menjadi bagian dari keluarga ini. Terutama kamu, Mas."


Anggara memalingkan wajahnya karena tidak ingin matanya yang sudah basah terlihat oleh Rengganis.


"Aku pergi."


"Mba, mba mau ke mana? Mau ke kampung?" tanya Amara.


Rengganis menggelengkan kepala, "Bukan. Aku akan pergi ke tempat di mana tidak ada orang yang mengenalku. Kau ingin memulai semuanya dari awal."


"Apa itu artinya aku tidak bisa bertemu dengan mba lagi?"


"Aku akan datang jika sudah menjadi jiwa yang baru."


Rengganis berdiri, dia mulai mengambil tas dan kopernya.


"Mba ...."


Rengganis tersenyum. "Jaga diri kamu baik-baik, Ra."


Amara berdiri mematung melihat kepergian Rengganis.


"Aku tidak punya teman, tidak punya keluarga dan orang tua. Satu-satunya orang yang mengerti tentang aku pun sudah pergi. Apa kakak senang?" tanya Amara sambil membelakangi Anggara. Begitu dia menoleh, dia sangat terkejut melihat Anggara.


"Kak?"

__ADS_1


"Aku harus bagaimana? Jika aku mempertahankan dia, maka dia akan semakin terluka. Aku tidak ingin dia pergi, aku mencintai dia. Aku sangat mencintai dia, Amara ... Aku harus bagaimana sekarang?"


"Kakak ...." Amara memeluk yang sedang menangis karena kepergian istrinya.


"Aku tidak bisa membiarkan dia terus di sisiku, Santika hamil, aku harus bertanggung jawab. Itu akan semakin menyakitkan hatinya, Ra. Singha mencintai Rengganis begitu dalam, aku pikir itu akan jauh lebih baik karena dia akan dicintai. Bukan disakiti seperti yang dilakukan olehku. Tapi ... tapi sekarang aku merasa tidak bisa bernafas, Amara. Dadaku sesak."


Amara memeluk Anggara dan mereka pun menangis bersamaan.


//Singha ... Aku pergi. Aku berdoa agar kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Terimakasih atas semua yang kamu berikan selama ini. Entah bagaimana aku bisa membalasnya karena apa yang kamu inginkan tidak bisa aku berikan. Jangan menunggu, Singha. Aku tidak akan pernah kembali.//


Singha melemparkan ponselnya hingga hancur tidak karuan.


"Dad ...."


Singha terkejut saat Marsha tiba-tiba muncul tanpa dia sadari.


"Are you oke?"


"Baby ...." Pertanyaan Marsha mampu meluruhkan air mata yang sejak tadi dia bendung.


"I'am sorry. Dad tidak bisa menepati janji."


Marsha mendekati Singha. Tangan kecilnya membelai wajah Singha yang terlihat memerah akibat marah dan sedih bercampur jadi satu.


"Ada apa ribut-ribut?" tanya seorang pria yang memiliki suara barriton.



Pelayan pun datang


"Bersihkan ini, jangan sampai melukai kaki cucu saya."


"Baik, Tuan."


"Kakek." Marsha menghampiri Yudistira, ayah Singha.


"Jika ada masalah, jangan menunjukkan nya di depan anak-anak," ujarnya sambil menggendong Marsha pergi dari sana.


Anak kecil itu melambaikan tangan pada Singha. Singha tersenyum.


"Maafkan aku," ucap Singha pada pelayan yang sedang membersihkan ponsel dan kaca yang berserakan.


...***...


"Rengganis, ibu minta maaf karena melibatkan kamu ke dalam kehidupan keluarga yang kacau ini. Jika suatu saat kamu berpisah dengan anak ibu, jangan kembali ke kampung itu lagi. Ibu takut bapak kamu keluar dari penjara dan akan memukul kamu seperti dulu. Pergilah ke alamat ini, dan bawa juga tabungan ini untuk kamu bertahan di sana."

__ADS_1


"Ini apa, Bu?"


"Itu rumah saya. Tidak besar tapi cukup luas untuk kamu tempati. Kamu suka udara sejuk bukan? Di sana itu dataran pegunungan, jadi kamu akan nyaman tinggal di sana."



"Ibu, aku sudah sampai. Apa ini rumah kecil yang ibu maksud? Ibu tau, ini adalah surga kecil bagiku. Terimakasih, Bu." Rengganis bergumam saat dia tengah berdiri di depan rumah yang dulu diceritakan Bu Sari.


Dengan mata yang berlinang, Rengganis menapaki jalan setapak menuju rumahny. Udaranya sangat sejuk, hangatnya sinar matahari membuat Rengganis merasa sangat nyaman.


"Aaah, ini pasti anaknya Bu Sari kan ya?" tanya seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik tumbuh yang ada di dekat rumah. Rengganis terkejut.


"Saya Emi. Saya yang merawat rumah ini. Dulu Bu Sari meminta saya merawat rumah ini sampai anaknya datang. Mari, masuk. Saya tunjukkan rumahnya."


Rengganis tersenyum sambil mengangguk. Dia mengikuti wanita itu masuk ke dalam rumahnya.


Emi adalah seorang wanita dengan usia hampir menginjak 50 tahun. dia adalah warga yang tinggal paling dekat dengan rumah Rengganis kini. Dia yang merawat rumah Bu Sari beserta kebun dan kolam ikan yang ada di sana.


"Kamarnya ada dua, Neng. Semuanya besar dan lengkap dengan kamar mandi. Ada air panas juga buat mandi. Tapi saya belum pernah membuka kamar itu."


"Tapi kok tau isinya?"


"Bu Sari yang cerita. Saya di sini hanya memberikan perabotan. Kalau ibu ke sini, baru dia yang beres-beres kamar, tapi sudah lama gak ke sini. Eh, neng datang."


"Ibu gak tau?"


"Tau apa?"


"Ibu saya sudah meninggal."


Wanita itu mematung. Mulutnya hendak berkata tapi sepertinya membeku. Matanya berlinang hingga air mata itu turun perlahan.


"Kapan, Neng?" Akhirnya dia bisa berbicara.


"Sudah lama."


"Sakit?"


Rengganis mengangguk.


"Dia itu orang baik, Neng. Kalau bukan karena dia, saya mungkin tidak bisa mendapatkan kehidupan yang layak. Kalau bukan karena dia, anak saya sudah lama putus sekolah."


Ya, Bu Sari memang sangat baik.


"Neng, pokoknya kalau ada apa-apa katakan saja. Saya dan suami saya akan menjaga neng dengan baik. Kami akan membantu neng, neng jangan khawatir."

__ADS_1


Bu, lihatlah. Kebaikan ibu masih dirasakan oleh kami yang masih hidup. Ibu bahkan membuat aku tidak sendirian di dunia ini. Ibu, terimakasih dan maaf karena tidak bisa menjaga Amara dan Mas Anggara lebih lama. Pada akhirnya mas Anggara memilih cintanya.


__ADS_2