Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
Menyusun rencana baru


__ADS_3

"Ada apa denganmu, Maria? Lihat, karena sikap kamu Singha pergi dan marah." Oma mencak-mencak pada menantunya.


"Bu ... Bayangkan jika Rengganis jadi menantuku, bagaimana saat nanti ada acara keluarga? Mereka akan sering bertemu. Baik Singha ataupun Santika, mereka pasti akan menjaga jarak satu sama lain. Belum lagi kata orang. Masa mantan suami dan mantan istri menjadi menantu kita semua?"


"Lupakan dulu ucapan orang, pikiran saja dulu kebahagiaan anak kamu."


"Justru itu. Aku memikirkan kebahagiaan Singha. Kita tidak tahu bagaimana perasaan mereka berdua jika sering bertemu. Oke lah, mereka tidak memiliki perasaan satu sama lain, tapi yang namanya keluarga pasti akan sering berkomunikasi, satu berinteraksi. Ibu tidak berpikir itu akan membuat Singha tidak nyaman? Dia akan terus-menerus makan ati, Bu. Atau ... Ibu mau Singha kita suruh tinggal di luar negeri?"


"Ngaco kamu!"


Oma mulai sedikit tenang. Dia kembali duduk setelah mendengar penjelasan dari menantunya. Masuk akal dan bisa dipahami.


"Lalu apa yang harus kita lakukan? Singha akan jauh lebih tersakiti jika kita tidak menyetujui pernikahan mereka."


"Konyol sih, tapi aku memiliki ide untuk memvalidasi perasaan Rengganis dan mantan suaminya." Yudistira memberi pendapat.


"Caranya?"


"Biar aku yang urus. Intinya kita hanya harus memastikan jika perasaan mereka sudah hilang satu sama lain. Itu saja bukan?"


Oma dan Maria saling menatap.


...***...


"Ke mana kita harus mencari kakak?" Izza kebingungan. Dia sudah bertanya pada semua teman dan kerabat tapi tidak ada yang tahu di mana keberadaan Singha.


"Aku tahu tempat di mana Singha berada."


"Di mana?"


Rengganis menundukkan jalan ke mana Izza harus mengarahkan stir mobilnya.


Kini, mereka berada di depan pintu. Rengganis mencoba memencet bel beberapa kali tapi tidak ada jawaban.


"Ini apartemen siapa?"


"Singha."


"Singha punya apartemen?"


"Ya kalau bukan punya dia, mana berani aku ke sini. Ngapain coba kita bertamu pada orang yang gak dikenal. Gabut banget."

__ADS_1


Pintu dibuka. Singha muncul dari dalam sana.


"Hanya kamu yang boleh masuk," ucap Singha menatap Rengganis tanpa mempedulikan Izza.


Rengganis menoleh pada Izza, pria itu mengangguk tanda setuju jika hanya Rengganis yang masuk ke dalam.


Rengganis masuk.


Tidak ada yang berubah dari tempat itu. Semua masih sama seperti saat dulu dia ke sana. Rengganis menyimpan tas nya. Dia pergi ke dapur untuk membuat cokelat panas.


"Suasananya masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah."


Singha tidak merespon.


"Tadi Marsha menangis saat kamu pergi, apa kamu tidak mendengar?"


Singha masih diam.


"Apa foto wanita yang ada di laci itu ibunya Marsha."


Singha langsung menoleh. Rengganis tersenyum. Akhirnya Singha mulai merespon. Wanita itu menyimpan gelasnya ke atas meja.


"Semua orang bilang begitu."


"Seperti apa wanita itu? Sepertinya dia wanita baik. Matanya teduh dan tentu saja dia sangat cantik."


Singha menghela nafas dalam.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Mami menolak, aku memaksa, tapi kamu malah berpihak pada mami."


"Karena aku bisa mengerti kenapa mami seperti itu. Dia hanya seorang ibu yang mencintai anaknya. Itu tidak salah."


"Mencintai tapi memaksakan kehendak."


"Mencintai pun tidak harus selalu berkata 'iya' bukan?"


"Kita memang berbeda. Aku mencintaimu begitu dalam, tapi kamu mencintaiku atau tidak pun aku tidak tahu. Itulah kenapa hanya aku yang berjuang di sini."


Rengganis tersenyum. Dia menyandarkan kepalanya pada Singha.


"Dulu ... Saat aku kecil, aku selalu mendapatkan perlakuan kasar dari bapak. Hidupku seperti neraka. Bekerja tapi tidak pernah merasakan hasilnya. Saat Anggara datang dan memberikan kebaikan, salahkah jika aku terpesona padanya?"

__ADS_1


"Cih!" Singha memalingkan pandangannya.


"Duniaku menjadi sepenuhnya dipenuhi olehnya. Dia bagaikan malaikat penolong untukku. Aku yang tidak pernah tahu apa itu cinta, bagaimana rasanya jatuh cinta, hanya fokus pada Anggara. Aku bahkan menerima semua sikap yang dia berikan meski kadang hatiku seperti diiris-iris."


"Kamu sedang bercerita betapa besar raaaa cinta kamu padanya?"


"Tapi semua menjadi goyah saat kita bertemu."


Singha melirik Rengganis.


"Perasaan saat bertemu dengan Anggara dan saat bertemu denganmu sangatlah berbeda. Aku begitu bahagia saat bersama Anggara, tapi tidak pernah merasa sedih saat jauh dengannya. Tapi ... Aku merasa gelisah saat kita tidak bertemu. Aku sendir merasa heran dan malu pada diri sendiri. Bagaimana bisa seorang perempuan yang bersuami merindukan pria lain yang baru dia temu satu kali."


Rengganis menggandeng tangan Singha. Kepalanya masih bersandar.


"Sedih saat berpisah dengan Anggara, tapi sakit saat berpisah denganmu. Aku bahkan ingin menangis karena bahagia saat pertemuan kita di kedua kalinya."


"Lalu kenapa kamu berpihak pada mami? Ayo kita berjuang bersama untuk mendapatkan restu mami."


Rengganis kembali duduk tegak. Mereka akhirnya bisa saling menatap.


"Jangan menolak apa yang ibu kamu inginkan, Singha. Lebih sakit kehilangan seorang ibu ketimbang kehilangan pasangan. Kamu ditinggal istri, bisa mencintai aku. Tapi ke mana kamu bisa mencari kasih sayang mami jika dia tidak ada?"


Pupil Singha melebar.


"Kita jangan melawan orang tua kamu, Singha. Kita hanya harus percaya pada takdir. Jika memang kita ditakdirkan bersama, maka tidak ada satu orang pun yang bisa menghalangi. Tapi jika kita ditakdirkan untuk tidak bersama, maka sekuat apapun kita berusaha, tetap tidak akan pernah bersatu."


"Bicara memang mudah, tapi kita akan sulit melakukan itu semua."


"Mami hanya tidak mengizinkan kita menikah untuk saat ini, tapi bukan berarti kita tidak bisa bertemu bukan? Kita masih bisa saling berhubungan sampai pada titik takdir yang berbicara. Bersama atau berpisah."


Singha tersenyum.


"Kamu jauh lebih muda dariku, tapi kamu sangat dewasa dan bijaksana."


"Karena aku didewasakan oleh keadaan."


"Aku akan berusaha agar mami bisa merestui hubungan kita. Aku tidak akan membuat kamu menangis lagi. Aku janji."


Rengganis tersenyum sambil mengangguk bahagia.


Wanita itu kembali menggandeng tangan Singha, lalu menyandarkan kepalanya pada pria itu.

__ADS_1


__ADS_2