Hasrat Sesaat

Hasrat Sesaat
gemuk


__ADS_3

"Mau bantu aku keringkan?" tanya Singha meledek. Rengganis melirik kesal. Singha tertawa.


Setelah sepekan 'berpuasa', Singha tidak memberikan jeda pada Rengganis. Kering, basah, kering, basah.


Bukan yang pertama untuk keduanya. Baik Singha maupun Rengganis sama-sama pernah merasakan sebuah pernikahan sebelumnya. Namun, pernikahan kali ini terasa berbeda untuk keduanya.


Hubungan Singha dan Rengganis begitu harmonis. Meski hampir setiap pagi harus keramas, tapi Rengganis merasa bahagia.


Menyiapkan keperluan suami sebelum berangkat kerja. Menyiapkan sarapan langsung dengan tangannya sendiri meski ada banyak pelayan di rumah Nugraha. Ya, mereka tinggal di rumah Nugraha karena Kenan sudah tidak lagi bersama mereka, sementara masih ada Izza di rumah Maria.


Berbincang kecil sambil mengantar suami ke depan adalah hal yang paling membahagiakan bagi Rengganis. Dia akan melambaikan tangan dengan iringan doa untuk mengantar kepergian Singha mencari nafkah.


"Ini." Rengganis memberikan semua fasilitas yang diberikan Nugraha untuknya.


"Apa ini?"


"Pa, mulai sekarang aku ingin hidup dengan uang pemberian suami. Aku ingin Singha yang benar-benar memenuhi semua kebutuhanku. Jadi, aku kembalikan ini pada papa."


"Apa harus begitu?"


"Iya, Pa. Nanti papa berikan ini semua untuk anak aku aja ya. Hehehe," ucap Rengganis dua hari yang telah lalu pada Nugraha.


Kini, Rengganis memiliki mobil, ATM dan kredit card dari Singha. Dia begitu senang membelanjakan dan jajan ini itu uang hasil suaminya. Kebahagiaannya berbeda. Dia juga merasa ada kebanggaan tersendiri memakainya.


"Minta uang," rengek Rengganis. Singha tersenyum sambil meletakkan sisir.


Dia mengambil dompetnya, lalu memberikan beberapa lembar uang kertas merah dan biru pada istrinya.


"Kamu itu kenapa sih, Sayang? Uangku kamu yang pegang. Masih aja tiap pagi aku dipalak."


Begitulah Rengganis. Setiap hari akan meminta uang pada Singha untuknya pergi belanja atau jajan di mini market.


Saat siang hari, dia akan pergi ke mini market terdekat untuk jajan.


"Mungkin dia ingin mengobati luka masa kecilnya, Bro. Ya kita tau sendirilah ya seperti apa dia dahulu," ucap Reyhan saat Singha mencoba meminta pendapat tentang sikap istrinya itu.


Singha membenarkan pendapat Reyhan. Mungkin Rengganis ingin menikmati bagaimana rasanya minta uang pada seseorang yang dia sayangi, lalu dia pergi untuk sekedar membeli es krim. Sejak saat itu, setiap pulang kerja Singha akan menarik uang tunai untuk dia berikan pada istrinya di pagi hari.


Izza bahkan merasa heran saat melihat isi dompet Singha. Izza tau Singha bukan tipe orang yang memegang uang cash dalam jumlah banyak, tapi kini ....


"Tapi ternyata memang ada kepuasan tersendiri setiap gue ngasih duit sama istri gue. Senyum bahagianya membuat gue merasa bahwa mereka gue selama ini tidak sia-sia."


"Lu bahagia, Kak?" tanya Izza saat mereka bertemu dan mengobrol di kantin rumah sakit.


Singha tersenyum malu-malu. "Ada sesuatu yang belum pernah gue rasakan sebelumnya. Kadang, saat kerja pikiran gue gak fokus karena selalu saja ingin segera bertemu dengannya."


"Hadeuuuh, apa dia gak mikir ya kalau gue jomblo," gumam Izza sambil mengusap tengkuknya.

__ADS_1


"Lo pasti akan merasakan gimana rasanya bingung saat mau balik ke rumah."


"Bingung? Kenapa?"


"Bingung mau beli oleh-oleh apa buat dia hari ini. Lo ..." Singha tertawa malu-malu. "Lo gak akan bisa bayangin gimana bahagianya melihat ekspresi dia saat kita pulang kerja bawa makanan. Aneh, tapi itulah Rengganis."


"Bjiiirrrr lah. Haruskah gue menunda pendidikan gue dan kawin aja kali ya."


"Ck! Ya jangan lah, Lo kerja dulu aja cita-cita Lo itu. Lagian Lo belom tentu dapet cewek kayak Rengganis."


"S!alan!"


Singha tertawa sambil mengacak-acak rambutnya adiknya. Lalu pergi.


Izza tertawa sambil menggelengkan kepala. Dia ikut bahagia melihat kebahagiaan yang dirasakan kakaknya.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, Singha selalu melewati jalan di mana setiap sore akan ramai oleh pedagang kaki lima. Dia selalu melihat-lihat penjual yang ramai pembeli karena menurutnya itulah makanan yang paling enak.


Makanan asin, pedas, gurih, manis dan beberapa minuman selalu dia beli untuk Rengganis. Setiap hari, sepulang kerja hingga kini usia pernikahan mereka berjalan hampir tiga bulan.


...***...


Singha duduk di atas kasur sambil menyandarkan kepalanya pada kepala ranjang. Dia membuka laptopnya karena harus mengerjakan kerjaan yang sangat penting. Sesekali dia melirik istrinya yang berdiri di depan cermin.


Sejak tadi Rengganis berdiri sambil memutar badannya ke kiri dan kanan.


"Ini ... Aku kok merasa aneh ya."


"Ada apa?" tanya Singha sambil fokus pada layar laptopnya.


"Ini loh, baju aku kok sempit ya. Enggak, maksud aku kok baju ini gak muat. Kamu lihat deh."


"Masih bagus ah."


"Sayang, liat dulu sebentar."


Singha mengalihkan pandanganya dari laptop pada istrinya agar tidak kena rap dengan kecepatan 250km per jam.


Melihat bentuk Rengganis saat ini, Singha langsung tertawa terbahak-bahak. Rengganis seperti lemper yang di ikat atas, tengah dan bawahnya. Baju yang dia pakai benar-benar terlihat menyesakkan.


"Tuh kan! Kamu ketawa. Aku gendut banget astagaaa."


Singha menutup mulutnya. Meski dia ingin sekali tertawa, tapi Singha sekuat tenaga mengendalikan diri. Dia segera menutup laptopnya, lalu menghampiri istrinya.


"Ini jauh lebih baik, Sayang. Aku suka memeluk kamu dengan tubuh kamu saat ini."


"Berarti dulu enggak?"

__ADS_1


Duh! Salah ngomong.


"Mmm bukan, bukan begitu. Maksudnya sekarang itu lebih berasa aja gitu kalau dipeluk. Lebih berisi dan seksi tau, Sayang."


"Ya itu artinya dulu aku gak seksi ya kan?"


Jawab apa ya harusnya?


"Dengar, istriku." Singha membalikan tubuh Rengganis agar mereka saling berhadapan.


"Dulu ataupun sekarang, di mataku kamu tidak ada bedanya. Kurus atau gemuk bukan masalah besar bagiku. Aku tetap cinta dan sayang sama kamu, kamu tetap cantik bagiku."


"Tapi kata Reyhan aku gemuk," rengek Rengganis.


"Jadi, kamu lebih mementingkan penilaian Rey daripada aku suami kamu sendiri."


"Enggak, bukan itu maksudnya."


Kesempatan gue buat balas dendam.


"Buktinya kamu masih sedih meski aku bilang kamu cantik hanya gara-gara Rey bilang kamu gendut."


"Maksud aku itu--"


"Jadi, selama ini kamu mempercantik diri buka untuk aku tapi untuk Reyhan?"


"Enggak--"


"Kamu takut terlihat jelek di mata Reyhan?"


Rengganis mengerutkan keningnya. "Loh, kenapa kamu sih jadinya yang marah!"


Pria itu tersenyum, lalu memeluk istrinya dengan erat. Singha membelai kepala Rengganis dengan lembut.


"Jangan memikirkan perkataan orang lain. Itu hanya akan membuat kamu sakit. Hidup kamu akan sulit jika memikirkan ucapan orang lain. Berbahagialah untuk dirimu sendiri, bukan untuk orang lain. Tugas kita bukan untuk membahagiakan semua orang, oke."


Rengganis mengangguk.


"Yang harus kita pikirkan saat ini adalah ... Bikin dedek bayi."


Rengganis tertawa.


Trakkkk!


Lampu kamar pun dipadamkan.


...****...

__ADS_1


Eitsssss, pembaca dilarang nonton ya. Takut adek bayinya gak jadi. ;-)


__ADS_2